
Hai, raeder. Disini Author mau kasih tahu kalau ini adalah sambungan dari episode 41 ya. Nah, berhubung kemaren otak author lagi blank jadi author salah masuk lapak. Jadi disini Author kasih screenshot aja ya. Soalnya mau ngetik ulang kelamaan🙏🤭
Setelah menjatuhkan talak dan menyerahkan Elin pada pihak keluarganya dan juga lelaki yang dicintainya, Arfan segera keluar dari ruangan itu. Setibanya diluar, Arfan menghapus air matanya dengan kasar.
"Tidak, aku tidak boleh seperti ini! Aku sudah ikhlas melepaskan dia dengan Pria yang dicintainya. Sekarang biarkan dia bahagia. Aku harus fokus dengan hidupku bersama Rindi, ya, sekarang hanya wanita itulah yang memiliki hatiku seutuhnya, aku berjanji tidak akan pernah menyakitinya."
Arfan bergumam sendiri sembari berdiri di samping mobil orangtuanya dengan memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan.
"Harus ikhlas ya, Nak." Mama Zahra mengusap bahu putranya.
Arfan segera menoleh dan memeluk sang Mama. Pria itu kembali menumpahkan segala sesak di dadanya. Enam tahun menjalani rumah tangga dengan wanita yang dicintainya, kini dengan suka rela dia menyerahkan wanita itu dengan Pria lain, itu bukanlah hal yang mudah, tetapi Arfan berusaha untuk ikhlas.
"Sudah, ayo kita pulang sekarang." Daddy Yoga mengusap kepala anaknya yang sedang berada dalam dekapan Mamanya.
__ADS_1
Arfan melerai pelukannya, dia berusaha untuk tetap tegar. "Ma, Dad, aku harus pulang ke Riau sekarang. Aku tidak ingin Rindi khawatir, karena tadi aku kesini Rindi tidak tahu," jelas Arfan pada kedua orangtuanya.
"Kamu serius mau balik hari ini juga?" tanya Mama memastikan.
"Iya, Ma, nanti jika kami punya waktu luang kami akan pulang lagi kesini." Arfan meyakinkan kedua orangtuanya.
Mama Zahra dan Daddy tidak bisa menahan anaknya. "Baiklah, ayo Daddy antar kamu ke bandara sekarang."
Setibanya di bandara, Arfan berpamitan kepada kedua orangtuanya. Mama Zahra melihat bahwa putranya masih menyimpan kesedihan yang mendalam. Wanita itu berharap Rindi dapat mengobati luka itu. Dan semoga mereka hidup bahagia.
Mungkin ini sudah takdir yang telah di gariskan oleh Tuhan, agar mereka hidup tenang bersama pasangan tanpa harus membagi cinta. Arfan menyalami tangan kedua orangtuanya dan meninggalkan mereka.
***
Setibanya di bandara Sultan Syarif Kasim, Arfan segera menuju mobilnya yang tadi ia titipkan pada pihak keamanan. Arfan melihat waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Itu tandanya Rindi sudah pulang dari tadi.
Jika Rindi sudah pulang, tapi kenapa dia tidak menghubungi dirinya, Arfan hanya bertanya dalam hati. Dengan hati yang tak menentu Arfan memacu kendaraannya untuk segera sampai dikediamannya.
Setelah mobil terparkir, Arfan segera masuk, tetapi rumahnya masih terkunci, dia kembali membuka dengan kunci yang dia punya. Berarti Rindi belum pulang sedari tadi. Mendadak hati Pria itu dirundung cemas.
Arfan segera menghubungi sang istri. Sekali hingga dua kali panggilannya tak di jawab hingga panggilan ke tiga baru Rindi menjawab panggilan darinya.
"Wa'alaikumsalam... Dek, kamu dimana? Kenapa belum pulang?" tanya Arfan begitu cemas.
"Aku, aku sedang lembur di RS, Mas. Ada pekerjaan yang tak bisa aku tinggalkan."
Arfan mengamati ucapan Rindi yang terdengar gugup, dia tahu wanita itu sedang berbohong Kepadanya. Sebenarnya apa yang sedang disembunyikan oleh Rindi, kenapa dia berbohong?
