Belenggu Cinta Istri Simpanan Tuan Dokter

Belenggu Cinta Istri Simpanan Tuan Dokter
Perubahan Elin


__ADS_3

Enam bulan berlalu. Kini Rindi sudah selesai menjalani masa bimbingan, dan sudah mendapatkan gelar seorang Dokter Sp Patologi anatomi, Rindi juga bertugas di RS yang sama dengan Arfan.


Malam ini Arfan baru saja pulang, Rindi menyambut kepulangan suaminya dengan penuh suka cita, karena ada kabar bahagia yang ingin diberikan oleh sang suami.


"Baru pulang, Mas?" Rindi menyalami tangan Arfan, dengan senyum merekah


"Iya, Sayang, hari ini pasiennya membludak. Kamu kok beda banget malam ini? Kenapa senyum-senyum begitu, hmm?" Arfan mengecup seluruh wajah cantik istrinya.


"Hehe... Ada deh. Ayo mandi dulu, habis itu kita makan, aku udah lapar banget, Mas." Rengek wanita itu sembari mengalungkan tangannya dileher Arfan.


Arfan kembali menghujani wajah istrinya dengan kecupan gemas. "Yaudah aku mandi dulu ya." Pria itu segera membuka seluruh pakaiannya didepan Rindi.


Rindi hanya tersenyum melihat kebiasaan suaminya yang tidak pernah malu memperlihatkan tubuh polosnya didepan sang istri.


Setelah Arfan masuk kamar mandi, Rindi mengambil pakaian kotor yang teronggok dilantai dan memasukkan kedalam keranjang. Setelah itu dia segera menyediakan makan malam di dapur.


Saat Rindi masih menata hidangan diatas meja, Arfan keluar dari kamar dengan pakaian santai. Pria itu berjalan sembari menatap layar ponselnya, berulang kali dia berdecak kesal.


Rindi hanya memperhatikan Arfan sembari fokus dengan hidangannya. Sedikit heran melihat raut wajah sang suami yang tampak sedang kesal pada seseorang.


"Mas, ayo makan dulu." Rindi menyongsong Arfan yang sedang berdiri tidak beberapa jauh dari meja makan. "Kenapa Mas? Kok kelihatannya kamu sedang kesal?" tanya Rindi yang penasaran.


"Nggak tahu, nih Elin dari semalam susah dihubungi. Panggilan aku nggak dijawab. Aku merasa beberapa bulan ini sikap Elin berubah."


"Mungkin perasaan kamu saja, Mas. Ayo kita makan dulu. Jika kamu merasa tidak tenang, luangkan waktu kamu dan pergilah pulang ke Medan, agar tak ada prasangka."


Rindi memberi solusi sembari menggandeng tangan Arfan membawanya menuju meja makan. Arfan hanya mengikuti dan segera duduk.


"Yaudah, besok lusa aku akan ambil cuti dua hari, apakah kamu ingin ikut pulang?" tanya Arfan, Pria itu masih mengamati wajah cantik istrinya yang sedang mengambilkan makan untuknya.


"Kamu saja Mas, aku juga tidak bisa meninggalkan pekerjaanku," ujar Rindi ikut duduk disamping suaminya.

__ADS_1


Saat mereka sedang makan, ponsel Arfan berdering, dia segera melihat siapa penelpon. Arfan tersenyum melihat panggilan dari istri pertamanya.


"Wa'alaikumsalam... Kemana saja Dek? Kenapa sulit sekali dihubungi?"


"Maaf Mas,aku lagi sibuk, ini baru pulang dari RS."


"Mas Arfan?"


"Ya, ada apa Dek?"


Aku ingin bicara padamu. Ini sangat penting. Bisakah kamu meluangkan waktu? Atau aku saja yang datang kesana?


"Baiklah, aku sangat senang sekali jika kamu bisa datang kesini, oke, aku tunggu ya Sayang, aku kangen banget sama kamu."


Panggilanpun terputus. Arfan terlihat bahagia saat mendengar istri pertamanya akan datang menemuinya. Rindi ikut senang melihat mood suaminya yang sudah membaik. Akhirnya mereka makan dengan tenang.


***


"Dek, apakah kamu tidak yakin dengan keputusanmu?" tanya Pria yang bernama Adriansyah.


