
Setelah usaha yang dilakukan Aji kala itu, ia merasa lebih lega. Setidaknya, ayah Aji mulai membuka hatinya untuk menerima Syadira. Sehingga, mereka hanya perlu menjalankan hubungan mereka seperti biasanya.
Pagi itu di kantor, Aji akan menerima tamu yang merupakan klien perusahaan tempat Aji bekerja. Klien tersebut seharusnya akan bertemu dengan ayahnya, namun, hari ini ayah Aji tidak dapat masuk kantor karena kondisi kesehatannya yang kurang baik, sehingga Aji yang menggantikannya menemui klien. Aji mempersilakan tamu tersebut, yang sepertinya seumuran dengan dirinya.
Wanita itu tampak santun dan lemah lembut, berbeda dengan Bella juga Selena. Ibaratnya, wanita ini adalah Syadira dengan versi kelas tingginya. Wanita itu tampak begitu sempurna, penampilannya sederhana namun memikat. Aji mengamatinya cukup lama.
Wanita itu memperkenalkan dirinya sebagai Luna, seorang pemilik butik di Bandung yang ingin membuka cabang butiknya di Jakarta. Ia ingin perusahaan Aji lah yang mengurus desain hingga pembangunannya. Mereka sedikit berbincang mengenai estimasi lama pengerjaan, desain yang Luna mau, dan juga estimasi biayanya. Aji juga segera menjadwalkan kedatangan timnya di lokasi untuk menentukan rencana proses pembangunan.
Sesuai prosedur, jika rentang waktu dan biaya serta desain sudah disetujui, klien akan melakukan pembayaran uang muka. Siang itu juga, mereka akan mengunjungi lokasi yang ternyata tak begitu jauh dari kantor Aji. Luna yang tak membawa kendaraan, meminta izin menumpang di mobil Aji. Untuk menjaga hubungan baik dengan klien, Aji pun dengan ramah menyetujuinya.
Aji dan Luna turun ke lobi melewati meja Vita. Teman Syadira itu melihat mereka dengan tatapan sinis dan ingin tahu. “Kliennya Pak Aji kenapa cantik-cantik, sih. Apa Syadira tak cemburu?”
###
Proyek kerja sama Aji dan Luna terjalin cukup lancar. Luna juga bukan merupakan tipe klien yang cerewat dan terlalu perfectionist. Dari awal, Aji dengan mudah mendapatkan persetujuan Luna terkait proses kerja sama mereka.
Tidak jarang, Luna ikut menyambangi lokasi butik yang akan dibangun. Hal ini, membuat ia sering bertemu dengan Aji. Luna pun juga terkadang mengajak Aji makan siang bersama, dan sebaliknya. Hingga suatu waktu, Syadira tak sengaja melihat kekasihnya sedang makan siang bersama Luna. Syadira yang cukup sabar, hanya mampu diam menunggu kejujuran Aji, apalagi, Vita pernah memberi tahu tentang Luna yang beberapa kali datang ke kantor Aji lalu mereka keluar kantor bersama.
__ADS_1
Diam bukan berarti ia tak merasakan kegundahan. Apalagi, akhir-akhir ini Aji memang jarang menemui dirinya. Aji sempat mengatakan jika ia sedang mengurusi 3 proyek sekaligus, sehingga beberapa minggu ini akan sibuk dan jarang menemui Syadira. Begitu pun Syadira yang juga sedang menyambi bekerja di salah satu kantor milik kakek Aji, membuatnya lebih sibuk dari biasanya. Mereka saling menerima kesibukan masing-masing, tapi setelah melihat kejadian saat itu dan cerita Vita, Syadira mulai overthingking. Bukan tanpa alasan, karena saat malam hari, Aji yang seharusnya bisa menemuinya, ternyata justru beberapa kali absen.
Sore itu, Aji yang telah menyeleseikan pekerjaannya, menjemput Syadira yang sudah menunggunya di depan kantor tempat ia bekerja.
Aji menyambutnya penuh hangat seperti dulu, namun berbeda dengan Syadira yang sedikit cemberut.
“Kamu nggak kangen?” tanya Aji menggoda kekasihnya.
Syadira menggeleng. “Memang Mas Aji kangen? Kalau iya, kenapa jarang menemui aku? Sebegitu sibuknya?”
Menyadari kekasihnya yang mulai kesal karena jarang ditemui, Aji seakan semakin gemas. “Aku ‘kan sudah pamit waktu itu kalau beberapa minggu ini akan sibuk, Sayang.”
Aji menatap Syadira dalam-dalam. “Maksudnya?”
Syadira mulai menanyakan wanita yang makan siang bersama Aji kala itu. Ia juga protes pada Aji yang tak suka jika melihat Syadira bersama teman laki-lakinya, sementara Aji justru sering terlihat bersama wanita lain. Aji pun tertawa mendengar amukan kekasihnya itu. Aji memperkenalkan Luna serta alasan mengapa mereka sering bersama.
“Apa iya kalau malam Mas Aji nggak sempat ke kos?” Syadira masih tak terima.
__ADS_1
“Biar semuanya lebih cepat selesai, aku sering lembur, kamu bisa tanya Vita, aku sering masuk kantor lagi jam 5 sore, dan pulang malam. Kalau pun nggak lembur di kantor, aku lembur di rumah, jadi, kita jarang bertemu," jelas Aji.
Aji juga meminta maaf jika membuat kekasihnya itu cemburu dan berjanji akan tetap selalu memberikan waktu untuk Syadira.
Melihat Syadira yang masih murung, Aji pun memeluk dan mencium bibirnya begitu lama.
###
Sejak protes Syadira saat itu, Aji selalu menyempatkan waktu untuk menjemput atau sekedar menemui kekasihnya meski tidak setiap hari.
Seperti sore ini, Aji kembali menjemput Syadira di kantornya. Mereka pun memutuskan akan makan malam bersama. Selama di perjalanan, Aji sibuk menerima telepon dari Luna, juga saat makan, ia sering memegang ponselnya. Hingga saat mengantar Syadira pulang pun, Aji seakan tak fokus dengan kekasihnya itu.
Hal ini membuat Syadira kesal dan menegur Aji. Ia merasa Aji berubah akhir-akhir ini. Dengan jiwa lembutnya, Aji selalu menenangkan Syadira dan menjelaskan bahwa proyeknya sedang ada sedikit masalah. Syadira yang mulai lelah dengan aktifitasnya sehari-hari yang harus kuliah sambil kerja, ia menjadi mudah tersulut emosi dan cemburu, juga menuduh Aji yang tidak-tidak.
Aji yang sedang berusaha menyeleseikan masalahnya, masih terus sabar menenangkan Syadira agar tidak berpikir buruk. Hingga karena keduanya sama-sama lelah, Aji tak sengaja membentak Syadira. Syadira pun terdiam seketika.
“Dira cukup! Aku sudah sering menjelaskan semuanya, tapi kenapa kamu tidak mau mengerti. Sebentar saja aku meminta pengertianmu. Apa tidak bisa? Kalau kamu tidak mengerti soal pekerjaan aku, jangan menuduh macam-macam! Aku dan Luna hanya bekerja sama, tidak lebih!”
__ADS_1
Lelaki idamannya, kekasih idealnya, laki-laki yang selama ini tidak pernah membentaknya, bahkan marah pun hampir tidak pernah. Tiba-tiba sekarang berbicara dengan nada keras yang menyakiti hati. Sepanjang jalan menuju kosnya, Syadira hanya diam memandang ke arah jendela dan menahan tangisnya.
...****************...