Belenggu Cinta Istri Simpanan Tuan Dokter

Belenggu Cinta Istri Simpanan Tuan Dokter
Baikan


__ADS_3

Arfan sedikit terjingkat saat mendengar suara sang istri meninggi, dan lebih parah lagi dirinya disamakan dengan Mira. Pria itu masih terpaku menatap langkah Rindi yang semakin menjauh.


"Eh, Dek, tunggu dulu! Jangan marah dong!" Arfan meraih pergelangan tangan Rindi.


"Mas, lepasin! Aku mau pulang," sentak Rindi.


"Kok pulang, Sayang? Katanya mau makan lontong Bude yang ada di seberang jalan sana?" tanya Arfan yang tidak terima, karena dirinya juga sudah lapar.


"Nggak jadi, Mas, nggak selera lagi untuk makan. Udah kamu aja makan sendiri," balas Rindi masih meneruskan perjalanan.


Arfan hanya menghela nafas dalam. Dia mencoba untuk mengalah, Arfan tahu bahwa mood wanita hamil itu memang sangat mudah berubah-ubah.


Tidak jauh dari kediamannya, Rindi melihat ada tukang sayur yang sedang dikerumuni oleh ibu-ibu kompleks. Rindi segera menghampiri gerobak sayur itu, dia ingin belanja bahan untuk membuat sarapan dirumah.


"Udah pulang maraton Bu Dokter?" tanya salah seorang Ibu.


"Ah, iya Bu," jawab Rindi mengulas senyum ramah.


Setelah memilih bahan-bahan yang diperlukan, Rindi segera membayar pada tukang sayur. Setelah itu Rindi pamit pada ibu-ibu yang masih berada disana.


"Mari, Bu, saya duluan."


"Ah, iya Bu dokter, loh, Pak Dokter ikut juga?" tanya mereka saat melihat Arfan sudah berdiri tidak jauh dari tempat istrinya belanja.

__ADS_1


"Iya, Bu, mari," ujar Arfan ikut menyapa ramah.


"Wah, beruntung banget Bu dokter mempunyai suami seperti Dr Arfan, udah tampan, penyayang banget sama istri. Kalau masih ada stok seperti Dr Arfan, saya pasti mau. Hahaha..."


Ibu-ibu itu tertawa sembari memperhatikan Arfan dari ujung kaki hingga ujung rambut. Maklum saja, Ibu-ibu itu banyak yang ditinggal suami Mandah bekerja jauh diluar kota, jadi ucapannya agak melenceng sedikit.


Rindi dan Arfan saling bertatapan. Tanpa bicara, Rindi meraih tangan Arfan dan membawanya pulang.


"Eh, Dek, santai dong jalannya. Jangan buru-buru begini, Sayang," protes Pria itu yang mengkhawatirkan jika istrinya akan terjatuh karena jalan yang begitu tergesa-gesa.


"Udah ayo lebih cepat, Mas, kamu senang di perhatiin oleh ibu-ibu jablay itu?" tanya Rindi yang membuat Arfan terkekeh.


"Hahaha... Kamu kenapa,sih Dek? Kamu cemburu?"


"Iya, aku cemburu! Puas?" tanya wanita itu sewot.


Rindi menatap Arfan begitu tajam. Rasanya wanita itu ingin sekali menjambak rambut hitam legam sang suami agar tawa senangnya itu memudar.


"Kamu pengen jadi simpanan Tante-tante itu girang itu, Mas?" tanya Rindi yang membuat tawa Arfan semakin pecah.


"Hahahaha.... Udah dong, Dek, udah, perut aku sakit banget nahan ketawa dengar ucapan kamu."


"Ish, benci banget! Sana terus aja kamu tertawa sampai pingsan!" Ujar wanita itu segera beranjak meninggalkan Arfan yang masih tertawa di teras rumah.

__ADS_1


"Eh, jangan gitu dong, dengar dulu Sayang," Arfan mendekap sang istri dari belakang, Pria itu menghujani Rindi dengan kecupan.


"Awas, Mas, aku gerah. Sana kamu tertawa sampai puas. Nggak usah peduliin aku," Rindi masih kesal.


"Udah dong marahnya, Sayang, iya deh, aku minta maaf. Udah jangan marah lagi ya," ujar Arfan masih berusaha membujuk sang istri.


Rindi membalikkan tubuhnya menghadap pada Arfan.Tatapan mereka bertemu, Arfan mengecup bibir Rindi dengan lembut.


"Udah jangan marah-marah lagi ya," ujar Arfan menangkup kedua pipi wanita hamil itu.


Rindi memeluk Arfan begitu erat. "Aku sebel sama kamu, Mas, kamu kesenangan digodain sama Tante-tante," ujar Rindi menyembunyikan wajahnya di dada Arfan.


"Eh, enak aja ngomong begitu. Siapa yang kesenangan. Aku itu hanya lucu melihat wajah cemburu kamu itu. Ya nggak mungkinlah aku senang, karena kamu itu jauh lebih cantik dan lebih dari segalanya," ujar Arfan dengan jujur.


"Benaran?" tanya Rindi.


"Benaran, Dek. Suer, aku tidak bohong sedikitpun."


Rindi merenggangkan pelukannya, lalu menatap Pria itu begitu lekat. "Terimakasih ya, Mas, aku sangat takut kehilangan kamu."


Arfan tersenyum, dia kembali membawa wanita itu dalam dekapannya. "Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, Sayang, aku juga sangat mencintai kamu."


Bersambung...

__ADS_1


Nb. Maaf ya, novel ini slow updated. Karena sekarang author juga sedang sibuk dalam pengobatan sikecil. Terimakasih yang masih setia untuk mengikuti novel ini.


Happy reading 🥰


__ADS_2