Belenggu Cinta Kontrak Sekretaris CEO

Belenggu Cinta Kontrak Sekretaris CEO
Tak Berkutik


__ADS_3

Seperti yang pernah dikatakan Syadira pada Aji kala itu, bahwa Bella masih bisa saja berulah, bahkan di satu minggu terakhir menjelang pernikahannya.


“Apa? Kenapa kalian baru mengatakan sekarang?” Bella marah pada anak buahnya dalam percakapan ditelepon.


“Maaf, Bu. Penjagaan yang dilakukan Pak Aji sangat ketat sehingga kami baru menemukan fakta tentang rumah itu. Proses penelusuran kepemilikan rumah itu juga sangat rumit, sehingga kami baru mendapatkan jawabannya sekarang,” jelas anak buah Bella.


Bella yang tengah emosi karena baru sekarang ia mengetahui bahwa rumah itu adalah rumah Aji. Bella merasa tak mungkin jika Aji begitu saja meminta pacarnya tinggal di sana. Pasti ada sesuatu.


Bella merasa terjebak dalam situasi rumit. Seharusnya, ia masih bisa memperjuangkan pernikahannya dengan Aji andai ia tak sedang hamil anak Jonas, dengan cara terus mencari tahu ada apa di balik hubungan Aji dan Syadira. Tetapi sayangnya, apa pun usaha yang akan ia lakukan, tak akan merubah pernikahannya dengan Jonas dan sampai kapan pun Aji tak akan menikahinya.


Bella tetap lah Bella yang tak kehilangan akal untuk tetap berulah mengganggu hubungan Aji, dan kali ini ia berencana untuk menumpahkan semua kekesalannya pada kekasih Aji, Syadira.


“Kalau aku tak bisa menikah dengan Aji, kamu juga tak akan bisa!” ancamnya dalam hati.


“Semuanya sudah terlanjur basah, akan ku tenggelamkan sekalian,” lanjutnya merencanakan sesuatu.


Bella tengah berkoordinasi dengan seluruh anak buahnya untuk kembali menyebarkan berita tentang hubungan Aji dan Syadira. Berita sebelumnya tentang hubungan mereka yang perlahan mereda, kembali Bella bangkitkan dengan berita baru. Kali ini, Bella tak akan menyebarkan berita baru itu di kantor Aji, namun ia ingin menyebarkan berita ini melalui media. Bella ingin semua orang tahu, bahwa rumah yang ditempati Syadira adalah rumah Aji dan mereka sering tinggal bersama.


“Semua orang akan tahu bahwa kamu adalah perempuan murahan, perempuan yang mau dipacari cucu dari pemilik perusahaan tempatmu bekerja, hanya demi uang. Bahkan kamu rela tidur dan hidup satu atap rumah dengannya. Dengan begitu, keluarga Aji tak akan menyukaimu,” ucap Bella tertawa puas membayangkan hidup Syadira yang akan hancur berkeping-keping.


Bella mendatangi salah satu kantor media berita dan meminta mereka untuk mengunggah berita ini. Bella juga menyertakan beberapa bukti foto pendukung yang ia dapat dari anak buahnya saat Aji dan Syadira bermesraan di depan rumah. Pihak media yang juga merupakan relasi Jonas, awalnya meragukan kebenaran berita yang dibawa Bella. Namun pada akhirnya, mereka mau menerima perintah Bella karena tergiur dengan nominal yang ditawarkan.

__ADS_1


“Setelah saya sampai rumah, saya mau dunia sudah gempar akan berita ini,” pamit Bella sembari meninggalkan studio berita.


Tampak salah seorang staf di kantor media tersebut, menelepon Jonas. Ia mengatakan maksud kedatangan Bella hari ini. Dengan sigap, Jonas pun meminta mereka mengurungkan permintaan Bella. Jonas juga bersedia membayar mereka jika berani tak melakukan apa yang Bella minta.


“Kalian tidak perlu mengembalikan uang Bella, anggap itu dari saya karena kalian menolak tugas dari Bella. Soal uang Bella, akan saya kembalikan padanya, dengan uang pribadi saya,” tegas Jonas.


Jonas menceritakan kelicikan Bella pada pihak media agar mereka tak pernah lagi mau menerima tawaran Bella. Jonas juga mengancam jika mereka masih mau melakukan pekerjaan dari Bella, ia tak segan akan membawa persoalan ini pada pihak yang berwajib, dengan tuduhan penyebaran berita bohong. Jonas juga mampu meyakinkan pihak media bahwa apa yang dikatakan Bella adalah tidak benar, jadi ketika mereka menaikkan berita sesuai instruksi Bella, sudah pasti berita itu akan masuk ranah berita bohong.


