Belenggu Cinta Istri Simpanan Tuan Dokter

Belenggu Cinta Istri Simpanan Tuan Dokter
Berpamitan


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktunya bersama Elin, pagi ini Arfan dan Elin datang kekediaman orangtuanya. Rindi masih sibuk membantu Mama dan art untuk menyediakan sarapan pagi. Rencananya Arfan dan Rindi akan kembali ke Riau siang nanti. Seperti biasanya, Arfan akan mengemudi sendiri, karena mereka butuh mobil untuk transportasi disana.


"Assalamualaikum...." Seru Arfan dan Elin bersamaan.


"Wa'alaikumsalam..." Rindi dan Mama menjawab salam dari mereka.


"Lagi ngapain Rin?" tanya Elin menghampiri Rindi yang sedang memotong daun bawang.


"Ini Mbak, aku mau bikin nasi goreng. Udah rapi Mbak Elin mau kemana?" tanya Rindi melihat Elin sudah rapi.


"Mau praktek, sekalian mampir dulu sebelum pergi," jawab Elin sembari mengamati Rindi memotong sayuran.


"Loh sudah mulai praktek ya Mbak?"


"Iya, maaf ya? Aku nggak bisa melepaskan kamu dan Mas Arfan berangkat nanti."


"Iya, tidak pa-pa Mbak, tapi kita sarapan bareng dulu ya," tawar Rindi.


"Iya Elin, kita sarapan bareng dulu, sebelum mereka pergi," ujar Mama menimpali.


"Ya ampun maaf banget, Ma, Rindi, udah nggak sempat. Lima belas menit lagi jadwal praktek aku sudah dimulai. Nggak enak juga sama pasien-pasien yang sudah lama ngantri."


"Ya sayang banget ya Mbak," Rindi dan Mama Zahra tidak bisa menahan.


"Lain kali saja ya, Rin, besok kalau ada waktu libur, Mbak main ke sana. Kita masih punya waktu bersama. Yaudah Mbak berangkat dulu ya, kamu dan Mas Arfan nanti di jalan hati-hati, Semoga selamat sampai tujuan, bilangin sama Mas Arfan, kalau capek istirahat dulu jangan dipaksakan." Pesan Elin pada adik madunya sembari mengulurkan tangan.


"Ya Allah, tangan aku bau bawang Mbak." Rindi menerima uluran tangan Elin dan memeluk kakak madunya. "terimakasih Do'anya ya, Mbak. Nanti akan aku ingatkan Mas Arfan."


Elin juga berpamitan dengan Mama Zahra, dan Kembali menemui suaminya yang sedang ngobrol dengan Daddy di ruang tamu. Arfan segera mengantarkan Elin sampai depan rumah. Karena Elin bawa mobil sendiri jadi dia tidak ingin diantarkan oleh Arfan.


"Dek, benaran nggak ingin Mas anterin?" tanya Arfan sembari menggandeng Elin untuk keluar.


"Nggak, Mas. Aku kan bawa mobil sendiri, kalau kamu anterin nanti aku repot pulang harus pesan taksi."


Yaudah kamu hati-hati mengendara, jangan ngebut."


"Iya, kamu juga begitu. Hati-hati dijalan nanti. Kalau capek segera cari tempat peristirahatan, kalau sudah sampai jangan lupa kabari aku," balas Elin menyalami tangan suami dan memberi kecupan pada kedua pipinya.

__ADS_1


"Oke, Sayang." Arfan membalas mengecup kening dan bibir Elin, lalu membantu membukakan pintu mobil untuknya. Elin melambaikan tangannya lalu meninggalkan pekarangan rumah itu.


Setelah Elin pergi, Arfan kembali masuk, dia melihat Rindi sedang menata hidangan diatas meja. Arfan menghampiri istri keduanya itu.


"Wangi banget sih kamu." Arfan mencuri kecupan di pipi Rindi.


"Mas, nanti dilihat Mama," ujar Rindi yang merasa kaget mendapat serangan tiba-tiba.


"Hehe... Habisnya kangen sama kamu," seru Arfan menarik kursi dan menjatuhkan tubuhnya.


"Ish, baru juga dua hari nggak ketemu," cibir Rindi.


"Kok gitu ngomongnya? Kamu nggak kangen sama aku?" tanya Arfan mengamati wajah cantik istri keduanya itu.


"Kangen, Mas, kangen banget," balas Rindi sembari menatap Arfan dengan dalam.


Pria itu tersenyum senang, dia ingin berdiri untuk memeluk Rindi, tetapi pergerakannya terhenti karena melihat Mama dan Daddy sudah menuju meja makan.


Mereka sarapan bersama sebelum Arfan dan Rindi balik ke kota Pekanbaru. Selesai makan, Rindi masuk kamar untuk berberes barang-barang yang akan mereka bawa.


