Belenggu Cinta Kontrak Sekretaris CEO

Belenggu Cinta Kontrak Sekretaris CEO
Alumni Kekasih Kontrak


__ADS_3

“Duh lupa bawa minum. Kalau ada mini market berhenti sebentar ya, saya mau beli air mineral,” pinta Pak Haryo pada sopirnya.


“Sekitar jalan ini tidak ada mini market, Pak, yang ada warung kelontong itu di depan. Saya belikan di sana saja kalau Bapak sudah haus,” tawar sopirnya yang memberhentikan mobil dan bersiap turun dari mobil.


Pak Haryo pun memberikan uangnya pada sopir, sementara ia menunggu di dalam mobil.


Beberapa menit kemudian, ayah Aji heran kenapa sopirnya lama sekali dan malah berbincang dengan pemilik warung. Tak lama, ia melihat Syadira yang juga tengah ingin membeli sesuatu di warung kelontong tersebut. Dari dalam mobil, Pak Haryo tampak melihat sopirnya berbicara sebentar pada Syadira kemudian segera menuju ke dalam mobilnya.


“Ada apa kok lama sekali, saya sudah haus. Kamu tau ‘kan saya tidak boleh sampai kehausan,” tegur ayah Aji.


“Maaf, Pak Haryo, tadi ibu warungnya tidak punya kembalian, uang Bapak sama seperti uang saya, 100 ribuan. Terus datang mbak yang tadi, dia mau beli minum juga, jadi sekalian bayar minuman ini karena kebetulan dia ada uang receh,” jelas sopir Pak Haryo.


Ayah Aji terdiam mendengar penjelasan sopirnya dan meminta untuk melanjutkan perjalanan.


Selama di perjalanan, ia tak henti memikirkan Syadira. Di satu sisi, ayah Aji mengenal Syadira sebagai perempuan yang baik dan tulus, namun di sisi lain, ia merasa Syadira belum pantas untuk Aji, salah satunya karena latar belakang keluarga Syadira. Apa kata rekan kerja dan koleganya nanti jika tahu menantunya bukan dari keluarga terhormat. Tetapi, jika ia terus seperti itu, maka hubungannya dengan anaknya tidak akan membaik. Sudah 2 hari ini Aji tak pulang, ia tidur di rumahnya sendiri.


###


Hari ini, ayah Aji mendapati Aji tak masuk kantor. Ia menghubungi anaknya namun tidak ada jawaban. Ayah Aji sengaja membiarkan Aji 1 hari ini saja, jika besok anaknya masih tak masuk kantor juga, ia akan menemui Aji di rumahnya.


Sementara itu, Aji yang masih berada di kamarnya, terkulai lemas karena demam. Ia mengecek ponselnya, begitu banyak pesan dan panggilan telepon, salah satunya dari Syadira. Karena tak ingin membuat kekasihnya cemas, ia menghubungi Syadira untuk memberitahukan keadaannya, bahwa ia hanya ingin istirahat hari ini dan tak ingin ke mana-mana.


20 menit kemudian, Syadira tiba di rumah Aji, dan dengan lemas, Aji membukakan pagar dan pintu rumahnya.


“Kamu nggak kuliah?” tanya Aji yang heran kekasihnya nekat mendatanginya.


“Nggak ada kelas, diganti minggu depan. Makanya aku langsung ke sini. Mas Aji mau aku antar ke rumah sakit?” tawar Syadira yang khawatir akan keadaan kekasihnya itu.


Aji menggeleng tersenyum. “Nggak perlu. Aku sudah sehat setelah melihat kamu.”

__ADS_1


Syadira pun memberikan obat yang baru saja dibelinya di apotek, dan meminta Aji untuk meminum obat demamnya.


“Terima kasih, Sayang,” ucap Aji memegang tangan kekasihnya.


Syadira meminta agar Aji segera ke rumah sakit kalau sampai nanti siang keadaannya memburuk, karena 1 jam lagi Syadira harus sudah di kantor. Ia takut ada apa-apa dengan Aji, sedangkan ia sedang tak ada bersamanya. Syadira pun memeluk Aji karena mencemaskan keadaan sang kekasih.


“Aku mau sakit aja deh, biar bisa dipeluk terus,” ujar Aji spontan.


Syadira memukul lengan Aji.


Syadira lalu menanyakan apakah Aji tak mau memberitahukan keadaannya pada sang ayah dan kembali pulang ke rumah kakeknya, setidaknya agar ia tak sendirian saat sedang sakit seperti sekarang.


“Aku sudah izin sakit tidak masuk kantor. Kalau untuk pulang ke rumah kakek, aku akan pulang kalau sudah tenang,” jelas Aji.


