Belenggu Cinta Kontrak Sekretaris CEO

Belenggu Cinta Kontrak Sekretaris CEO
Naluri Seorang Ayah


__ADS_3

Melihat anak lelakinya yang tak kunjung tersenyum hingga hampir 2 minggu lamanya, membuat hati ayah Aji teriris. Ia mulai menyadari apakah karena dirinya yang menunjukkan ketidaksukaannya pada kekasih Aji, hingga perempuan itu meminta Aji menjauhinya. Bukan kah memang dari awal ayah Aji tidak merestui mereka? Lalu, kenapa ia justru tidak bahagia ketika Aji dan kekasihnya berpisah?


Aji memang tidak pernah berdebat dengan ayahnya lagi, namun jika dengan ini Aji harus menahan sakit, rasanya sekeras apa pun seorang ayah, tidak akan tega.


Keadaan Aji yang membuat hati ayahnya hancur, membuat dirinya memutuskan untuk kembali menemui Syadira. Saat tiba di kos, Ayah Aji menghampiri pos penjaga dan meminta untuk dipanggilkan Syadira. Penjaga mengantarkan ayah Aji ke kamar Syadira dan mengetuknya.


Betapa terkejutnya Syadira ketika melihat ayah Aji berdiri di depannya. Syadira kemudian mempersilakan ayah Aji duduk di bangku depan kamarnya. Syadira membersihkan rontokan daun kering di atas bangku yang akan diduduki ayah Aji. “Silakan, Pak.”


“Ada apa, Pak Haryo menemui saya?” Hati Syadira tak menentu ketika berhadapan dengan Pak Haryo. Karena dalam 3 kali pertemuannya, ia selalu mendengar sesuatu yang tak enak. Ia takut kali ini akan sama.


Ayah Aji mengkonfirmasi pernyataan Aji tentang Syadira yang meminta anaknya menjauhinya. Syadira mengangguk pelan. Ayah Aji melanjutkan pertanyaannya. “Karena saya?”


Syadira tersenyum tipis dan menunduk. “Sesuai seperti apa yang Bapak perintahkan waktu itu.”


“Dulu kamu bilang kamu tidak ingin menyakiti anak saya dengan meninggalkannya, kenapa sekarang kamu memintanya menjauhi kamu? Apa bedanya? Kamu sama saja menyakiti Aji,” ujar ayah Aji.


“Saya meminta Mas Aji yang menjauhi saya, bukan saya yang meninggalkannya tiba-tiba. Lebih baik saya yang mengalah, dari pada harus membuat Pak Haryo dan Mas Aji selalu berseteru hanya karena saya, seorang perempuan yang tidak pantas diperjuangkan,” jawab Syadira tegas.


Syadira terdiam sejenak kemudian melanjutkan penjelasannya. “Sejak kecil, saya dipaksa hidup untuk selalu ikhlas dan menerima apa pun yang terjadi dalam hidup saya. Mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus terbiasa hidup dengan impian yang tidak pernah terwujud. Impian untuk bisa seperti yang lain, bisa memiliki orang tua yang bertanggung jawab dan menyayangi anak-anaknya. Termasuk impian sederhana untuk bisa hidup bahagia bersama seseorang yang saya cintai. Jadi, kalau hanya sekedar memenuhi permintaan Pak Haryo untuk berpisah dengan Mas Aji, itu bukan sesuatu yang berat bagi diri saya sendiri, karena saya bisa mengendalikan perasaan saya untuk kembali ikhlas, itu sudah makanan saya, Pak. Tapi yang terberat bagi saya adalah melihat Mas Aji sakit karena perpisahan ini. Itu kenapa saya menolak saat itu.”


“Lalu kenapa sekarang kamu mau lakukan?” tanya ayah Aji lagi.

__ADS_1


Syadira mengehela nafas. “Kami dipaksa kalah sebelum berjuang. Tembok di antara kami begitu tinggi untuk didaki dan terlalu kokoh untuk dirubuhkan. Mungkin bisa saja kami sama-sama berjuang untuk merobohkannya, selama tidak ada yang memegangi tangan dan kaki kami yaitu kontra dari keluarga sendiri. Melawan sesuatu yang berasal dari luar itu lebih mudah dari pada meyakinkan hati yang goyah karena tak adanya dukungan dari dalam.”


Syadira menghapus air matanya yang tiba-tiba kembali terjatuh dan kemudian menawarkan minuman untuk ayah Aji. “Pak Haryo mau minum apa, Pak? Saya ada minuman kemasan di dalam.