"Mas, aku merasa bersalah karena telah menyakiti perasaan Mas Arfan, aku tahu ini adalah keputusan yang berat, karena aku juga tidak bisa membohongi perasaanku, aku masih sangat mencintai kamu. Walaupun kita tidak melakukan dosa, tapi keputusan ini pasti sangat menyakiti perasaan Mas Arfan, walau bagaimanapun, kami sudah menikah selama enam tahun."


"Maafkan aku Dek. Andai saat itu aku tak mengalami kecelakaan itu, mungkin kamu tidak akan pernah menikah dengan orang lain. Kita pasti sudah hidup bahagia."


"Mungkin ini semua sudah takdir, Mas. Aku juga tidak menyangka bahwa kamu selamat dalam kecelakaan itu. Karena menurut keterangan dari pihak kepolisian, kamu dinyatakan tenggelam dan jasad kamu tak bisa ditemukan karena terbawa arus yang deras."


Elin menatap wajah Pria yang ada di sampingnya. Ya, Pria itu adalah tunangannya yang dinyatakan hilang dari pencarian saat mengalami kecelakaan saat mobil yang dikendarainya terjun bebas kedasar jurang yang dibawahnya ada sungai.


Saat itulah Elin merasa frustasi, dia menutup hatinya hingga ada seorang Pria yang mampu membuat hari-harinya Kembali berwarna, yaitu Arfan, karena sering bertemu saat Elin magang di RS tempat Arfan bertugas.


Hubungan merekapun semakin berlanjut, dan akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Elin sudah bisa membuka hatinya untuk Arfan. Dan dia sudah memberikan hatinya untuk Pria itu.

__ADS_1


Namun, siapa sangka dua bulan terakhir, dia dikejutkan saat pertemuan tak disengaja. Elin kembali bertemu dengan Adri, Elin tak bisa membohongi perasaannya bahwa cinta itu masih tersimpan untuk Pria itu.


Dan begitu juga dengan Adri yang menyatakan perasaannya tidak pernah berubah sedikitpun. Dia sangat bersyukur bisa bertemu dengan Elin Kembali. Bahkan Adri tak pernah membuka hatinya untuk wanita lain, Pria itu masih menyimpan perasaan yang utuh untuk Elin.


Elin sudah mengatakan bahwa dia sudah menikah tetapi Adri tidak peduli status Elin saat ini. Bahkan dia siap untuk menunggu sampai kapanpun.


Elin tidak ingin berada didalam dilema, dia mengikuti hatinya, lagipula sekarang Arfan sudah mempunyai Rindi, mungkin Pria itu tidak akan begitu terluka bila berpisah darinya.


***


Pagi ini Arfan sengaja tidak ke RS, dia ingin menyambut kedatangan istri pertamanya. Rindi sudah berniat untuk tidak pulang kekediamannya, dia akan menginap di hotel. Biarkan Arfan dan Elin mempunyai waktu berdua.


Tak bisa dipungkiri banyak atau sedikit, hatinya menyimpan rasa cemburu, tetapi Rindi berpegang teguh dengan janjinya, dia tidak boleh egois. Karena dia menyadari bahwa Elin juga berhak atas diri suaminya.


"Masuk ya, Mas." Rindi menyalami tangan Arfan saat ingin turun dari mobil.


"Iya, nanti kabari aku jika sudah pulang ya, Sayang." Pesan Arfan sembari mengecup kening dan bibirnya.


Rindi hanya mengangguk, segera keluar dari mobil. Dan Arfan Kembali melajukan mobilnya, tujuan utamanya adalah segera ke Bandara. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan wanita yang pertama dicintainya.


Ya, Elin adalah cinta pertama bagi Arfan, dialah wanita yang mampu membuat hatinya terbuka. Tetapi kehadiran Rindi, Arfan harus membagi cinta itu.


Sudah tiga puluh menit menunggu, akhirnya wanita itu keluar dari Bandara. Arfan segera menyongsongnya, Pria itu memeluk Elin penuh dengan rasa rindu. Namun, reaksi wanita itu dingin.


Sedikit heran melihat perubahan sikap sang istri. Numun, Arfan segera menepis perasaan itu. Dia segera membantu membawakan koper Elin, dan membukakan pintu untuknya.


"Rindi mana, Mas?" tanya Elin di perjalanan.


"Rindi lagi praktek Dek. Nanti siang dia sudah pulang."


Bersambung....

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2