
Setelah mendapat izin dan membuat kesepakatan. Ke esokan harinya Arfan dan Rindi mengurus akta nikah resmi, dan ditandatangani oleh istri pertama. Maka, kini Rindi sudah mempunyai buku nikah resmi walau tercatat sebagai istri kedua dari seorang lelaki yang bernama Arfan Putra Arif.
Rindi sangat bahagia, dia juga tidak lagi merasa cemas. Meskipun begitu, Rindi tetap tak ingin merasa diatas angin. Dia akan tetap berusaha untuk berada pada batasannya. Dia akan selalu menghormati Elin sebagai kakak madunya.
Setelah selesai mengurus buku nikah resmi. Rindi dan Arfan mengurus segala keperluan untuk mereka kembali ke kota dimana Arfan bertugas. Karena sudah cukup lama Arfan mengambil cuti. Dari pihak RS sudah berulang kali menghubunginya untuk memastikan kapan dia akan segera kembali bertugas.
Karena dua hari lagi Arfan dan Rindi akan segera pulang, maka Arfan meminta izin kepada Rindi bahwa dua hari ini ia akan bersama Elin.
"Dek, dua hari ini Mas akan menemani Elin ya. Kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Arfan di perjalanan pulang.
Rindi tersenyum, tak sedikitpun ia merasa sedih ataupun melarang. "Tidak sama sekali. Mas Arfan jangan pikirkan aku. Disini aku sudah nyaman, aku ridho kamu bersama Mbak Elin. Karena waktu aku akan lebih banyak bersamamu daripada Mbak Elin, sungguh jahat sekali rasanya bila aku harus melarang kamu."
Arfan tersenyum, dan mengecup pipi Rindi. "Terimakasih ya Sayang. Aku sangat bahagia memiliki kalian."
Rindi mengangguk dan membalas mengecup pipi suaminya. Dia cukup bahagia, tak berharap banyak dalam hubungan rumah tangganya, cukup kebahagiaan ini terus mengiringinya.
"Oya, besok aku mau belajar buat makanan khas Medan sama Mama. Buat oleh-oleh untuk kita bawa ke kota bertuah," ujar Rindi tersenyum mengingat ingin meminta resep dari Mama mertuanya.
"Bikin, apa Dek?"
"Aku sudah lama mau belajar buat Bika Ambon, Mas. Kata Sania Mama sangat juara membuatnya. Jadi aku harus bisa menyalin semua resep kue dari Mama. Nanti kalau sudah bisa aku ingin buka bakery cake dan aku beri judul. Mom's Bakery," ujar Rindi tersenyum senang membayangkannya.
"Kamu serius ingin membuka toko roti, Sayang?" tanya Arfan sembari fokus mengemudi, dia tertarik dengan ucapan sang istri.
"Hmm, masih ancang-ancang saja, Mas. Kan aku perlu nabung dulu buat mempersiapkan segalanya. Sembari menunggu, aku akan memperdalam ilmu untuk mempelajari resep-resep kue."
"Apa kamu tidak ingin meneruskan ujian praktek kedokteran? Kan sayang sekali, tinggal sedikit lagi kamu sudah bisa mendapatkan gelar Dokter spesialis patologi anatomi," ujar Arfan, ia merasa sayang sekali jika Rindi tidak meneruskan UKMPPD.
__ADS_1
Rindi menatap Arfan, ada keraguan dihatinya. Jika nanti dia sudah menjadi seorang dokter, Dia menjadi takut akan sibuk. Jika Elin dan dia sibuk, takut perhatiannya berkurang pada sang suami. Rindi takut nanti Arfan akan menikah lagi.
"Kenapa diam, Sayang?" tanya Arfan sembari mengusap kepala Rindi dengan lembut.
"Jika aku menjadi seorang dokter, takutnya aku juga sibuk. Terus kalau aku sibuk, kamu mencari istri lagi Mas...," ujar wanita itu yang membuat Arfan terkekeh.
"Hahaha... Kenapa kamu ketakutan begitu? Dek, aku sudah menjelaskan alasannya kenapa aku harus menikah lagi. Jujur mungkin aku memang seorang lelaki yang tak bisa menahan hasrat bila berjauhan dari sang istri. Tapi jika istriku selalu ada bersamaku, maka insyaAllah aku tidak akan mungkin mencari wanita lain. Kalau soal kamu ingin berkarir selama kita hidup serumah, tidak ada masalah bagiku Dek, toh dulu selama lima tahun kami hidup serumah dan kami sama-sama berkarir tapi tak pernah terpikirkan olehku untuk mencari wanita lain."
