Belenggu Cinta Kontrak Sekretaris CEO

Belenggu Cinta Kontrak Sekretaris CEO
Menjaga Hati


__ADS_3

Pagi hari saat tiba di kantor, Aji mendapati Selena sudah berada di ruangannya dan duduk bersantai di sofa.


“Apa yang kamu lakukan? Kenapa lancang sekali masuk ke ruanganku?” amuk Aji tak terima dengan perlakuan Selena.


“Maaf, Ji, aku cuma sedang menunggumu. Dari pada aku menunggu di sofa lobi, lebih enak duduk di sini,” jawab Selena tanpa mimik muka bersalah.


“Aku paling tidak suka ada orang lain yang menungguku di ruangan sebelum aku tiba di kantor. Apa keperluanmu?” Aji tak ingin berbasa basi ingin segera mengusir Selena.


Selena menjelaskan, bahwa kehadirannya di kantor Aji untuk segera membahas proyek kerja sama mereka. Mendengar hal ini, Aji kembali menegaskan padanya jika ia tak akan ikut dalam proyek ini. “Pekerjaanku banyak, aku ada rapat hari ini.”


Aji bergegas mengambil berkas-berkas di laci mejanya dan meminta Selena untuk segera keluar dari ruangan karena ia juga akan segera meninggalkan ruangannya.


Belum sempat Aji melangkah, salah seorang staf Aji izin masuk ke dalam ruangannya, dan memberikan berkas dalam map biru. “Pak Haryo meminta saya untuk menggantikan tugas Pak Aji dalam rapat hari ini karena Pak Aji diminta untuk memverifikasi berkas-berkas proyek ini.”


Selena tersenyum lebar mendengar laporan dari staf Aji yang baru saja meninggalkan ruangannya. “Apa aku bilang, 1 minggu ke depan kita akan sibuk, Ji.”


Tanpa menghiraukan Selena, Aji berjalan menuju ruangan ayahnya yang tak jauh dari ruangannya. “Ayah tidak bisa memberi tugas pada Aji tanpa kompromi dulu dengan Aji. Kenapa Ayah tiba-tiba mengganti tugas Aji? Apa rencana Ayah? Mau Aji bisa bersama Selena terus?”


Ayah Aji menenangkan putranya itu dengan santai. Beliau meminta Aji untuk mulai melakukan tugas ayahnya karena Aji tak akan selamanya menjadi sekretarisnya. “Kamu harus latihan menjadi Ayah, Ji. Mulai dulu saja dengan verifikasi berkasnya dan besok langsung terjun ke lapangan untuk melihat lahan.”


“Aji bisa saja melakukan tugas Ayah untuk hari ini, tapi Aji tak bisa jika besok. Kalau Ayah mau, Ayah yang ke lapangan besok!” ucap Aji pergi meninggalkan ayahnya untuk kembali ke ruangannya.


“Kamu tidak perlu menungguku di sini, aku tidak biasa bekerja jika ada orang lain di ruanganku. Kamu bisa pulang,” pinta Aji yang mulai menyalakan laptopnya.


Selena menghampiri Aji, memegang pundaknya, dan membisikkan sesuatu. “Ji, jangan galak kenapa sih?”

__ADS_1


“Mau aku coret semua berkas ini dan membatalkan proyek papa kamu atau kamu keluar sekarang dari ruanganku?” bentak Aji tanpa ampun.


Selena pun memberikan isyarat dia akan keluar dari ruangan Aji.


###


Keesokan paginya, Aji sudah bersiap menjemput sang kekasih dari rumah neneknya. Ia tak peduli pada perintah ayahnya yang meminta Aji ke lapangan hari ini. “Aji sudah bilang kalau hari ini Aji cukup sibuk. Mungkin besok atau lusa Aji baru bisa ke lapangan. Kalau Ayah mau, Ayah bisa pergi ke sana menggantikan Aji.”


“Aji!” teriak ayahnya.


Aji bergegas melajukan mobilnya dan acuh pada teriakan sang ayah.


Selama perjalanan, ia berpikir jika waktu 2 tahun terlalu lama untuknya. Ayahnya bisa saja melakukan apa pun untuk merusak hubungan Aji dengan Syadira. Aji pun berniat ingin melamar Syadira terlebih dahulu. Tak peduli ayahnya akan setuju atau tidak.


Setelah menempuh jarak puluhan kilometer, Aji tiba di kampung halaman Syadira. Selesai memarkir mobilnya, ia berjalan menuju rumah nenek Syadira. Ternyata, kekasihnya itu sudah bersiap di depan rumah.