"Dek, katakan dimana kamu sekarang? Jangan membohongi aku!" tegas Pria itu semakin parno. Apa yang baru saja terjadi tentang Elin, dia juga takut Rindi akan demikian. Kejadian itu meninggalkan rasa trauma tersendiri bagi Arfan.
Rindi gugup saat Arfan mengetahui dirinya berbohong. Wanita itu lama terdiam didalam kamar hotel. Dia hanya ingin memberikan waktu untuk suaminya dan kakak madunya.
"Dek, katakan kamu dimana sekarang? Jangan membuatku cemas!"
"Aku, baik-baik saja Mas. Kamu tidak perlu khawatir. Oya, mana Mbak Elin? Aku ingin bicara padanya."
Arfan mencoba memahami apa yang tersirat dalam kata-kata istrinya. Apakah Rindi sengaja menghindar untuk memberi ruang agar dirinya dan Elin bisa berduaan.
__ADS_1
"Elin tidak jadi datang, Dek. Kamu kenapa harus menghindar, kenapa bodoh sekali? Apakah kamu cemburu?" tanya Arfan yang membuat Rindi gelagapan.
"Ti-tidak! Aku tidak cemburu. Kamu apaan sih Mas? Kamu serius Mbak Elin tidak jadi datang?" tanya Rindi memastikan.
"Ya, katakan padaku kamu dimana? Aku akan menjemputmu sekarang. Atau aku sendiri yang akan mencarimu, aku akan menghukummu."
"Ish, apaan pakai hukuman segala sih Mas? Iya, iya. Aku sekarang ada di hotel xxx."
"Nakal kamu ya, sampai main di hotel. Tunggu aku disana, jangan kemana-mana!"
Arfan segera memutus sambungan ponselnya, dia segera bergegas menuju dimana posisi istrinya sekarang. Disepanjang perjalanan Pria itu masih berpikir dan mencoba untuk memahami segala takdir yang telah di gariskan.
Mungkin inilah kenapa Tuhan mengakhiri hubungannya dan Elin. Sejatinya tidak ada wanita yang sanggup tanpa terluka bila pasangannya berbagai cinta. Nyatanya sekarang, Rindi sengaja menghindar agar dia dan Elin mempunyai waktu bersama. Tidak bisa dipungkiri bila hati wanita itu tak menyimpan sedih dan rasa cemburu.
Setibanya dikamar hotel, Arfan segera mengetuk pintu kamar itu. Rindi segera membukakan pintu, entah kenapa hatinya bahagia saat mendengar Arfan akan datang.
Arfan segera masuk dan mengunci pintu kamar. Rindi menatap wajah suaminya yang tampak sedikit kacau terlihat wajah itu menyimpan sisa kesedihan.
Arfan tak bicara apapun dia segera memeluk Rindi dengan erat. Pelukan itu begitu posesif, Arfan mengecup puncak kepala Rindi dengan penuh kasih sayang, dan menyembunyikan wajahnya di leher jenjang sang istri.
Rindi yang mendapat perlakuan sedemikian, membuat hatinya bertanya-tanya. Namun, dia mencoba memahami mungkin suaminya itu sedang ada masalah atau dia kecewa karena Elin tak jadi datang menemuinya.
"Kamu kenapa, Mas? Ayo kita duduk. Kaki aku kebas lama berdiri," ujar Rindi berusaha melerai dekapan suaminya.
"Dek, biarkan aku seperti ini sebentar saja," lirihnya semakin menguatkan pelukannya sehingga Rindi sulit bernafas. Dia juga takut pelukan erat suaminya bisa membahayakan janin yang ada dirahimnya.
Ya, Rindi ingin memberikan kabar bahagia itu dari semalam pada sang suami, tetapi karena melihat malam itu mood Arfan sedang tidak baik, maka dia menunda. Rindi akan mencari waktu yang tepat, mungkin saja nanti setelah Arfan bertemu dengan Elin.
"Iya, Mas. Tapi kaki aku kebas, ayo kita duduk dulu."
"Aku mohon, Dek, biarkan aku seperti ini sebentar saja. Kamu jangan pernah tinggalkan aku ya."
Kembali Rindi dibuat heran dengan ucapan sang suami. Sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa Arfan mendadak menjadi parno dan posesif seperti ini?
Runtutan pertanyaan bergelayut dalam benak Rindi tentang sikap suaminya yang tiba-tiba berubah.
Bersambung...
__ADS_1
Happy reading 🥰