
Malam ini Arfan pulang sedikit larut karena waktu liburnya sehari membuat jadwal pasiennya menumpuk, karena menangani anak yang berkelainan khusus itu adalah hal yang paling ekstra penanganannya.
Setiap pasien yang mengidap epilepsi maka tak bisa ditunda memberikan obatnya, Arfan harus memastikan bahwa semua jadwal pasiennya sudah mendapatkan resep dan pemeriksaan darinya secara merata.
Diperjalanan pulang Pria itu tak pernah lupa dengan janjinya pada sang istri. Arfan mampir di tempat penjual bakso yang di inginkan oleh Rindi. Arfan pulang dengan senyum, karena telah berhasil memenuhi keinginan calon buah hatinya.
Setibanya dirumah, ia segera menuju dapur untuk meletakkan bungkusan yang tadi dia bawa, Arfan melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Saat dia hendak masuk kamar, Rindi keluar.
"Eh, Mas, kamu sudah pulang? Kok nggak kedengaran suara buka pintu?" tanya Rindi yang segera menghampiri suaminya, lalu membantu Arfan membuka Snelli dokter yang belum terlepas dari tubuhnya.
Arfan segera meraih tubuh Rindi dan memberikan tanda sayang di seluruh wajah cantiknya. "Masa sih nggak kedengaran? Hmm?" Arfan masih mengecup bibir Rindi dengan gemas.
"Udah dong, Mas. Hahaha... Mesum banget sih kamu!" Rindi mencubit kedua pipi Arfan dengan gemas.
Pasangan itu sama-sama tertawa dengan candaan mesra mereka. Arfan segera merangkul bahu Rindi dan membawanya ke meja makan.
"Ayo duduk disini, Sayang." Arfan menarik kursi untuk Rindi, lalu dia meminta sang istri untuk menggulung lengan panjang kemejanya hingga siku. Rindi dengan senang hati mengikuti perintah suaminya.
Selesai Rindi menggulung lengannya, Arfan segera mengambil mangkok dan sendok, lalu membawa kemeja makan. Pria itu menuang bakso yang tadi dia beli untuk sang istri.
"Ayo dimakan, Sayang," ujarnya menyerahkan mangkok yang sudah berisi bakso. Rindi tersenyum sumringah menatap bakso itu.
"Terimakasih suamiku Sayang, makin cinta sama kamu Mas," gombal wanita itu dengan senyum manjanya.
Arfan hanya terkekeh gemas melihat tingkah istrinya. "Nggak perlu dibilangin Dek, aku sudah lama tahu bahwa kamu memang sangat mencintai aku," balas Arfan memposisikan duduknya di samping Rindi.
"Ish, apaan sih Mas, sok tahu banget." cibir Rindi sembari menyendok makanan khas Jawa tengah itu.
"Gimana? Enak nggak?" tanya Arfan ingin memastikan.
"Enak banget Mas, nih cobain." Rindi menusuk pentol itu dan menyuapi Arfan.
"Enak 'kan?"
__ADS_1
"Hmm, lumayan."
"Aaa, lagi Mas."
"Sudah cukup Dek. Kamu yang makan, ini kan keinginan kamu." Arfan menggelengkan kepala.
"Tapi aku pengennya kamu yang makan dan ngabisin buat aku, Mas..," rengek Rindi yang membuat Arfan terperangah.
"Dek, kamu bercanda? Aku tidak terlalu suka dengan bakso, Sayang, kalau suka aku sudah pasti beli juga," ujar Arfan yang memang kurang meminatinya.
"Iya, tapi ini keinginan bayi kita Mas. Dia pengen Papanya yang makan. Ayo, dong Papa Arfan yang tampan nan rupawan." Rindi masih berusaha merayu dan membujuk suaminya.
Arfan berpikir sejenak menatap manik mata sang istri yang tampak mengiba. Tapi, dia bisa mual jika menghabiskan sebanyak itu.
"Tapi, sungguh aku tidak bisa makan bakso terlalu banyak, Dek."
"Mas nggak mau? Yaudah, aku ngantuk mau tidur," Rajuk wanita itu hendak beranjak.
"Eh, jangan merajuk dong Sayang, oke, aku akan makan sekarang." Pria itu menghela nafas dalam. Dia terpaksa mengalah demi keinginan sang istri.
"Hmm, ayo suapin."
