Belenggu Cinta Kontrak Sekretaris CEO

Belenggu Cinta Kontrak Sekretaris CEO
Saling Mengenal


__ADS_3

Aji dan Syadira yang dipersilakan makan siang oleh nenek Syadira, bergegas menuju meja makan. Mereka bertiga saling mengbrol, terutama nenek Syadira yang ingin mengenal calon suami cucunya itu. Syadira mengambilkan makanan untuk Aji setelah diperintahkan neneknya.


“Jadi istri nanti harus melayani suami, masak gitu aja harus didikte terus, Dir,” ujar sang nenek gemas pada cucunya yang tak tanggap melayani Aji.


Aji hanya tersenyum pada nenek Syadira.


Di tengah obrolan, Elma datang dan menyapa semua orang yang sedang makan. Elma tampak terkejut melihat sosok asing di rumah. Nenek Syadira segera meminta Elma mencuci tangan dan bergabung dengan yang lain.


“Mbak Dira dari kapan datang?” tanya Elma pada kakaknya.


“Baru aja kok. Oh iya, kenalin, Dir, ini Mas Aji. Mas, ini adikku, Elma.” Syadira memperkenalkan adik dan kekasihnya.


“Calon suaminya kakakmu,” sahut nenek.


“Wah, kak Dira mau menikah? Jangan lupa sama Elma ya kak kalau sudah mengurus rumah tangga,” ucap Elma polos.


“Hus, ngomong apa kamu ini. Semua orang di usia kakakmu memang seharusnya segera menikah,” sahut nenek Syadira.


Syadira dengan tegas menjelaskan bahwa ia dan Aji tidak menikah dalam waktu dekat, melainkan nanti setelah Syadira selesai melanjutkan pendidikannya. Syadira juga mengatakan bahwa Aji lah yang akan membiayai kuliahnya. Mendengar penjelasan cucunya, raut muka nenek seketika berubah.


“Dulu saja nenek memintamu untuk melanjutkan kuliah kamu tidak mau, sekarang malah mau merepotkan calonmu. Padahal juga umurmu sudah cukup untuk menikah,” ujar nenek mengingat kejadian dahulu kala.


“Nenek, menuntut ilmu ‘kan tidak terbatas usia, lagi pula Mas Aji mau menunggu kok,” jawab Syadira tenang.

__ADS_1


“Aji tidak merasa direpotkan, Nek. Justru Aji mau belajar bertanggung jawab,” sahut Aji membela kekasihnya.


“Mas Aji kerja di mana?” Elma mulai menimbrung.


“Di tempat yang sama dengan kakakmu,” jawab Aji tersenyum.


“Loh, bukannya di kantor Kak Dira tidak boleh menikah dengan temannya sendiri?” Elma mulai teringat akan cerita sang kakak saat itu tentang peraturan kantornya.


Aji pun menjelaskan bahwa peraturan berlaku setelah mereka menikah. Jadi, tujuan Syadira melanjutkan kuliah agar nantinya ia mendapat pekerjaan yang lebih baik di tempat lain. Aji juga terpaksa berbohong pada keluarga Syadira jika Syadira masih bekerja di sana dan akan menyambi kuliah.


“Nenek ikut yang terbaik menurut kamu saja, Dir. Yang penting jangan aneh-aneh. Biasanya kalau orang sudah kepengen menikah, jadi nekat melakukan yang belum sepantasnya dilakukan,” pesan nenek.


“Aji akan menjaga Syadira untuk Nenek,” janji Aji.


Karena hari sudah sore, Aji ingin bermaksud untuk segera berpamitan. Sebelumnya, ia meminta Syadira untuk ikut pulang dengannya. Namun, Syadira masih ingin berada di rumah neneknya selama 3 hari ke depan, alhasil Aji pulang sendiri dan akan kembali menjemputnya.


Setelah berpamitan pada Syadira, juga nenek dan adiknya, Syadira mengantar Aji menuju ke parkiran mobilnya.


“Nanti aku jemput pagi ya, setelah itu aku antar kamu daftar kuliah ke kampus yang kamu pilih, tidak ada penolakan,” pinta Aji tak ingin dibantah.


