
Rindi terdiam, dia masih belum percaya apa yang didengarnya. Apakah Elin benar bersungguh-sungguh dengan ucapannya?
"Kenapa kamu diam saja Rindi? Apakah kamu tidak bersedia?" tanya Elin menatap Rindi ingin meminta penjelasan.
"Aku bersedia, tapi Mbak Elin..."
Elin menukar posisi duduknya, dia duduk disisi Rindi. "Rindi, aku tahu kamu adalah wanita yang baik. Dan aku menyadari bahwa diriku masih banyak kekurangan sebagai seorang istri. Aku memang tidak bisa meninggalkan karirku hanya untuk fokus dengan suamiku sendiri. Maka, aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Mas Arfan. Mulai sekarang ikutlah kemanapun Mas Arfan bertugas. Jujur aku memang tidak bisa melakukan hal itu, dan aku percaya kamu pasti bisa Rindi. Jangan meragukan ucapanku, sungguh aku ikhlas berbagi suami denganmu."
Elin menggengam tangan Rindi, terlihat manik matanya menggambarkan ketulusan. Rindi yang semula ragu akhirnya bisa bernafas lega.
"Terimakasih, Mbak, terimakasih atas ketulusan hati Mbak Elin bisa menerima aku sebagai madumu. insyaAllah aku akan ikut kemanapun Mas Arfan bertugas."
Adik dan kakak madu itu saling berpelukan. Arfan tak bisa berkata-kata, dihatinya sungguh merasa bahagia yang tiada tara. Dalam hati dia berdo'a kepada Rabb-Nya,
Ya Allah, jadikan aku imam yang baik untuk kedua Istriku. Tanamkan sikap adil dalam hatiku agar kedua Istriku tidak merasa tersakiti. Jaga selalu hubungan mereka ya Rabb.
Rindi tak kuasa menahan air matanya, masih terasa mimpi jika Elin bisa berlapang dada menerima kehadirannya. Wanita itu selalu mengucapkan syukur kepada Allah, dan berharap hubungan mereka berjalan baik-baik saja.
"Sudah, kamu tidak perlu merasa bersalah lagi. Besok kamu dan Mas Arfan uruslah dokumen nikah, agar sah secara hukum. Mulai sekarang kamu juga mempunyai hak atas diri Mas Arfan."
Kembali Rindi tak bisa menahan haru. Dia kembali memeluk Elin. "Mbak sekali lagi terimakasih, terimakasih atas kebesaran hati Mbak Elin. Semoga hubungan kita seperti ini selamanya. Jika ada suatu saat nanti sikapku yang tak berkenan di hati Mbak. Tolong tegur aku Mbak. Aku hanya wanita biasa, terkadang tak lepas dari khilaf dan dosa. Anggaplah aku sebagai adikmu Mbak. Aku akan menerima segala nasehat darimu."
Elin membalas pelukan Rindi, dia juga tak kuasa menahan air mata. Elin mengangguk. "Ya, Dek, Mbak juga sama. Selama kita hidup, masalah pasti ada, aku juga berharap agar kita bisa menyelesaikan masalah itu dengan hati dingin tanpa gegabah mengambil keputusan."
"Daddy sangat bangga mempunyai menantu seperti kalian. Daddy berharap kebahagiaan selalu menyertai keluarga kalian."
Daddy Yoga ikut menimpali ucapan kedua menantu wanitanya. Mereka ikut bahagia melihat kedua wanita itu saling menerima.
__ADS_1
"Sungguh Mama bahagia Nak, walaupun Mama tidak pernah merasakan hidup dimadu, tapi Mama sangat bangga bisa melihat kalian ikhlas menerima, Mama tahu ini tidak mudah, butuh keikhlasan hati yang luas. Semoga Allah membalas syurga nantinya."
Mama Zahra duduk di tengah-tengah kedua menantunya, dan memeluk mereka sembari mengecup puncak kepalanya.
"Arfan, Daddy harap kamu bisa bersikap adil kepada kedua istrimu. Berpoligami bukanlah perkara yang mudah. Jika kamu mampu menuntun Istri-istrimu, dan mereka nyaman tidak merasa terzolimi, maka insyaallah surga tempat kalian."
Daddy memberi wejangan pada putra satu-satunya agar Arfan berlaku adil pada istri-istrinya.
