
Waktu begitu cepat berlalu, kini Rindi sudah mengambil cuti melahirkan, ia menikmati momen menanti hari kelahiran sang bayi. Semakin mendekati HPL, maka wanita itu sudah semakin susah bergerak.
Arfan selalu siap siaga menjaga sang istri. Terkadang Pria itu tidak bisa tidur karena takut tetiba istrinya mengalami kontraksi. Arfan begitu menjaga istrinya dengan penuh perhatian dan kasih sayang.
Hari libur pasangan itu berniat ingin belanja bahan pokok ke swalayan terdekat. Sebelum pergi Rindi pamit pada Art yang sudah satu bulan bekerja dengannya.
"Mbak, aku ke swalayan dulu ya."
"Baik, Bu," ujar Art sembari meneruskan pekerjaannya.
Di perjalanan, Rindi merasa kurang nyaman, karena merasa ingin buang air kecil terus. Perutnya mulai merasa nyeri ringan, terkadang nyeri itu hilang lagi.
"Kenapa, Dek?" tanya Arfan melihat istrinya mengernyitkan dahinya.
"Agak nyeri perut aku, Mas," ujar Rindi menggigit bibir bawahnya menahan sakit kadarnya lebih dari yang sebelumnya.
"Apakah kamu ingin melahirkan, Sayang?" tanya Arfan mulai panik. Ia menepikan mobilnya.
"Nggak tahu, Mas. Tapi ini sakitnya sudah mulai luar biasa. Rasanya sakit banget, Mas!" Erang Rindi sedikit meremat lengan Arfan.
"Baiklah, kita ke RS sekarang ya, Dek."
__ADS_1
Rindi hanya mengangguk. Perutnya semakin terasa nyeri, pinggang terasa ingin putus. Namun, wanita itu berusaha untuk tetap kuat.
Arfan menambah kecepatan mobilnya agar secepatnya sampai di RS. "Sabar ya, Sayang." Tangan Arfan masih mengelus perut buncit sang istri.
Setibanya di RS. Pria itu segera membantu Rindi untuk turun. Karena iba melihat Rindi yang menahan rasa sakit. Arfan membopong tubuh istrinya untuk masuk ke ruang bersalin.
"Dokter Arfan! Dr Rindi sudah mau melahirkan?" tanya salah seorang Dokter umum yang menjaga di IGD.
"Iya, tolong hubungi Dr Nike sekarang!" ujar Arfan pada Dr umum itu, dan segera membawa Rindi masuk keruangan bersalin.
Tak berselang lama dua orang Bidan masuk. Mereka segera memeriksa jalan lahir.
"Sudah buka delapan ya, Bu. Termasuk cepat ini, Dok," jelas Bidan itu pada Arfan.
"insyaAllah semua baik, Dok. letak kepala juga bagus turunya. Kita pasang infus dulu ya, Dok," ujar Bidan yang bernama Yuni itu pada Rindi. Tentu saja mereka sudah saling kenal, karena mereka bertugas di RS yang sama.
Rindi hanya mengangguk sembari menahan rasa sakit yang luar biasa. Arfan berusaha untuk membantu mengusap punggung dan perut Rindi dengan lembut.
"Sakit banget, Mas..." Keluh wanita itu bergelayut di leher suaminya.
"Sabar ya, Sayang. Insyaallah anak kita akan segera lahir." Arfan mengecup kening Rindi dengan lembut.
__ADS_1
"Astaghfirullah... Ini sakit sekali, Kak!" pekik Rindi pada Bidan itu.
"Iya, sabar ya, Dok. Sedikit lagi pembukaannya lengkap," jelas Bidan.
Tak berselang lama pintu ruangan itu terbuka. Ternyata Dokter Nike sudah datang, dia adalah Dr Obgyn yang menangani Rindi. Karena ini hari libur maka, semua Dokter tidak masuk, kecuali Dr IGD.
"Sudah lengkap, Kak Yun?" tanya Dr Nike pada Bidan Yuni.
"Bentar lagi, Dok. Sudah buka sembilan," jelasnya.
"Hai, dedek tampan, kamu benar-benar gangguin waktu aku ya, orang lagi ketemuan tiba-tiba ditelpon. Kamu kenapa hari libur ingin keluar, Dek? You messed up my plans. Awas kalau keluar Ante gigit kamu." Racau Dokter lajang itu merasa gemas dengan bayi pasangan Dokter itu.
Rindi yang sedang menahan sakit jadi ikut tertawa mendengar celotehan sang dokter obgyn.
"Segitunya kamu," ujar Rindi masih tertawa sembari menahan rasa sakit.
"Iyalah. Rencanaku jadi gagal karena ulah bayi ini. Jangan sampai aku gagal lagi mendapatkan jodohku karena kamu,ya Dek. Awas kamu akan aku tungguin kamu sampai gede!"
Mereka kembali terkekeh mendengar celotehan Dokter Obgyn yang memang terkenal banyak humornya..
Bersambung....
__ADS_1
Nb. Karena banyak yang belum rela novel ini tamat, maka author akan lanjutkan. Tapi mohon dukungannya ya. Like komen, dan subscribe. Biar lelah author sedikit terobati 🙏🤗
Happy reading 🥰