“Posesif ih,” goda Syadira.


Aji menggandeng tangan Syadira. “Kalau aku tidak posesif, nanti kamu pergi lagi, seperti tadi pagi.”

__ADS_1


Syadira yang tak ingin Aji sampai rumahnya larut malam, segera memintanya untuk pulang. Aji pun mencium kening Syadira dan masuk ke dalam mobilnya. Syadira memandang mobil Aji yang semakin menjauh.


Teringat akan permintaan Aji yang akan dilakukannya, ia berharap semoga tak ada masalah ke depannya, dan keluarga Aji telah benar-benar menerimanya.


Setelah beberapa jam kemudian, Aji sampai di rumahnya yang tampak ramai beberapa orang.


“Hai, Ji,” sapa Selena yang duduk bersama papanya, juga ayah dan kakek Aji.


Aji pamit pada mereka ingin masuk kamar dan mandi karena seharian berada di luar, namun ayah Aji memintanya untuk mengobrol sebentar dengan mereka. Papa Selena mengutarakan maksud kedatangan mereka bertamu di rumah Aji. Kantor papa Selena sedang ada kerja sama dengan kantor tempat Aji bekerja.


“Nanti Selena yang akan bantu-bantu Om, sambil dia belajar kalau suatu saat papanya nanti sudah tidak bisa lagi bekerja,” ucap papa Selena pada Aji.


Aji mempersilakan jika memang ada kerja sama, namun ia tak mau mengurusi proyek ini karena pekerjaannya yang sudah banyak. Lagi pula, Aji merasa bahwa ayahnya tak membicarakan hal ini terlebih dahulu kepadanya, sehingga proyek ini menjadi tanggung jawab ayahnya. Mendengar hal ini ayah Aji segera menyanggahnya.


“Kamu ‘kan calon CEO, Ji, kamu akan menggantikan Ayah, jadi kamu harus ikut mengurusi hal-hal seperti ini,” pinta Ayah Aji.


Seolah mengerti akan maksud orang tua Selena juga ayahnya, Aji menegaskan pada mereka bahwa jika proyek kerja sama ini semata-mata bertujuan untuk mendekatkan Aji dan Selena, dengan tegas ia akan menolaknya. Aji tak mau jika urusan pekerjaan bercampur dengan urusan pribadi. Aji juga meminta agar tak ada perjodohan di sini, karena Aji sudah memiliki pacar. Setelah menyampaikan isi hatinya, Aji izin masuk ke kamarnya.


Raut wajah Selena berubah menjadi kesal kala Aji menolak mengerjakan proyek ini bersamanya. Sedangkan ayah Aji sibuk meminta maaf atas ucapan anaknya yang dirasa tidak sopan pada papa Selena, juga mengklarifikasi maksud Aji. “Aji memang begitu orangnya, apalagi kalau sedang capek, jadi biar saya bicarakan lagi besok dengannya.”


“Kakek tau Aji itu seperti apa, karena sejak kecil dia lebih banyak waktu sama kakeknya dari pada ayahnya yang sibuk kerja. Dari kecil, Aji itu terbiasa menjadi kucing penurut karena pemikirannya masih sederhana, hingga besar pun ayahnya juga selalu mengatur hidup Aji harus sekolah di sini dan di sini, kerja juga harus di sini dan di sini harus begini dan begitu. Dulu saat ibunya masih ada, Aji masih sanggup untuk selalu patuh pada ayahnya karena mendapatkan kasih sayang ibunya yang selalu menenangkan. Tapi ketika ibunya sudah tiada, tak ada lagi tempat untuk bercerita, dia berubah menjadi singa di rumah ini. Apalagi, sekarang dia sudah semakin dewasa, punya pemikiran yang matang, dan menjadi mudah memberontak. Apalagi kalau pilihannya ditolak, dia bisa mengamuk. Jadi, jangan membangunkan amarah cucuku yang sedang tenang hidupnya,” pesan kakek Aji sembari meninggalkan mereka dan pergi ke kamarnya.


Mereka bertiga saling bertatapan satu sama lain.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2