"Insya Allah, Dad, aku akan berusaha untuk berlaku adil pada mereka tanpa harus membedakan."
"Elin, Rindi, Mas benar-benar terimakasih atas kebesaran hati kalian untuk bisa menerima dengan ikhlas. Aku juga seorang suami, manakala nya nanti ada diantara kalian merasa kurang nyaman dengan sikapku. Tolong beritahu dimana kesalahanku. insyaAllah aku akan berusaha untuk mengubahnya. Agar kalian tetap nyaman."
Elin dan Rindi hanya mengangguk patuh. Mereka tersenyum bahagia. Begitu juga Sania dan Hanan, mereka juga ikut bahagia.
Hanan menyikut Sania, sembari berbisik. "Dek, sepertinya asyik juga berpoligami. Abang nambah lagi ya," ujar Pria itu berbisik di telinga sang istri.
"Hahaha... Sadis amad, Dek. Mau masuk surga juga nggak? kayak mereka?" tanya Pria itu masih menggoda istrinya.
"Aku bilangin Mama kamu ya Bang. Ma, Daddy, Bang Hanan..."
Hanan segera menutup mulut istrinya dan segera menggandeng Sania untuk beranjak. "Kami pamit, mau cari oleh-oleh dulu ya, soalnya besok sore kami sudah harus balik ke Palembang," ujar Hanan pamit undur dari hadapan mereka.
"Jadi balik besok kamu, Nan?" tanya Arfan pada adik iparnya.
"Iya Bang, lusa sudah mulai tugas. Mari Dad, Ma. Semuanya kami pamit dulu, sekalian mau pamit sama keluargaku."
Akhirnya Pria itu berhasil membawa Sania pergi dari hadapan keluarga istrinya. Niat hati ingin menggoda namun ditanggapi dengan serius oleh istrinya.
__ADS_1
Nia terpaksa ikut meskipun dengan wajah cemberut. Hanan masih tersenyum melihat raut wajah Sania yang kusut.
"Udah, nggak usah cemberut begitu, Sayang. Mana mungkin aku sanggup menduakan dirimu," ujar Hanan saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Alah basi..." Jawab Nia mencibir
"Eh, kok basi? Ini serius, Dek. Mana mungkin itu terjadi. Abang tidak akan pernah menduakan kamu," jelas Hanan sembari ngedusel kepala Nia
"Terkadang ucapan lelaki itu sulit untuk dipercaya. Toh dulu Bang Arfan juga begitu janjinya sama kak Elin." Nia masih terpancing oleh ucapan suaminya, tanpa sadar dia sudah membawa-bawa masalah Abangnya.
"Ya bedalah, Dek, Bang Arfan melakukan hal itu ada alasannya. Kan tadi kita sudah dengar sendiri apa alasannya. Dan Kak Elin mengakui kesalahannya. Kalau kamu, kan nggak begitu. Selagi kamu mau ikut kemanapun aku bertugas, maka hanya kamu satu-satunya wanita yang akan merajai hatiku."
"Ish... Bisa aja kamu, Bang. Ya jelaslah aku akan selalu ikut kemanapun Abang bertugas. Jujur ya Bang, aku belum mampu seperti mereka. Hatiku masih sempit aku belum rela harus berbagi suami."
"Belum, berarti suatu saat nanti ada kemungkinan kamu juga bisa ridho nih?" tanya Hanan kembali, sembari mengerlingkan matanya.
"Abang! Sekali lagi masih bahas itu, aku turun sekarang!" ancam Sania.
"Hahaha... Iya, iya. Dek. Janji nggak bahas itu lagi." Hanan terkekeh dan mencuri kecupan pada istri dan putranya yang ada dalam pelukan Sania.
"Jujur aku salut dengan Kak Elin dan Kak Rindi. Semoga mereka bahagia," ujar Sania. Wanita itu masih kagum melihat kebesaran jiwa kedua kakak iparnya.
"Iya dong. Kalau ingin mencari ridho suami dan mau masuk surga, maka harus begitu. Karena rezeki suami mengalir karena Do'a Istrinya, semakin banyak istri semakin banyak rezeki suami."
"Mulai lagi kamu ya, Bang!" Sania melotot yang membuat Hanan kembali terkekeh.
Bersambung.....
__ADS_1
Happy reading 🥰