Belenggu Cinta Kontrak Sekretaris CEO

Belenggu Cinta Kontrak Sekretaris CEO
Dunia Milik Berdua


__ADS_3

Seperti yang sudah direncanakan, siang ini Vita akan mengantar Syadira ke lokasi butik. Mereka akan menyelidiki Aji yang akan bertemu dengan Luna. Semalaman, Syadira tak bisa tidur memikirkan hari ini. Pikirannya dipenuhi ketakutan bagaimana jika nanti kekasihnya itu mau menerima ajakan Luna untuk makan siang bersama.


Vita yang sengaja izin keluar saat jam makan siang, segera menjemput Syadira yang sudah menunggu di halte depan kampusnya. Syadira cukup panik karena Vita belum tiba juga. Ia takut jika Aji tiba-tiba melihatnya di halte, karena ia telah berbohong pada Aji jika akan mengerjakan tugas kelompok.


Tak lama, Vita datang bersama motor maticnya. Mereka segera pergi meninggalkan kampus. Syadira memastikan kembali apakah Vita benar-benar mengetahui tempatnya atau tidak.


“Tenang aja, Dir. Aku tau kok,” jawab Vita yang fokus berkendara.


Semakin dekat, Syadira semaikin panik. Ia benar-benar takut jika harus melihat hal yang tak ingin dilihatnya. 15 menit kemudian, mereka sampai di tempat. Syadira melihat mobil Aji terparkir di luar area.


Diam-diam mereka memantau Aji yang sedang mengobrol dengan salah satu anggota timnya. Aji juga tampak menjelaskan sesuatu pada Luna. Hati Syadira semakin tak menentu. Di satu sisi, mereka takut ketahuan, hingga Vita memiliki ide untuk bersembunyi di balik tumpukan kayu.


“Nah di sini kita bisa dengar percakapan mereka,” bisik Vita seperti detektif.


Terpantau, Luna mulai mengajak Aji untuk makan siang bersama.


“Sori, Lun tapi aku sedang banyak pekerjaan, ini juga mau kembali ke kantor,” jawab Aji menolak ajakan Luna.


Luna tampak memohon pada Aji. “Sebentar saja, Mas Aji.”


Aji tampak kebingungan. “Tapi di dekat sini saja ya.”


Vita dan Syadira saling melongo.


Tak lama, Aji memanggil beberapa anak buahnya untuk ikut makan bersama mereka. Ekspresi Luna tampak kecewa karena tidak bisa makan berdua bersama Aji. Melihat Aji dan anak buahnya yang akan melewati tumpukan kayu, Vita segera menarik tangan Syadira dan mengajaknya pergi menuju ke motor Vita.

__ADS_1


“Huh untung aja,” ucap Vita melega.


Syadira terdiam. Ia terharu Aji akan mengambil tindakan itu. Di satu sisi ia yakin Aji tak enak hati jika harus menolak ajakan kliennya, namun di sisi lain, Aji harus menepati janjinya pada Syadira untuk menjaga jarak dengan Luna.


###


Malam ini, Aji akan datang menemui Syadira di kosnya. Syadira ingin memberikan sesuatu untuk kekasihnya itu. Setelah penyelidikan tadi siang, Syadira sengaja mencetak foto dirinya bersama Aji saat hubungan kontrak kala itu. Syadira membingkainya untuk dipajang Aji di kamarnya.


Syadira yang sengaja berdandan tipis dan menyemprotkan sedikit parfum, bergegas keluar kamar ketika mendengar suara mobil Aji. Ia menunggu Aji dengan duduk di bangku depan kamar kosnya. Saat Aji datang, Syadira tak mampu menahan senyum merekahnya melihat lelaki tampannya.


“Kenapa? Kok senyum-senyum begitu?” sapa Aji menghampiri Syadira.


Syadira menggeleng. Aji memperhatikan wajah Syadira dan merasa ada yang berbeda. Syadira yang tak ingin mengatakan bahwa ia sedikit memakai riasan, sengaja berbohong pada kekasihnya.


Syadira hanya tersenyum dan memberikan bingkai berisi foto tersebut pada Aji. “Siapa tahu mau dipajang di kamar.”


Aji terlihat senang mendapat hadiah dari kekasihnya. “Waaah.”


Kemudian, raut mukanya berubah menjadi sedih saat melihat foto itu dalam-dalam. Aji mengusap-usap foto itu dengan terus melihatnya. “Kalau tidak ada hubungan kontrak, mungkin aku tak di sini sekarang.”


Syadira juga ikut bersedih melihat mimik wajah Aji.


Aji menggenggam tangan Syadira dan menciumnya kemudian tersenyum. “Jangan tinggalkan aku, ya.”


Syadira mengangguk pelan. “Aku yang seharusnya bilang begitu.”

__ADS_1


Aji mengehela nafas panjangnya. Ia merangkul Syadira dan membawa ke dalam pelukannya. “Aku janji.”


Aji juga mengatakan bahwa jika 2 tahun dirasakannya terlalu lama, maka ia akan memaksa menikahi Syadira tak peduli kekasihnya itu akan setuju atau tidak.


“Kok maksa sih? Jangan terburu-buru ah, nanti kalau ternyata Mas Aji menemukan yang lebih segalanya dari aku, gimana?” goda Syadira.


“Kita pasti akan menemukan yang lebih segalanya dari kita, bukan hanya aku tapi juga kamu. Tapi, tidak akan ada yang bisa memberikan seperti apa yang kita berikan untuk hubungan ini. Mungkin aku bisa saja menemukan yang lebih hebat dari kamu, tapi pasti bahagianya berbeda, begitu pun dengan kamu yang bisa saja menemukan lelaki yang jauh lebih sempurna dari aku, tapi apa kamu bisa bahagia saat bersamanya, sama bahagianya ketika bersamaku?” jawab Aji bijaksana.


“Luna cantik ya, Mas?” tanya Syadira yang ingin membahas Luna.


Aji menggeleng. “Aku terlalu sulit mencari yang lebih dari kamu.”


Syadira juga menanyakan bagaimana jika ternyata Luna menyukai Aji. Aji pun menanggapinya dengan santai. Soal perasaan adalah hak setiap manusia, artinya, Luna bebas ingin menyukai siapa pun, tapi yang jelas perasaan Aji akan tetap untuk Syadira selamanya.


“Kalau dia belum tahu Mas Aji sudah punya aku, bisa saja dia menganggap Mas Aji masih sendiri,” lanjut Syadira.


“Salah siapa kamu belum mau menikah sama aku?” goda Aji menantang Syadira.


“Jadi maksudnya kalau belum menikah, masih bisa dibilang sendiri dan bisa didekati siapa aja?” Syadira mulai mengkhawatirkan jawaban Aji.


Aji tertawa dan kembali merangkul Syadira. “Besok besok kalau bertemu Luna, aku akan bilang kalau aku sudah punya calon istri yang cantik, baik, lembut, tapi suka marah-marah.”


Syadira memukul paha Aji.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2