
Seperti yang kakek Aji pernah katakan agar ayahnya mulai mengenal Syadira, Aji bermaksud ingin mempertemukan mereka. Sebelumnya, Aji ingin berbicara empat mata dengan sang ayah. Ia ingin membahas kembali cerita yang pernah diceritakan sang kakek.
Sayangnya, ayah Aji menolak pertemuan itu. Ia mengatakan masih mempertimbangkan Syadira sebagai menantunya. Kali ini, Aji tak ingin berdebat dengan ayahnya, semenjak tahu kisah pilu antara ayah dan ibunya. Aji hanya ingin terus membujuk ayahnya agar mau membuka hati untuk calon menantunya.
“Jadi Ayah tahu ‘kan sakitnya dipisahkan?” tanya Aji ingin ayahnya memahami perasaannya.
“Bukan kah masalah kita sama? Soal kesetaraan, hanya saja berbeda pihak,” lanjut Aji membuat ayahnya termenung.
Ayah Aji menghela nafas. “Ayah hanya tak mau Syadira merasakan apa yang Ayah rasakan dulu. Biar pun kondisi keuangan keluarga sudah membaik, kakek dan nenek dari ibumu tetap tidak bisa menerima Ayah, mereka terus membandingkan Ayah dengan suami tantemu yang seorang pegawai pemerintahan itu. Karena mereka dari awal menginginkan anak-anaknya bisa menikah dengan PNS.”
Aji meminta agar Ayahnya tidak melakukan hal yang seperti yang dilakukan oleh kakek dan neneknya, agar Syadira tidak merasakan apa yang ayahnya rasakan dulu.
“Justru itu, Ayah ingin mempertimbangkan dan tidak mau terburu-buru mengambil keputusan. Toh juga dia masih kuliah ‘kan. Jalannya masih panjang,” ujar ayah Aji.
Aji meminta agar ayahnya mencoba mengenal Syadira. Siapa tahu, pikiran ayahnya akan terbuka setelah mengenal dekat calon menantunya itu. Selama ini, ayah Aji hanya melihat Syadira dari latar belakangnya saja.
“Ji, masa lalu dan sekarang tidak bisa disamakan. Dulu, mungkin semuanya bisa tetap baik-baik saja, tapi sekarang, pentingnya mencari pasangan yang setara agar tak ada masalah di kemudian hari,” ungkap ayahnya.
“Jadi Ayah tetap tidak merestui hubungan Aji? Andaikan sampai nanti Aji tidak menemukan perempuan seperti Syadira, yang sama seperti ibu, apakah Ayah tetap menginginkan Aji terus mencari? Sampai Aji umur 40?” tantang Aji.
Ayah butuh waktu,” ucap ayah Aji pelan dan beranjak pergi dari tempat duduknya, meninggalkan Aji.
###
Pertemuan yang tak diinginkan oleh ayah Aji, tetapi dibantah oleh semesta. Siang ini, ayah Aji yang sedang mampir di sebuah supermarket, tak sengaja bertemu dengan Syadira. Mereka saling berpandangan dan Syadira menyapa hormat ayah dari kekasihnya itu.
__ADS_1
Syadira memberanikan diri mengajak bicara ayah Aji, tentu dengan intonasi pelan dan sopan. “Selain karena saya bukan dari keluarga kaya, apa yang membuat Pak Haryo tidak menyukai saya?”
Ayah Aji terdiam dan melanjutkan mengambil beberapa produk yang ingin dibelinya.
“Apa saya serendah itu dan tidak pantas untuk bersanding dengan Mas Aji? Pak Haryo jijik ya melihat perempuan yang miskin seperti saya? Tapi saya sama seperti perempuan lainnya kok, Pak. Badan saya bersih, tidak semenjijikkan itu,” Syadira melanjutkan pembicaraannya dengan penuh hormat.
Ayah Aji tak merespon apa pun dan pergi meninggalkan Syadira menuju kasir.
Tak lama, Syadira segera menuju kasir selesai ia mengambil minuman dan beberapa mi instan, namun saat akan membayar, karyawan kasir menolak uang pemberian Syadira, karena ayah Aji telah membayarnya.