Dengan senang hati wanita itu duduk kembali dan menyuapi suaminya. Arfan mencoba menikmati makanan itu, sesekali dia membujuk Rindi untuk ikut makan, dan akhirnya wanita itu juga ikut makan karena melihat Arfan begitu semangat, Pria itu berhasil memancing selera istrinya yang tadi mulai mengendor.
"Udah ya, Sayang. Aku udah kenyang banget Dek, sini gantian biar aku yang suapin kamu."
"Hmm, baiklah. Ini enak lho Mas."
"Enak banget, makanya abisin dong."
Akhirnya drama semangkok bakso selesai, Arfan yang tadinya ingin mandi haru rehat sejenak, perutnya terasa kenyang bantuin sang istri menghabiskan makanannya.
***
__ADS_1
Pagi ini pasangan suami istri itu telah bersiap untuk berangkat ke RS yang sama. Seperti biasanya, nanti jam setengah satu mereka akan pulang bersama saat jam praktek masing-masing selesai.
Arfan akan mengantarkan Rindi pulang, setengah dua dia kembali ke RS swasta untuk menjalani tugasnya yang jadwal siang hingga jam tujuh malam. Waktu Pria itu begitu banyak dihabiskan di RS.
Rindi selalu memahami profesi Arfan sebagai dokter yang begitu dibutuhkan banyak orang, karena minimnya Dr Neurologi anak di kota ini, maka kehadiran Arfan begitu diharapkan oleh para pasiennya. Pria itu juga terkenal dokter yang begitu ramah dan tidak pelit keterangan saat orangtua pasien bertanya.
Siang ini Rindi yang terlebih dahulu selesai jadwal prakteknya, dia segera menuju ruang praktek suaminya. Dia melihat ada dua orang lagi pasien suaminya yang harus diperiksa.
"Hai, Sus," sapa Rindi dengan ramah pada dua orang perawat pendamping suaminya.
"Siang Bu Dokter, tungguin Dr Arfan ya?"
"Hmm, lagi sibuk Dokter Arfan ya?"
"Dr Arfan ada di ruang sebelah, Bu Dokter, lagi membantu rekan kami memulihkan, ada beberapa hasil EEG (Elektro Ensefalo Grafik) yang terhapus."
"Oh." Rindi menjadi penasaran, dia membuka pintu ruangan khusus untuk perekam aktivitas listrik di otak itu.
Rindi melihat suaminya sedang fokus menatap monitor, dan jaraknya dengan suster begitu dekat, Arfan berdiri sedangkan sang perawat duduk di bangku didepan monitor, tubuh Arfan merunduk tangan sebelahnya berpegang pada kursi yang diduduki oleh perawat itu.
Seketika hati wanita itu terasa panas, Arfan yang menyadari pintu ruangan itu terbuka tetapi tidak ada orang yang masuk, maka dia segera menoleh.
"Eh, Sayang, kamu sudah selesai? Maaf ya, aku agak lama soalnya ada hasil rekaman di titik kabel nomor dua belas hilang. Aku bantu suster sebentar ya, karena hasilnya harus aku bacakan sekarang pada orangtua pasien." Arfan menjelaskan secara rinci. Tidak ada wajah gugup atau mencurigakan dari gerak geriknya.
"Yaudah aku tunggu di kantin saja ya Mas."
"Oh, yaudah, bentar lagi aku selesai ya. Kalau kamu lapar makan saja dulu ya, Dek." Pria itu masih sempat mendekap istrinya sembari mengecup kening Rindi, tak peduli jadi tontonan para perawat yang ada disana.
Rindi hanya tersipu malu mendapat perlakuan dari suaminya yang begitu menyayangi dirinya, setidaknya dia merasa lega bahwa suaminya tidak malu memberinya perhatian dan kasih sayang, walau dilihat pada semua orang. Tetapi, tetap saja hatinya menaruh cemburu melihat kedekatan Arfan pada perawat itu.
Sepertinya Rindi butuh yang segar-segar untuk menormalkan otaknya kembali. Nanti dia akan minta pada suaminya agar jaga jarak iring dari para perawat-perawatnya. Rindi memesan jus jeruk dingin untuk mendinginkan otaknya sembari menunggu Pria kesayangan itu menyelesaikan tugas.
Bersambung...
__ADS_1
Happy reading 🥰