Syadira menggeleng. “Aku juga baru selesai berkemas.”


Setelah dipersilakan minum, Aji dan Syadira kemudian berpamitan hanya pada sang nenek, karena Elma sudah berangkat kuliah dari tadi pagi. Nenek Syadira banyak membawakan bekal untuk mereka selama di perjalanan. Setelah menitipkan salam untuk Elma, mereka pun segera menuju ke mobil Aji, meninggalkan rumah nenek Syadira.


“Nenek selalu membawakan banyak makanan kalau aku pulang,” tawa Syadira.


Selama di perjalanan, ponsel Aji tak berhenti berdering. Melihat Aji yang selalu mematikan ponselnya, pikiran Syadira menjadi tak tenang. Ada apa sebenarnya? Kenapa harus dimatikan?


“Lagi banyak kerjaan, ya? Kenapa nekat jemput kalau tau begitu, aku ‘kan jadi gak enak,” ucap Syadira.

__ADS_1


Aji menggeleng. Ia tak mau bercerita pada kekasihnya itu tentang rencana ayahnya. Aji tak mau Syadira berubah pikiran ketika tahu ayahnya ingin dirinya bersama Selena. Untuk itu, Aji hanya menceritakan tentang kakeknya yang menyetujui hubungan mereka.


Karena tak ingin semakin meminta waktu Aji, Syadira bermaksud untuk mendaftar kuliah dan mengikuti tes masuk tanpa diantar Aji. Seperti biasa, Aji selalu menolaknya. Aji ingin terus mendampingi kekasihnya.


“Jadi kamu mau daftar di mana dari pilihan-pilihan waktu itu?” Aji menanyakan kampus yang dipilih Syadira.


“Mau ke kampusku yang dulu aja, biar enak tanpa perlu banyak adaptasi,” jawab Syadira yang memilih melanjutan pendidikannya di kampus swasta tempat ia dulu menyeleseikan D2 nya.


Syadira juga meminta izin pada Aji untuk menyambi kuliah dengan bekerja. Tentunya, pekerjaan yang bisa dikerjakan dari rumah. Beberapa waktu lalu, Syadira melamar kerja di salah satu perusahaan yang membuka lowongan untuk freelance, dan dari tes online saat itu, kemarin diumumkan bahwa ia diterima.


Setelah Syadira merayu Aji, akhirnya Aji mengizinkan dengan syarat Syadira harus tetap fokus pada kuliahnya dan tak boleh kelelahan. Aji juga mensyaratkan sesuatu agar ia mengizinkan Syadira bekerja. Aji meminta mereka bertunangan. Syadira menyetujuinya, dan meminta agar dilakukan secara sederhana saja karena neneknya juga tak akan peduli dan tahu tentang hal itu. Karena pertimbangan keluarga Syadira sudah merestui hubungan mereka, sehigga hanya perlu pertunangan itu dihadiri oleh ayah dan kakek Aji.


“Kalau nenek tahu kita tunangan, pasti langsung meminta kita untuk buru-buru menikah,” ucap Syadira polos.


###


“Dari mana saja kamu? Ayah kecewa sama kamu! Bukannya tanggung jawab malah kabur. Semenjak kamu kenal dengan perempuan itu, kamu jadi suka melawan Ayah dan lupa akan tanggung jawabmu!” tegur Ayah Aji yang sengaja menunggu anaknya pulang.


“Aji sudah bilang sama Ayah kemarin, kerja sama Ayah dengan papa Selena tidak profesional, Aji tidak suka. Kalau Ayah tahu, Selena belum bisa bekerja mengurus proyek, yang ada ini semua tidak akan menguntungkan kita!” bantah Aji.


“Justru itu, papanya ingin dia belajar, yang namanya belajar pasti berawal dari ketidakbisaan. Ya kamu ajari dong dia!” Ayah Aji selalu tak ingin kalah berdebat.


“Kalau dia memang sedang belajar, seharusnya ada staf dari perusahaan papanya yang menemani dan membimbing. Tugas Aji bukan untuk mengajari dia. Aji tidak digaji untuk menjadi mentornya! Satu lagi, jangan pernah membawa-bawa Syadira dalam urusan kita, semakin Aji dewasa, Aji semakin melek terhadap arogansi Ayah dan keotoriteran Ayah!” tegas Aji meninggalkan ayahnya di ruang keluarga.


Ayah Aji mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan untuk seseorang. “Temani Aji besok selama di lapangan jangan biarkan dia pergi menemui perempuan itu.”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2