
Aji yang tersadar akan bentakannya, seketika memberhentikan mobilnya dan memeluk Syadira. Ia meminta maaf telah berkata dengan nada tinggi. Ia tak bermaksud menyakiti kekasihnya.
Aji melihat mata Syadira memerah menahan tangis selama perjalanan. Ia kembali memeluk kekasihnya itu, berkali-kali meminta maaf dan berjanji tidak akan melakukannya lagi.
“Aku minta maaf, Sayang. Aku janji ini pertama dan terakhir kalinya aku membentakmu,” ucap Aji penuh penyesalan.
Syadira semakin menumpahkan air matanya dalam pelukan Aji. Ia kembali mengatakan alasannya mengapa ia cemburu. Syadira juga meminta maaf atas tuduhannya jika memang itu tidak benar. Ia hanya tak suka melihat Aji bersama wanita lain.
“Aku yang salah, bukan kamu. Aku minta maaf,” ujar Aji meminta maaf sekali lagi.
Aji pun kembali menjelaskan pada Syadira bahwa ia tidak sedang dekat dengan siapa pun. Ia juga tidak memiliki hubungan apa pun dengan Luna. Pertemuan mereka hanya sekedar untuk membicarakan kerja sama. Aji tidak akan mengkhianati Syadira, mengingat begitu besar usahanya memperjuangkan hubungan mereka, sehingga tidak mungkin bagi Aji untuk meninggalkannya hanya demi wanita lain.
“Aku sangat mencintai kamu. Aku janji akan lebih menjaga jarak dengannya,” janji Aji yang terus memeluk Syadira.
###
Hari itu, hari di mana pertengkaran hebat mereka untuk yang pertama kalinya. Namun di satu sisi, perasaan cinta mereka akan semakin kuat setelah adanya pertengkaran. Syadira yang tampak tak banyak bicara semenjak hari itu, membuat Aji terus dihantui perasaan bersalah. Tak seharusnya ia marah dan membentak kekasihnya. Bagaimana pun, ia sendiri yang menyebabkan kecemburuan Syadira bergulir.
Aji semakin sering menemui Syadira, mengantar jemputnya di kampus maupun di kantor. Tak satu pun buket bunga yang absen setiap ia menemui Syadira. Tak jarang juga ia mengirimi makanan dan minuman untuk kekasihnya itu.
Hingga suatu ketika, Syadira ingin Aji berhenti menanggung biaya hidupnya. Semenjak bekerja di kantor kakek Aji, gajinya lumayan cukup untuk kehidupan sehari-harinya, bahkan untuk membayar kosnya. Ia tak mau berhutang budi pada Aji begitu banyak. Bukan apa-apa, ia takut suatu saat ada kalanya ternyata mereka tak jodoh dan putus, Syadira tak enak jika selama ini ia hidup dengan uang Aji.
__ADS_1
“Kalau kamu masih marah, silakan, tapi jangan seperti ini. Aku tidak akan setuju. Ingat, kamu sudah pernah menolak sisa pembayaran hubungan kontrak kita waktu itu, jadi aku sudah tidak mau mendengar penolakan dari kamu lagi,” tegas Aji.
“Mas, ini bukan karena aku marah, aku cuma tidak ingin merepotkan kamu,” bantah Syadira.
Aji menggeleng. “Kamu calon istriku, kalau kita menikah, aku yang akan menanggung 100% kehidupanmu. Apa salahnya?”
Syadira ingin menjawab seperti apa yang ia pikirkan, tetapi sepertinya akan sia-sia. Ia tak akan menang berdebat dengan Aji jika berbicara soal perngorbanan. Syadira lebih memilih diam.
Aji mengusap lembut kepala sang kekasih. “Aku harus melakukan apa agar kamu tidak marah lagi?”
1 lagi hal yang membuat Syadira tak yakin menang melawan Aji. Ketulusannya. Aji juga paling pandai soal ini.
Melihat mimik muka Aji saat berkata seperti ini lah yang selalu membuatnya merasa beruntung memilikinya. “Tidak ada yang marah, Mas. Masalahnya sudah selesai.”
“Kalau pun ternyata Mas Aji memang suka pada Luna, aku harus ikhlas. Mungkin kita tidak berjodoh, tinggal aku kembalikan saja semua uang Mas Aji nanti,” batinnya dalam hati.
###
Sore ini, Syadira akan pergi makan bersama Vita sepulang kantor, karena mereka sudah tidak pernah bertemu. Syadira sudah meminta izin pada Aji dan meminta untuk tidak menjemputnya di kantor. Syadira yang sudah menunggu di depan kantor, bergegas menaiki motor Vita saat temannya itu datang.
“Udah lama ya, Dir kita nggak main,” ucap Vita mengeraskan suaranya agar tak kalah dengan suara angin.
__ADS_1
“He'eh. Bayangkan, Vit, aku harus kuliah dan sedang banyak tugas, terus kerja juga di sana, aku juga sambil kerjakan tugas freelance ku. Belum lagi kalau lagi bertengkar sama Mas Aji, huh, pusing,” curhat Syadira pada Vita.
Vita hanya tertawa mendengar curhatan temannya itu. Mereka memang sudah lama tak saling bertukar cerita. Selang 20 menit, mereka sampai di kafe tempat mereka akan makan.
“Di sana aja, Dir,” tunjuk Vita pada salah satu meja yang kosong.
Mereka pun duduk setelah memesan makan dan membayarnya di kasir.
Saat Vita ingin mulai bertukar cerita, ia tak sengaja melihat Luna yang sedang makan di meja sebelahnya bersama seorang teman perempuannya. Sontak Vita memberikan kode pada Syadira bahwa itu lah yang bernama Luna. Syadira pun mencoba mengingat wajah wanita tersebut, yang pernah ia lihat saat makan siang bersama Aji.
“Oh iya betul!” ujar Syadir mulai ingat.
Mereka kemudian berhenti berbicara dan mendengarkan percakapan Luna dengan temannya, saat Luna mulai menyebut nama Aji.
“Asli, dia tampan sekali. Sepertinya belum ada istri,” ucap Luna pada temannya.
“Jadi kapan kalian mau bertemu lagi?” tanya teman Luna yang antusias mendengarkan cerita Luna tentang Aji.
“Besok. Kita sudah janjian bertemu di lokasi butik, aku mau ajak dia makan siang lagi besok. Aduh aku harus pakai baju apa ya,” ucap Luna yang tengah gugup akan bertemu dengan Aji.
Vita dan Syadira saling bertatapan. Vita menganggukkan kepalanya, seolah Syadira paham akan maksud Vita untuk melihat kejujuran Aji esok hari. Vita pun menepuk-nepuk bahu Syadira untuk menenangkannya agar tidak cemburu, karena sampai detik ini, hanya Luna yang tampak menyukai Aji, namun tidak sebaliknya.
__ADS_1
Melihat penampilan Luna, Syadira kembali tak percaya diri. Semua wanita yang menyukai Aji, tidak satu pun ada yang membuatnya merasa menang. Apa iya Aji akan tetap memilihnya?
...****************...