Belenggu Cinta Kontrak Sekretaris CEO

Belenggu Cinta Kontrak Sekretaris CEO
Kita Harus Bertahan


__ADS_3

Setelah dari restoran, Aji segera menuju kos Syadira. Di sana ia bertemu dengan Vita yang baru saja keluar dari kamar kekasihnya. Vita meminta Aji untuk tak menemui Syadira malam ini dan kembali lagi besok.


Aji memastikan apakah Syadira telah melihatnya sedang makan malam bersama Luna. Vita memberi jawaban yang tak Aji inginkan, bahwa mereka baru saja dari restoran dan melihat Aji sedang bersama Luna. Vita juga menceritakan tentang pesan dari nomor tak dikenal yang meminta Syadira untuk datang ke restoran malam ini. Vita juga memberitahu Aji nomor yang menghubungi Syadira.


Dengan terpaksa, Aji pulang dengan perasaan tak tenang. Ia harus segera menjelaskan pada Syadira tentang kesalahpahaman ini. Tetapi di satu sisi, seperti saran Vita bahwa ia tak boleh egois dan membiarkan Syadira sendiri dulu.


Keesokan paginya, Aji sengaja datang kembali ke kos Syadira.


Syadira yang juga baru saja keluar kamar, terburu-buru untuk berangkat ke kampus. “Aku ada ujian pagi ini, Mas.”


“Aku antar ya,” tawar Aji mengejar Syadira.


“Pasti telat kalau naik mobil, aku sudah pesan ojek,” tolak Syadira yang menghindari Aji.


“Oke oke, tapi nanti aku jemput ya, kamu fokus ujian dulu sekarang,” pesan Aji sembari memeluk Syadira.


Syadira hanya mengangguk dan meninggalkan Aji menghampiri ojek yang sudah menunggunya. Aji terus memandangi kekasihnya yang berlalu menjauh dari pandangannya. Aji pun segera menuju mobilnya.


###


Suasana ruang ujian tiba-tiba menjadi heboh ketika salah satu teman sekelas Syadira yang telah merampungkan ujiannya, melihat seorang lelaki berkacamata hitam di parkiran mobil tak jauh dari kelas Syadira. Syadira yang baru saja mengumpulkan lembar ujiannya pun keluar kelas bersama teman-temannya yang lain. Teman-teman Syadira yang lain pun sontak ikut heboh mengagumi lelaki bekemeja rapi yang sedang berdiri bersandar di kap mobilnya.


“Ya Tuhan tampan sekali mas mas itu,” sahut salah satu teman Syadira bak pengagum artis kondang.


Syadira yang penasaran, melihat ke arah pandangan teman-temannya. “Mas Aji.”


Syadira pun segera menghampir Aji. “Aku belum minta jemput kenapa Mas Aji sudah di sini. Mereka jadi heboh gara-gara kamu.”


“Hai, Sayang, sudah selesai ujiannya?” tanya Aji sambil memandang ke arah teman-teman Syadira.

__ADS_1


Syadira segera meminta Aji untuk masuk mobil dan meninggalkan kampus.


“Kenapa memangnya sama teman-teman kamu?” Aji tak paham mengapa banyak yang memperhatikannya.


“Heran mungkin kenapa bisa ada mas mas tampan di sini,” jawab Syadira cuek sambil memainkan ponselnya.


Teringat akan masalah semalam, Aji segera menjelaskan pada kekasihnya itu bahwa ayahnya yang sengaja mempertemukan dirinya dengan Luna untuk makan malam. Ia tak berniat ingin berbohong, apalagi memang ingin makan berdua bersama wanita lain. Nomor yang menghubungi Syadira adalah ulah anak buah ayahnya agar Syadira marah bahkan meminta putus pada Aji. Syadira bergeming dan tetap memainkan ponselnya.


Melihat Syadira yang seolah tak mau mendengarkan penjelasannya, Aji mendekatkan wajahnya pada wajah kekasihnya itu. “Sayang, aku bicara sama kamu, boleh disimpan dulu ponselnya?”


Syadira kemudian menyimpan ponselnya di tas. Pandangannya lurus ke depan, tak sekali pun melihat ke arah Aji. Sejujurnya, dirinya masih kecewa karena Aji tidak segera meninggakan Luna ketika tahu mereka hanya berdua.


Syadira menghela nafas panjangnya. “Tapi lumayan menikmati makan malam berdua ‘kan? Kalau sudah tahu hanya berdua, kenapa tetap di sana?”


Aji terus menatap Syadira dan memengang tangannya, serta mencium punggung tangan kekasihnya itu. Aji menjelaskan bahwa ia tak enak karena sudah berada di sana. Aji pun sama sekali tidak menginginkan bahkan menikmati pertemuan semalam. Aji hanya ingin segera menyeleseikan makannya dan pulang.