Ayah Aji memberikan kode tangannya untuk menolak. “Saya tidak lama, ini sudah mau pulang.” Ayah Aji berdiri dan berpamitan pada Syadira.


Syadira mengangguk hormat, ia juga kembali mengucapkan terima kasih saat di supermarket waktu itu.


Ayah Aji menerima ucapan terima kasihnya dan mulai berjalan pergi. Baru berjalan 5 langkah, Pak Haryo berhenti dan membalikkan tubuhnya ke arah Syadira. “Nanti malam saya tunggu kamu di rumah, sopir saya akan menjemput kamu pukul 7. Aji hanya ingin bertemu kamu.”


Syadira tersenyum dan mengangguk. Ayah Aji pun melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan kos Syadira. Kekasih Aji itu hanya berharap semoga ini adalah pertanda yang baik untuk hubungannya.


###


“Cari udara, cuma sebentar,” jawab Aji singkat.


Ayah Aji memintanya untuk tetap di rumah, karena ayah Aji ingin memberi kejutan dengan kehadiran Syadira.


Tak lama, sopir yang menjemput Syadira pun datang. Syadira dipersilakan masuk oleh ART. Aji yang melihat kedatangan Syadira, bergegas menghampiri dan memeluknya begitu erat.


“Kita berhasil. Tapi aku rindu sekali kita tidak bertemu lama,” bisik Aji memanja pada kekasihnya itu.

__ADS_1


Syadira hanya tersenyum dalam pelukan Aji dan memukul pundaknya.


Sementara ayah Aji hanya terdiam melihat raut wajah Aji yang berubah ketika melihat Syadira.


“Apa kamu pernah melihat Aji sebahagia itu? Apa saat kamu mengajaknya ke luar negri untuk pertama kalinya dan saat membelikan mobil impiannya, Aji sebahagia itu? Pahami dan hargai kebahagiaannya.” Kakek Aji tiba-tiba muncul dari belakang.


“Seharusnya kamu bisa merasakan apa yang Aji rasakan, saat akhirnya kamu bisa kembali memeluk ibu Aji setelah lama berpisah. Istrimu juga pasti tersenyum di sana melihat ini, dan menangis saat kemarin melihat anak yang dititipkannya padamu bersedih,” lanjut kakek Aji semakin membuat anaknya merenung menangisi kerinduannya terhadap mendiang sang istri.


Selesai melepas rindu, Aji mengajak Syadira menghampiri dengan ayah juga kakeknya.


“Ayo kita makan malam bersama, Syadira,” ajak kakek Aji.


Mereka pun berkumpul bersama dalam meja 1 meja makan dan mulai berbincang-bincang.


“Kalau kamu memang kamu mau sambil kerja, kenapa tidak bekerja di tempat Kakek saja, biar kalau sudah lulus, kemampuanmu sudah matang. Kalau kamu mau, kamu bisa bekerja di travel agent, di sana masih ada beberapa karyawan karena baru 1 tahun berdiri. Kamu bisa bantu-bantu di sana sekalian belajar melakukan tugas pekerjaan. Jadwalnya mengikuti jadwal kuliah kamu, jadi kamu kerja sebelum dan sesudah kuliah, pulangnya tetap jam 5 sore, masuknya tetap jam 8 pagi,” tawar kakek pada calon istri cucunya itu.


Syadira memandang ke arah Aji karena bingung harus menjawab apa.


“Kamu bisa coba 1 minggu dulu, kalau sekiranya kewalahan, kamu fokus kuliah saja. Nanti Kakek bilang sama supervisornya untuk tidak memberikanmu tugas pekerjaan yang berat. Kalau kamu menikah dengan Aji, Kakek mau kamu bisa mengelola paling tidak 1 unit bisnis Kakek,” lanjut kakek Aji.


“Iya, Kek, terima kasih banyak, nanti Dira coba,” jawab Syadira tak ingin menolak penawaran Kakek Aji.

__ADS_1


Dalam hati Syadira berpikir keras bagaimana caranya ia harus bisa membagi waktu untuk Aji, kuliah dan bekerja di 2 tempat meskipun yang 1 bisa dikerjakan dari kosnya, karena ia masih memiliki ikatan kontrak 1 tahun dengan kantor freelancenya. Ia tak mau mengecewakan kakek Aji yang sudah menerimanya dengan baik dan memberikan kesempatan baik ini padanya. Bagaimana pun, kakek Aji lah yang sudah susah payah mengupayakan dirinya agar bisa setara di mata ayah Aji.


...****************...


__ADS_2