“Bapak yang memakai kemeja biru tadi berpesan untuk membayar sekalian belanjaan mbak yang pakai baju putih,” ucap karyawan kasir yang menunjuk ayah Aji yang akan menaiki mobilnya.
Syadira menoleh ke sekeliling sudut supermarket untuk memastikan bahwa hanya dirinya yang memakai baju berwarna putih. Ia pun segera membawa kantong belanjanya dan bergegas lari keluar untuk mengucapkan terima kasih pada ayah Aji. “Terima kasih banyak, Pak.”
Ayah Aji tetap diam tak bergeming hingga mobilnya pun mulai melaju meninggalkan supermarket. Syadira terus berdiri memelas memandangi mobil ayah Aji yang perlahan menjauh. Namun sebenarnya, ayah Aji juga terus melihat Syadira dari spion mobilnya.
###
Sore ini, Aji berjanji akan menjemput sang kekasih di kampus. Mobil Aji berhenti di depan halte tempat Syadira menunggu. 10 menit berlalu, Syadira belum terlihat. Aji turun dari mobilnya dan duduk di halte menunggu Syadira.
Tak lama, Syadira datang menghampirinya. “Udah lama? Aku baru selesai kelas.”
“Baru datang kok. Kamu kenapa kok lesu?”
Karena tak ingin berbicara di tempat umum, Aji mengajak Syadira untuk masuk ke mobil.
__ADS_1
Syadira menceritakan tentang pertemuannya dengan ayah Aji tadi siang. Ia merasa ayah Aji sulit menerimanya. Hingga rasanya sudah tak mungkin melanjutkan semua ini. Syadira mengakui dirinya telah kalah.
Mendengar cerita kekasihnya, Aji tampak berpikir. Kemudian, mereka saling mengutarakan pendapat untuk menentukan nasib hubungan mereka. Mereka menyepakati keputusan yang telah didiskusikan, demi kebaikan bersama.
“Semoga ini adalah keputusan terbaik," ucap Syadira datar.
Aji mengangguk mantap dan menggenggam tangan Syadira.
Selesai mengantar Syadira ke kos, Aji memutuskan untuk segera pulang ke rumahnya. Ketika sampai rumah, ia terlihat lesu di depan kakek dan ayahnya yang tengah berkumpul di ruang televisi. Hingga kakek Aji bertanya padanya, namun Aji hanya menjawab tak ada apa-apa.
Beberapa hari ini hingga sudah hampir 1 minggu, Aji masih tampak tak bergairah dan kehilangan arah di depan kakek dan ayahnya. Aji juga tak tampak mengantar jemput Syadira, mereka pun tak pernah bertemu sejak terakhir Aji menjemput Syadira di kampus. Hingga suatu ketika, ayah Aji ingin berbicara empat mata dengan anaknya sebelum ke kantor.
“Kamu kenapa, Ji? Ayah perhatikan kamu tak seperti biasanya akhir-akhir ini.” Ayah Aji ingin mengorek lebih dalam tentang masalah yang sedang dialami Aji.
Aji menunduk. “Syadira meminta Aji menjauhinya.”
“Apa alasannya?” tanya ayah Aji ingin tahu.
“Karena Syadira tidak ingin membuat Aji dan ayah berjauhan dan terus berdebat hanya karena dia,” ucap Aji dengan mimik muka kecewa dan sedih.
Ayahnya hanya mampu menghela nafas panjang.
“Anda ibu masih ada, mungkin ibu bisa membantu Aji membujuk dan berbicara pada Ayah. Tapi semua sudah terlambat, Syadira sudah meminta Aji untuk menjauhinya, bahkan meninggalkannya. Mungkin memang sudah takdir Aji harus kehilangan orang-orang yang Aji cintai,” lanjut Aji memelas.
Kemudian, Aji berpamitan pada ayahnya untuk berangkat ke kantor lebih dahulu. Ayah Aji tetap duduk terdiam melihat anaknya yang melangkah pergi. Entah apa yang sedang dipikirkannya, apakah hatinya ikut sakit melihat Aji, atau justru bahagia karena kemauannya telah terpenuhi?
__ADS_1
...****************...