“Memang sekarang belum tenang? Sudah dipeluk belum tenang juga?” goda Syadira yang masih terus memeluk Aji.


###


Ayah Aji yang baru saja mendapat laporan bahwa Aji tidak masuk kantor karena sakit, seketika panik dan meminta sopirnya untuk mengantarkannya ke rumah Aji.


Selang beberapa menit, ayahnya pun tiba di rumah Aji. Pintu Aji yang tak dikunci, membuatnya langsung bisa memasuki rumah anaknya itu. Ayah Aji mendapati anaknya sedang berbaring di dalam kamarnya yang terbuka.


“Aji, kamu kenapa? Masih sakit? Ayo ke rumah sakit saja,” ajak sang ayah yang khawatir dengan keadaan anaknya.


“Aji sudah lebih baik sekarang, setelah minum obat yang dibelikan Syadira tadi. Aji sudah tidak demam,Yah, tinggal lemasnya aja. Kalau dipakai tidur juga nanti siang sudah sehat,” ucap Aji datar.


Ayah Aji menghela nafas. “Jadi dia tahu lebih dulu tentang keadaanmu dari pada Ayah?"


Aji menjelaskan bahwa ayahnya memang menemuinya namun tidak membawa apa pun dan hanya mengajaknya ke rumah sakit, padahal ia hanya demam dan bisa sembuh dengan obat. Sedangkan Syadira, langsung ke rumah Aji dengan membawakannya obat-obatan sebagai pertolongan pertama. Kalau pun keadaan Aji tak membaik, ia akan menemani Aji ke rumah sakit.

__ADS_1


Aji juga menceritakan saat dirinya dahulu masih bersama Bella, Bella juga melakukan hal yang sama seperti yang ayahnya lakukan ketika Aji sedang sakit. Hanya Syadira lah yang selalu tulus pada Aji, selalu mengkhawatirkan keadaannya, dan selalu berusaha melakukan apa pun untuk Aji. Syadira bahkan meminta Aji untuk pulang ke rumah kakek dan memberi kabar pada ayahnya jika ia sedang sakit.


“Yang namanya orang kalau sedang jatuh cinta, apa pun dianggapnya terbaik,” ucap ayah Aji.


“Bagi Aji, Bella dulu juga terbaik saat Aji masih mencintainya, tapi nyatanya juga apa yang Bella berikan tidak sebaik yang Syadira berikan,” jawab Aji yang membuat ayahnya terdiam tak ingin melanjutkan perdebatannya.


###


Sore hari sepulang kantor, Syadira menemui Aji kembali di rumahnya. Ia melihat sebuah mobil terparkir di depan rumah Aji. Syadira pun masuk ke dalam rumah dan melihat Luna sedang berbincang di ruang tamu dengan kekasihnya. Luna yang sepertinya belum lama datang, membawakan Aji makanan, sama seperti dirinya yang juga membawakan makanan.


Seolah berpura-pura ingin terlihat baik-baik saja, Syadira dengan manis menyapa Aji.


“Mas Aji sudah baikan? Sudah makan?” tanya Syadira sembari menghampiri Aji dan mencium keningnya di depan Luna.


Aji pun tersenyum melihat sikap kekasihnya yang tak seperti biasanya itu. “Sudah lebih baik setelah minum obat dari kamu tadi pagi. Sayang bawa apa?”


Syadira pun duduk di dekat Aji dan menceritakan bahwa ia membawa sup hangat untuknya. Luna yang seolah tak dianggap, memasang raut muka kecewa dan kesal. Syadira yang berpura-pura baru menyadari kehadiran Luna, kemudian menyapanya. “Teman Mas Aji?”


Luna menggangguk dengan terpaksa. Aji pun segera memperkenalkan Syadira sebagai calon istrinya kepada Luna, dan sebaliknya, Aji memperkenalkan Luna sebagai kliennya pada Syadira. Mimik muka Luna semakin memperlihatkan senyum palsunya.


Melihat Luna yang semakin terlihat kepanasan, membuat Syadira semakin ingin menunjukkan kemesraannya dengan Aji. Ia berkali-kali menyandarkan kepalanya di bahu Aji. Aji pun dengan senang hati merespon sikap kekasihnya itu.


Tak lama, Luna berpamitan pada mereka dengan muka tak senang.


“Kebiasaan waktu masih pacaran kontrak nih!” ucap Syadira tertawa lirih pada Aji ketika melihat Luna telah pergi meninggalkan rumah Aji.


Mereka pun tertawa bersamaan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2