
Halo kak, boleh yuk mampir ke karya author yang lain, kebetulan karya ini mendapat reward 20 bab terbaik :)
###
Beberapa kali, mama Bara memang sengaja meminta Raya ke rumah. Seperti hari ini ini, Raya sengaja diundang mama Bara ke rumah. Syara yang membukakan pintu dan menemuinya terlebih dahulu ingin berbicara padanya. Syara menatap tajam mata Raya.
“Ray, apa kamu tidak malu begini terus?”
Belum sempat Raya menjawab, mama Bara muncul dari belakang Syara dan mempersilakan Raya masuk ke dalam. Mama Bara terus memuji-muji Raya seperti biasanya. Teganya, mama Bara juga masih terus mengungkapkan harapannya kalau Raya menikah dengan Bara, anaknya akan secantik dia dan setampan Bara.
Bara yang menuruni tangga, mendengar pembicaraan mamanya dengan Raya. Raut wajahnya kembali kesal, bukan hanya karena perkataan mamanya, tapi juga karena kehadiran Raya. Bara menghampiri Syara yang masih di depan pintu dan mengajaknya masuk ke dalam.
__ADS_1
“Bar, sini Mama mau bicara,” pinta mama Bara.
“Bar, kamu ‘kan tidak punya adik, juga tidak punya kakak, dan saat ini, kamu juga belum memiliki anak yang entah kapan bayi itu akan lahir ke dunia. Mama memikirkan generasi penerus perusahaan papa kamu nanti. Karena Mama dan Papa dulu bercita-cita kamu bisa memiliki banyak anak agar kelak ketika kamu sudah tua, mereka lah yang akan menggantikan kamu. Keinginan Mama sudah bulat seperti yang pernah Mama katakan sebelumnya, untuk kamu menikahi Raya. Soal Syara, tidak apa kalau kamu tetap bersamanya, siapa tahu nanti dia juga bisa punya anak, tapi kalau dia tidak mau ya ceraikan saja, karena Raya tidak masalah menjadi istri kedua kamu. Lagi pula, selain lama, kalau pun Syara akhirnya bisa hamil dan melahirkan, pasti akan sulit untuk hami lagi. Kamu tidak hanya butuh 1 anak untuk menjadi generasi penerus perusahaan keluarga kita,” ungkap sang mama tanpa perasaan.
Syara hanya mampu menghela nafas panjang mendengar ucapan yang menyayat hati itu keluar lagi dari mulut mertuanya. Tetapi kali ini mama benar-benar mempertegasnya. Bara yang tak mampu menahan amarahnya, sontak menolak permintaan sang mama.
“Dulu Mama memaksa Bara menikah dengan Syara, sekarang memaksa menikahi Raya, dan tak mempedulikan Syara. Mama pikir Bara ini apa, Ma? Semudah itu Mama mengatur hidup Bara. Jangan Mama pikir Bara akan selalu patuh sama Mama dan Mama bisa sesuka hati!” Bara meluapkan amarahnya.
“Bara, liat! Yesa saja sudah hamil saat ini! Masak kalah sama orang cacat!” ucap Mama membuat Bara semakin murka.
Hati Syara begitu sakit mendengar mama Bara membandingkannya dengan Yesa dan menyebutkan kekurangan fisik anak Om Gustav itu.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, Bara mengusir Raya dan memakinya. “Dasar wanita murahan! Tak tau diri, harusnya kamu malu dijadikan pengganti hanya karena kesuburan! Tak sudi aku menikahimu!”
Dengan tenangnya, Raya malah mengusap bibir Bara. "Kamu tidak melupakan ciuman kita di kantor kemarin 'kan?"
Syara terkejut mendengar ucapan Raya. Hatinya bertanya-tanya apa maksud Raya. Namun, Bara tak peduli, ia tetap mengusir Raya.
Setelah Raya pergi, Bara memperingatkan sang mama, jika masih berani menyakiti Syara dan memaksa Bara menikahi Raya, maka mereka akan pergi meninggalkan rumah. Setelah itu, Bara mengajak istrinya kembali ke kamar. Bara meyakinkan Syara agar tak khawatir dan memikirkan ucapan mamanya.
"Tapi apa maksud Raya tadi, Bar?" Syara mulai penasaran apa maksud ucapan Raya tadi.
Bara menjelaskan kejadian yang terjadi begitu cepat kemarin saat Raya datang menemuinya di kantor. Mendengar penjelasan Bara, raut wajah Syara menjadi kesal. "Jelas saja dia masih suka ke sini, kamu sendiri yang mempersilakannya masuk!"
__ADS_1
Bara terus berusaha menjelaskan pada Syara bahwa dirinya tak memiliki hubungan apa pun dengan Raya. Sedangkan Syara terus mendiamkan Bara. Ia tak terima Raya dan suaminya berciuman.
...****************...