Belenggu Cinta Kontrak Sekretaris CEO

Belenggu Cinta Kontrak Sekretaris CEO
Romantic Man


__ADS_3

Hancurnya hati Syadira saat itu, momen yang seharusnya bahagia, berubah menjadi petaka. Ia benar-benar tak sanggup membayangkan bagaimana nasib hubungannnya ke depan. Baginya, keluarga Aji belum merestui hubungan mereka.


Karena Syadira tak mau menerima penjelasan Aji, Aji terpaksa meminta bantuan adik Syadira untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Elma terus membujuk Syadira agar mau menemui Aji, namun nihil. Ditambah, tugas kuliah Syadira yang seolah tak mau berempati pada nasibnya, membuat Syadira sibuk akhir-akhir ini dan lebih banyak waktu di kampus untuk menyeleseikan tugas-tugas kelompoknya.


Malam ini, Elma ingin mengajak Syadira makan malam di salah satu kafe hits di Jakarta. Sebelum kembali ke rumah neneknya, ia ingin pergi bersama sang kakak untuk sekadar jalan-jalan. Tanpa pikir panjang, Syadira pun mengiyakan permintaan sang adik.


Mereka pun berangkat dengan taksi online.


“Nanti kita foto-foto ya, Kak,” pinta Elma memanja.


Syadira hanya mengangguk. Betapa beruntungnya ia masih memiliki Elma dan neneknya. Entah apa yang terjadi jika dirinya hidup sebatang kara. Apalagi, di saat-saat terendahnya saat ini, ketika ia merasa direndahkan, dipermainkan, dan disakiti.


Syadira menyandarkan kepalanya ke jendela mobil, merenungi nasibnya. Matanya sembab dan hampir membengkak. Elma menggenggam tangan Syadira dan menyandarkan tubuhnya ke bahu Syadira, ketika tahu sang kakak mulai kepikiran lagi akan hubungannya.


Jalanan yang sedang tak begitu ramai, membuat mereka cepat sampai ke kafe yang dituju. Elma segera mengajak sang kakak masuk. Syadira pun mengikuti sang adik yang sangat antusias.


Syadira menghentikan langkahnya. Ia melihat Aji di salah satu meja yang penuh dengan bunga. Aji menatapnya penuh kerinduan.


Elya membisikkan sesuatu pada kakaknya. “Maaf ya Kak, Mas Aji yang meminta. Semoga Kakak kembali tersenyum, Elma tak suka melihat Kakak menangis. Elma duduk di sana ya, Kak, Elma sudah lapar mau pesan makan dulu.”


Syadira menghampiri meja Aji dengan langkah pelan. Aji berdiri dan menggandeng tangan Syadira, mempersilakannya duduk berhadapan dengannya. Aji tak melepaskan genggaman tangannya.

__ADS_1


Aji meminta maaf atas apa yang terjadi saat itu. Ia juga marah karena acaranya dirusak oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Aji mengatakan telah membereskan masalah ini, dibantu oleh sang kakek yang selalu ada untuknya.


Syadira terdiam tak minat berbicara. Ia masih sangat kesal dan kecewa jika mengingat kejadian itu. Syadira melepaskan genggaman tangan Aji.


“Lebih baik tidak perlu ada acara seperti itu lagi, Mas. Kita juga tidak bisa menjamin akan berjodoh,” ucapnya datar.


Aji meminta Syadira untuk tak berbicara seperti itu lagi. Aji ingin mereka harus optimis dalam memperjuangkan hubungan. Aji juga terus membujuk Syadira agar memaafkannya dan melupakan kejadian waktu itu.


“Kalau hari itu aku gagal menyematkan cincin, boleh ‘kan kalau aku menggantinya sekarang?” tanya Aji mengeluarkan kotak cincin yang sudah disiapkannya.


Syadira terdiam melihat usaha Aji yang selalu memperlakukannya dengan manis.