“Sebegitu tidak sukanya ayah Mas Aji sama aku sampai sekeras itu usahanya terhadap hubungan kita. Kenapa tidak mau mencoba, siapa tahu pilihannya yang terbaik,” Syadira mulai pesimis.


“Aku bisa aja tetap memperjuangkan hubungan ini, tapi semua akan sia-sia kalau sikap Mas Aji sendiri yang justru membuka peluang. Mas Aji tidak tegas menolak, aku kecewa!” tegur Syadira yang tak suka dengan sikap Aji yang tidak tegas.


Menyadari Syadira yang tengah kecewa pada sikapnya, Aji hanya mampu meminta maaf dan akan berusaha lebih tegas lagi apa pun alasannya. Seolah Syadira sudah bosan dengan ucapan Aji, ia tak ingin berharap lebih pada hubungannya. Ia hanya ingin pasrah apa pun yang terjadi.


###


Saat tiba di rumah, Aji kembali menemui ayahnya untuk membicarakan tentang tindakan sang ayah yang keterlaluan.


“Mau Ayah apa? Ayah egois. Dari dulu Ayah selalu merasa kebahagiaan Ayah adalah kebahagiaan Aji. Aji benar-benar kecewa sama Ayah!” Aji memulai mengajak ayahnya berdebat.


Kakek Aji yang juga sedang berada bersama mereka pun tak mengerti apa-apa dan meminta Aji untuk menjelaskan ada apa sebenarnya. Aji pun menjelaskan perihal tindakan ayahnya yang sudah di luar batas. Aji juga kembali menegaskan bahwa ia begitu mencintai Syadira. Perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, sekali pun pada Bella, dan bahkan mungkin tidak akan ia rasakan kembali sesudahnya.

__ADS_1


Aji kecewa pada ayahnya yang tidak dapat memahami hatinya. Ayah Aji hanya peduli pada kehendaknya pribadi, tanpa memikirkan perasaan Aji. Aji pun akan pergi jika hidupnya terus diatur oleh sang ayah.


“Ayah hanya mau yang terbaik untuk kamu, Ji!” debat ayah Aji.


“Yang terbaik untuk Aji cuma Syadira, Yah! Aji tahu mana yang tepat untuk Aji!” bantah Aji.


Melihat perdebatan antara anak dan cucunya, kakek Aji menengahi mereka. “Sudah cukup, Ji, cukup, Yo!”


“Ayah sudah pernah bilang sama kamu jangan ikut campur soal pribadi Aji. Kalau untuk sekolahnya, pekerjaannya, silakan, tapi untuk masalah perasaannya, tak perlu kamu mengaturnya terlalu jauh,” lanjut kakek Aji.


Aji juga mengancam akan keluar dari perusahaan kakeknya, juga dari rumahnya bila kehidupannya terus diatur sang ayah. “Aji masih punya bisnis sendiri yang tidak terikat dengan bisnis Kakek, Aji juga punya rumah yang Aji beli dari tabungan Aji sendiri!”


Mendengar ancaman cucunya, kakek Aji menghampiri dan memeluknya. “Sudah, Ji, sudah, jangan gegabah. Kakek tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu dan ayahmu. Kalau kamu pergi, siapa yang akan melanjutkan bisnis Kakek, ayahmu sudah mulai menua. Kamu harapan Kakek satu-satunya.”


“Aji juga tak ingin meninggalkan Kakek, tapi Aji juga punya perasaan, Kek! Aji juga berhak memilih, Ayah tidak bisa memperlakukan Aji seperti ini terus,” tegas Aji meninggalkan ayah juga kakeknya.


Kakek Aji memandang ayah Aji dengan penuh amarah, lalu pergi meninggalkannya.


###


Keesokan paginya, Aji sudah bersiap di depan kamar Syadira untuk mengantarnya ke kampus.


Saat Syadira keluar kamar, Aji terpukau dengan penampilan Syadira yang sedikit berbeda dari biasanya. Ia terlihat seperti wanita karir yang cantik dan anggun. Syadira begitu terlihat elegan dan berkelas.


Syadira yang masih kesal, meminta Aji untuk tidak mengantar jemputnya lagi. “Mulai sekarang aku bisa berangkat sendiri, Mas Aji tidak perlu repot-repot ke sini.”


Aji hanya tersenyum menggoda sembari menggandeng tangan Syadira menuju mobil. "Kamu berbeda hari ini."


"Aku ada ujian presentasi di kampus, pakaiannya harus formal, tidak boleh sesantai biasanya," jawab Syadira ketus.

__ADS_1


Aji membisikkan pujiannya pada kekasihnya itu. "Kamu cantik sekali, aku mau pingsan."


...****************...


__ADS_2