Belenggu Cinta Kontrak Sekretaris CEO

Belenggu Cinta Kontrak Sekretaris CEO
Kisah Yang Manis


__ADS_3

Aji sengaja ingin berangkat ke kantor lebih siang, karena ingin mengobrol sebentar bersama kakeknya sambil meminum teh hangat di pagi hari. Tujuan Aji sebenarnya adalah karena ingin bertanya perihal ayahnya semalam. Ia ingin tahu apa maksud ayahnya berkata seperti itu.


Mendengar cerita Aji, kakek hanya tersenyum sembari menyeruput teh hangatnya. “Ayahmu itu adalah laki-laki yang keras kepala persis seperti kamu, ditambah karena tuntutan pekerjaan menjadikan dia semakin keras.”


Aji yang masih tak paham, terus bertanya pada kakeknya.


“Ayahmu dan ibumu memiliki karakter yang berlawanan. Ibumu yang begitu lembut dan penuh kasih sayang ketulusan. Makanya, ayahmu begitu mencintai ibumu, karena hanya dia lah wanita yang sanggup meredakan amarah ayahmu, juga ego dan amarahmu. Kamu ingat ‘kan setiap kamu tak setuju dan ingin protes terhadap perintah ayahmu, kamu selalu berlari mencari dan memeluk ibumu,” ungkap kakek Aji mengingatkan pada masa lalu.


Aji kembali mengingat sang ibu yang begitu menyayanginya. “Mungkin kalau ibu masih ada, ibu bisa membantu Aji berbicara pada Ayah agar mau merestui hubungan Aji.”


Kakek Aji tersenyum dan menepuk pundak cucu kesayangannya itu. “Tidak perlu.”


“Ayahmu hanya perlu mengenal dekat kekasihmu itu, maka ia akan ingat pada kelembutan ibumu. Apa yang kekasihmu ucapkan kemarin, adalah yang pernah ibumu ucapkan pada ayahmu dulu,” lanjut kakek Aji.


“Aji masih tak paham, Kek,” ucap Aji dengan mimik wajah kebingungan.


Kakek Aji menceritakan bahwa dulu, hubungan ayah dan ibunya sempat ditentang oleh kakek dan nenek dari ibu Aji. Karena perekonomian kakek dan ayah Aji yang masih belum stabil, membuat mereka tak merestui hubungan anaknya. Mereka lebih memilih ibu Aji menikah dengan seorang pegawai pemerintahan yang jelas gaji dan pensiunnya, dibandingkan ayah Aji yang masih membantu merintis bisnis kakek Aji saat itu. Mereka tidak suka mempunyai menantu seorang pengusaha yang gajinya tak jelas, kalau sedang untung bisa tinggi, kalau sedang rugi ya bisa terancam bangkrut. Hingga suatu ketika, ayah Aji ingin menyerah dan meminta ibunya meninggalkannya dan mengikuti perkataan orang tuanya.


Ibu Aji justru meminta agar ayah Aji lah yang meninggalkan dirinya kalau memang ingin berpisah. Ibu Aji tak ingin menyakiti ayah Aji dengan meninggalkannya dan menikah dengan pilihan orang tuanya. Jawaban ibu Aji itu lah yang akhirnya membuat ayah Aji tetap memperjuangkan hubungan mereka.


“Maka dari itu, ayahmu terkejut ketika jawaban itu yang ia dengar keluar dari mulut kekasihmu,” lanjut kakek Aji.


Aji juga mempertanyakan kenapa kakeknya bisa mengetahui pertemuan mereka.


"Ayahmu sendiri yang cerita," jawab kakek Aji dengan singkat.

__ADS_1


“Tapi, apa maksud ayah mengatakan apa benar dia yang dimaksud? Maksudnya dia siapa, Kek?” Aji terus ingin tahu.


“Dulu, ibumu pernah berangan-angan jika ia ingin memiliki menantu yang memiliki karakter seperti dia agar kamu tetap merasakan kasih sayang dan ketulusan seorang wanita ketika ibumu meninggal suatu saat nanti. Mungkin itu adalah firasatnya sebelum ibumu meninggal,” jawab kakek Aji yang membuat Aji paham.


Setelah saling berbincang cukup lama, dan karena hari sudah semakin siang, Aji berpamitan pada kakeknya untuk segera berangkat ke kantor.


###


“Boleh duduk di sini, Dir?” tanya seorang lelaki yang menghampiri Syadira yang sedang makan di kantin kampusnya.


“Rio, duduk, Yo,” jawab Syadira menggeser barang-barangnya yang berserakan di meja.


Rio meletakkan baki yang berisikan piring dan gelas di atas meja dan duduk berhadapan dengan Syadira. Mereka pun saling mengobrol sambil menyantap makan siang. Rio merasa nyaman berteman dekat dengan Syadira karena mereka berdua seumuran.


“Aku mau pulang, Yo. Tadinya mau pulang, tapi akhirnya makan siang sekalian biar nanti di kos tinggal istirahat. Kenapa, Yo?” tanya Syadira ramah.


Rio bermaksud ingin mengantar Syadira pulang, tapi Syadira menolaknya karena ia teringat akan pesan Aji kala itu.


“Kamu pulang naik ojek atau dijemput sama abang kamu yang kemarin itu?” tanya Rio memastikan kembali.


“Saya calon suaminya,” sahut Aji yang tiba-tiba muncul di belakang Syadira.


Sontak Syadira tersedak melihat kekasihnya yang berdiri di belakangnya. Begitu pun dengan Rio yang terkejut mendengar perkataan Aji. Rio kemudian meminta maaf dan mempersilakan Aji untuk duduk.


“Kita mau pulang kok, Yo, aku duluan ya,” pamit Syadira bergegas menggandeng tangan Aji keluar dari kantin.

__ADS_1


Sampai di mobil Aji, Syadira bertanya pada Aji kenapa bisa tiba-tiba ada di sana tanpa memberi kabar terlebih dahulu.


“Biar aku bisa menyidak kamu,” ucap Aji dingin.


Syadira langsung menjelaskan awal mula ia makan bersama Rio yang tak disengaja itu. “Lihat aja CCTV kantin kalau nggak percaya.”


Aji terus memandang kekasihnya penuh cemburu, sedangkan Syadira memalingkan mukanya agar tak terus dilihat oleh Aji.


“Apa sih, Mas?” Syadira mulai malu karena Aji tak juga memalingkan pandangannya.


“Kenapa dia bisa bilang aku abang kamu? Kamu pernah memperkenalkan aku ke dia seperti itu?” tebak Aji yang tak terima dengan ucapan Rio.


Syadira menggeleng. “Aku juga nggak tahu kenapa dia bisa asal sebut, aku nggak pernah bilang begitu.”


Syadira tertawa melihat ekspresi wajah Aji yang menggemaskan. “Pulang yuk, aku mau tidur siang. Mas Aji harus kembali ke kantor ‘kan?”


“Ingat aku bilang apa kemarin, jangan terima tawaran apa pun dari teman laki-laki.” Aji mengingatkan kekasihnya.


Syadira kembali menjelaskan bahwa dirinya sudah melakukan sesuai instruksi Aji dengan menolak tawaran Rio untuk diantar pulang, hanya saja soal makan, ia tak enak menolak Rio duduk di sana karena mereka menggunakan fasilitas kantin.


“Abang jangan marah-marah dong,” goda Syadira tertawa.


Aji hanya melirik Syadira dengan tatapan kesal dan mulai fokus menyetir.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2