Aji mulai menyematkan cincin di jari manis Syadira. “Kalau tidak cukup kita tukar besok ya.”


Kemudian Aji mengajak Syadira ke rooftop. Aji memeluk mesra Syadira dari belakang. Mereka berbincang sambil menikmati udara malam kota Jakarta.


###


“Jadi benar kamu yang sengaja merusak acara Aji kemarin?” Papa Selena mulai mengintrogasi anak perempuannya.


Selena hanya terdiam mengangguk pelan.

__ADS_1


Semenjak kejadian saat itu, papa Selena menentang keras jika Selena masih mengejar-ngejar Aji. “Kamu itu perempuan, harus punya harga diri! Jangan bikin malu dengan mengemis cinta dari laki-laki! Kamu yang seharusnya dikejar oleh lelaki, bukan sebaliknya. Apalagi, kamu perempuan berkelas, sangat tidak pantas kamu merendahkan dirimu sendiri hanya demi Aji!”


Papa Selena juga telah mencabut kerja sama dengan perusahaan kakek Aji tanpa membayar denda karena Aji sendiri yang memintanya.


Selena tak ada pilihan lain selain menuruti perkataan sang papa. Lagi pula, apa yang dikatakannya memang benar. Selama ini, Selena melihat Bella menjatuhkan harga dirinya untuk Aji. Sekarang, dia sendiri juga melakukan hal serupa.


“Tapi aku begitu mencintai kamu, Ji. Aku ingin memperjuangkanmu. Tapi ternyata aku salah, aku tak akan bisa berbuat apa-apa ketika kamu telah menjatuhkan hatimu untuk yang lain,” ucapnya dalam hati.


Sementara itu, ayah Aji tengah murka dengan kelakuan anaknya. Bukan hanya soal hubungan Aji dengan Syadira, tapi juga soal pemutusan kerja sama dengan perusahaan papa Selena. Ayah Aji sengaja menunggu Aji pulang karena ingin membicarakan masalah ini dengan serius.


“Ayah mau bicara!” tegas ayah Aji saat mengetahui anaknya baru sampai rumah.


Aji seakan paham akan topik pembicaraan ayahnya. “Soal kerja sama Selena?”


“Perempuan itu sudah merusak kamu. Karena dia kita kehilangan 1 proyek. Ayah pikir pengaruhnya tak akan sebesar ini, tapi ternyata dia juga bisa merubah kamu menjadi keras kepala!” tutur ayah Aji dalam menilai Syadira.


“Aji memang dari kecil sudah keras kepala. Tapi memang baru sekarang Aji menunjukkannya. Karena Aji bukan anak kecil lagi yang bisa Ayah setir. Selama ini, Aji selalu mengikuti perkataan Ayah karena ibu. Kalau bukan ibu yang minta, Aji mungkin sudah seperti ini sejak kecil,” jujur Aji mengungkapkan perasaannya.


“Ayah salah kalau menuduh Aji menjadi seperti ini karena Syadira. Dia justru tidak pernah ikut campur soal perusahaan dan keluarga Aji. Justru seharusnya Ayah khawatir kalau mempunyai menantu seperti Selena. Dia bisa saja disetir papanya untuk menguasai aset kita,” lanjut Aji.


“Satu lagi, soal kerja sama yang berhenti, karena dari awal tujuan kerja sama ini menyimpang. Aji tidak pernah bisa tulus mengerjakan proyek seperti itu. Ibu mengajari Aji menjadi laki-laki yang bisa menilai baik dan buruknya sesuatu. Hingga hari ini, Aji hanya bisa menggarap sesuatu dengan hati, jika sesuatu itu baik,” tambahnya sembari meninggalkan sang ayah.

__ADS_1


Aji menghentikan langkahnya dan kembali menuruni tangga menghampiri ayahnya. “Apa dari tangan Syadira yang mencium tangan Ayah kemarin, tidak bisa membuat Ayah menilai apakah dia baik atau buruk?”


...****************...


__ADS_2