"Dek, udah siap packing barang-barangnya?" tanya Arfan menghampiri Rindi yang sedang termangu memegang pakaian bayinya yang masih dia simpan dengan baik.


"Dek, sudah ya. Jangan sedih lagi. Anak kita sudah tenang di surga," ujar Arfan, membawa Rindi masuk kedalam dekapannya.


"Aku kangen banget sama bayi kita Mas. Boleh nggak, nanti sebelum kita berangkat mampir dulu ke pemakaman? Aku ingin ziarah sebentar."


"Tentu saja, Sayang. Nanti kita mampir. Udah jangan nangis lagi ya." Arfan mengusap punggung Rindi dengan lembut memberi ketenangan untuk istrinya.


***


"Daddy, Mama, kami berangkat dulu ya." Arfan menyalami tangan kedua orangtuanya.


"Hati-hati dijalan ya,Nak, jangan terlalu dipaksakan, jika lelah dan ngantuk segera istirahat." Pesan Mama dan Daddy.


Arfan mengangguk paham. "Baik, Ma,"


"Ma, Dad, kami pamit. Jika Mama dan Daddy ada kesempatan, berkunjunglah ketempat kami. Aku pasti sangat bahagia, aku akan selalu merindukan Mama dan Daddy. Jaga kesehatan selalu, semoga Mama dan Daddy selalu sehat."

__ADS_1


Mama Zahra memeluk menantu yang pernah dia usir karena kesalapahaman itu. "Terimakasih banyak atas do'anya ya, Nak, insyaallah nanti bila kami mempunyai kesempatan, kami pasti akan berkunjung. Benar kan Dad?" tanya Mama pada Daddy. Wanita baya itu tampak begitu haru dengan mata berkaca-kaca.


"Ya, benar sekali. Nanti jika Daddy punya waktu luang, kami akan berkunjung ketempat kalian. Jangan lupa beri Daddy dan Mama kabar bahagia bila kami sampai disana," ujar Daddy yang membuat Rindi tersipu.


"Tenang saja, Dad, kami akan berusaha. Pokoknya Daddy dan Mama Do'akan kedua Istriku segera diamanahkan kembali rezeki dari Allah." Arfan menimpali ucapan Daddynya.


"Aamiin... Semoga Do'a kita segera dikabulkan." Mereka mengaminkan bersama.


Setelah berpamitan, Arfan dan Rindi segera meninggalkan kediaman orangtuanya. Pria itu mengendarai dengan kecepatan sedang. Seperti janjinya tadi, sebelum berangkat meninggalkan kota Medan, mereka mampir terlebih dahulu ke pemakaman bayi mereka.


Rindi mengusap batu nisan bayi surga. Berulang kali ia mengecup batu nisan itu.


"Adek, Mama kangen banget sama kamu Nak. Maaf ya, Mama dan Papa harus pergi. Adek baik-baik ya, semoga tenang di surga Allah." Rindi bergumam sembari mengusap batu nisan mini itu.


Arfan ikut berjongkok disisinya. Dia mengusap dan mengecup batu nisan itu untuk melepaskan rasa rindu pada anak surga mereka.


"Dek, Papa dan Mama pamit ya, kami akan selalu merindukan kamu, Sayang. Adek akan selalu ada dalam hati Papa dan Mama."


Setelah berpamitan pada almarhum bayi mereka. Kini pasangan itu kembali meneruskan perjalanan mereka. Rindi tampak lebih tenang.


Arfan menanyakan keseriusan Rindi untuk meneruskan ujiannya untuk mendapatkan gelar Dokter.


"Dek, kamu mau meneruskan ujiannya dimana?" tanya Arfan, sembari fokus mengemudi.


"Aku akan tetap sama Dr Fikri saja, Mas, soalnya aku cukup nyaman dalam pembimbingannya. Terus, aku lebih mudah memahami materi yang dia berikan," ujar Rindi.


"Kamu yakin mau di bimbing sama Dr Fikri?" tanya Arfan sedikit meyakinkan.


"Iya, aku yakin."


"Apakah kamu tidak merasa jika Dr Fikri ada rasa sama kamu dari dulu?"


"Hah? Kok ngomong gitu? Kamu cemburu Mas?"


"Nggak lah. Lagian bagus juga kamu ujian di RS itu. Jadi aku bisa selalu mengawasi kamu," ujar Arfan yang berlagak menyangkal tetapi dari ucapannya tak bisa dibohongi jika dia menyimpan rasa cemburu pada Dr patologi anatomi itu.


Rindi hanya terkekeh sembari menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Dia merasa bahagia bila suaminya menyimpan rasa cemburu itu tandanya dia sangat menyayangi dirinya.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2