Hingga sore hari, Bella sibuk terus mengecek ponselnya untuk memantau apakah berita yang ia minta sudah naik atau belum. Sampai malam hari pun, tetap tak ada tanda-tandanya. Dengan penuh amarah Bella menelepon kantor media yang ia sambangi tadi pagi. Betapa terkejutnya Bella ketika mendengar penolakan pihak media karena menganggap berita Bella adalah berita bohong. Mereka juga mengatakan akan segera mengembalikan uangnya melalui Jonas.


Mendengar nama Jonas, Bella semakin murka. “Kamu selalu ikut campur urusanku, Jo!”


Keesokan harinya, Bella yang telah gagal menyebar berita melalui media, kembali berniat untuk menyebar berita ini ke kantor Aji. Namun sayangnya, tak ada satupun anak buahnya yang bisa dihubungi, bahkan nomor mereka tak aktif. Mendapati hal ini, Bella semakin kalut.


“Bel, apa-apaan kamu. Minggu depan kita menikah tapi kamu masih saja mengusik Aji dan pacarnya. Kalau kamu begini terus aku bisa saja meninggalkanmu di hari pernikahan kita. Biar kamu dan keluargamu semakin malu karena anakmu lahir tanpa ayah! Aku sudah sabar menghadapi kamu, menerima kamu dan masa lalumu, tapi sedikit pun kamu tak pernah menghargai aku. Sekali lagi aku tahu kamu masih berulah, aku benar-benar akan meninggalkan kamu dan melupakan pernikahan kita!”


“Jangan kamu pikir aku tak bisa melakukannya. Aku bisa saja lari dari rumah tak peduli dengan orang tuaku. Dan kalau kamu bisa berpikir jernih, walaupun kamu hamil, selama kita tetap menikah, orang sudah tak akan peduli dengan kehamilanmu. Tapi jika kita batal menikah, orang-orang akan terus menggunjingmu dan menyebut anak ini anak haram. Camkan itu!” lanjut Jonas menggertak Bella.


“Dan satu lagi, kamu tak akan bisa menghubungi orang-orang bayaranmu lagi!” tegur Jonas meninggalkan Bella di kamarnya.


Bella hanya terdiam merasakan kekesalannya pada Jonas. Ia tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Rasanya ia memang harus menerima pernikahannya dengan Jonas. Kalau tidak, maka ia tak akan mendapatkan siapa pun, Jonas, apalagi Aji. Sedangkan bayinya, akan lahir tanpa ayah, keluarganya pun akan menanggung rasa malu seumur hidup.

__ADS_1


###


Aji dan Syadira ingin benar-benar menikmati hubungan kontrak mereka yang akan segera berakhir.


“Aku pasti akan rindu sama Mas Aji,” ucap Syadira pelan.


“Kita ‘kan masih bisa bertemu, Dir, di kantor, di luar, di mana pun,” jawab Aji menenangkan.


Syadira termenung mengingat perpisahannya. Ia sungguh bersedih karena harus meninggalkan kantor yang membuatnya nyaman. Apalagi, setelah menjalani hubungan kontrak dengan Aji, ia tak akan semudah itu melupakan semua hal yang pernah dilakukan bersama.


“Kok diam? Kalau nanti kamu mau kita makan sepulang kantor, kamu bisa bilang, Dir. Aku akan dengan senang hati mengajakmu makan malam,” tawar Aji.


“Mana bisa, Mas? Aku tidak mau lancang mengajak Mas Aji makan. Kita bisa makan bersama ‘kan memang karena sedang berperan. Ayah Mas Aji juga pasti tidak membolehkan. Lagi pula, Selena gimana nanti? Kamu harus menepati janjimu loh, Mas.” Syadira pesimis dan menginginkan Aji tak menemuinya lagi setelah masa kerjanya habis.


“Ah, gampang. Soal Selena, waktu itu bilang kalau aku tak janji akan menyukainya, tapi aku cuma bilang akan mencoba untuk sering pergi bersama. Tapi nanti aku akan banyak alasan setiap mau pergi dengannya,” jawab Aji santai dan tertawa.


Syadira memukul lengan Aji. “Curang itu namanya.”


Aji memandang Syadira begitu lama. Begitu pun Syadira yang sesekali memandang kekasih kontraknya itu, walau Syadira tak bisa memadangnya lama karena takut air matanya akan menetes, mengingat perpisahan yang akan segera tiba. Tetapi, ternyata air matanya cukup melawan karena tak mau ditahan.


Aji dengan cekatan mengusap air mata Syadira dan merangkulnya.

__ADS_1


“Hubungan kita memang hanya berpura-pura, tapi perpisahan ini terasa begitu nyata,”  ucap Syadira dalam hati.


...****************...


__ADS_2