Arfan menjelaskan dengan panjang lebar pada istri mudanya yang tampak trauma bila dirinya akan mencari wanita lain. Tetapi Arfan memaklumi alasan istri-istrinya menjadi ketakutan.
Rindi berpikir sejenak, tak seharusnya dia begitu takut, apa yang dikatakan Arfan memang ada benarnya, dia harus percaya dengan kata-kata suaminya.
"Baiklah, Mas. Tapi jika aku ada minat ingin buka bakery, nggak pa-pa kan, Mas? Hitung-hitung buat menyalurkan hobi," ujarnya meminta izin.
"Hmm, baiklah Sayang, aku tidak akan melarangmu. Yang penting kamu nyaman."
Rindi tersenyum dan bergelayut manja di lengan suaminya. "Terimakasih ya, Mas. I love you."
Setelah selesai mengantarkan Rindi pulang kerumah orangtuanya. Arfan segera pamit pulang kekediamannya bersama Elin. Karena hari juga sudah hampir magrib.
Setibanya dirumah, Arfan disambut dengan senyum bahagia oleh Elin. "Kok pulang, Mas? Udah selesai urusan kamu sama Rindi?" tanya wanita itu sembari menyalami tangan suaminya.
"Alhamdulillah sudah, Sayang. Dua hari kedepan aku dan Rindi akan balik ke Riau. Apakah kamu ingin ikut?" tanya Arfan sembari mengecup kening dan bibir sang istri.
"Nggak bisa, Mas. Besok aku sudah mulai praktek. Maaf ya, besok bila ada waktu libur aku pasti akan berkunjung kesana," jelas Elin membawa suaminya untuk masuk.
"Baiklah, kalau begitu dua hari ini biarkan aku disini menemani kamu."
__ADS_1
"Serius? Terus Rindi?" tanya Elin merasa tidak enak.
"Tidak pa-pa, Dek. Tadi aku sudah izin, dia sama sekali tidak keberatan. Malahan dia bilang, waktunya akan lebih banyak daripada kamu. Jadi tidak ada alasan dia melarangku."
"Syukurlah kalau begitu. Tapi, besok aku sudah mulai kerja, terus gimana dong?" tanya Elin bingung.
"Emang tidak bisa cuti dua hari lagi ya?"
"Nanti aku coba konfirmasi lagi pihak RS ya Mas. Aku juga ingin menghabiskan waktu bersama, sebelum kamu dan Rindi pergi."
"Oke, terimakasih ya, Sayang."
Elin hanya mengangguk. Dia membantu suaminya membukakan kemejanya. "Mau mandi, atau makan dulu?" tanya Elin sembari membuka kancing kemeja itu satu persatu. Arfan menatap wajah cantik sang istri dengan dekat.
"Makan kamu dulu boleh, nggak?" tanya Pria itu tersenyum nakal.
"Ish, nakal banget sih kamu?" Elin tersenyum malu. Arfan segera melu mat bibir mungil itu, Elin membalas segala sentuhan sang suami.
Dengan perlahan Arfan merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan bibir yang masih bertaut. Elin mulai tak bisa menahan segala hasratnya yang telah terpancing oleh segala sentuhan suaminya.
Akhirnya pergulatan sengit itu terjadi sebelum Maghrib, setelahnya mereka segera membersihkan diri, selesai mandi mereka segera melaksanakan sholat magrib berjamaah.
Dalam sujud terakhir Arfan berdo'a kepada Rabb-Nya, agar rumah tangganya diberikan kebahagiaan dan dijaga dari segala keburukan. Kembali lagi dia meminta kepada Allah, agar menjadi suami yang bertanggung jawab dan berlaku adil pada kedua istrinya.
Selesai berdo'a Elin menyalami tangan Arfan dan dibalas dengan kecupan hangat di keningnya oleh sang suami, dan Arfan membawa Elin dalam dekapannya. Sembari mengucapkan terimakasih karena sudah meridhoi dirinya menikah lagi.
Bersambung....
__ADS_1
NB. Setelah author pikir-pikir. Kisah babang Yanju akan author buatkan novel tersendiri. Terimakasih untuk sarannya dari raeder 🙏🤗
Happy reading 🥰