
Syadira yang tengah melamun saat di kelas paginya, memikirkan tentang masalah dalam hubungannya yang seakan datang berurutan tanpa jeda. Masalah Bella, Selena, ayah Aji, hingga Luna adalah sepenggal pembuka masalah dalam hubungannya bersama Aji. Jika mereka menikah, tak menutup kemungkinan akan mendapatkan masalah yang lebih besar dari ini semua. Yang terpenting adalah, kemauan untuk tetap berjuang bersama.
“Masalah strata adalah konflik yang rumit dan akan terus ada sampai kapan pun,” gumamnya lirih.
Sementara itu di kantor, Aji tak sengaja mendengar ayahnya yang sedang menghubungi seseorang dalam percakapan teleponnya.
“Kamu terus saja mendekati dia, pasti lama-lama akan tertarik. Pokoknya, jangan terlihat agresif karena Aji tidak suka perempuan seperti itu. Tunjukkan kelemah lembutan kamu sebagai perempuan, paham ya, Lun,” pinta ayah Aji.
“Lun? Apa benar Luna? Apa Ayah ingin mendekatkan seorang wanita lagi padaku? Bukan kah Ayah sudah merestui hubunganku dengan Syadira,” pikir Aji tak paham maksud ayahnya.
Tiba-tiba Aji menghampiri ayahnya yang baru saja menutup teleponnya. “Siapa lagi yang Ayah ingin jodohkan dengan Aji?”
Ayah Aji terkejut bukan main. “Aji, kamu dari tadi di sini?”
Aji meminta ayahnya menjawab pertanyaanya. Ayah Aji menjelaskan bahwa ia ingin Aji memilih-milih dahulu sebelum benar-benar menikahi Syadira. Jika hanya menginginkan yang seperti ibunya, Luna juga tak kalah lembut dan penuh kasih sayang seperti Syadira. Luna justru lebih berkelas dan lebih pantas bersama Aji dari pada Syadira.
Sontak Aji marah pada ayahnya. Ia tak terima dengan tindakan ayahnya. Aji sungguh kecewa pada sang ayah yang selama ini ia rasa telah berubah. Aji kemudian pergi meninggalkan ayahnya.
Vita yang tak sengaja mendengar percakapan mereka saat akan mengantar berkas di ruangan ayah Aji, terdiam mematung memikirkan nasib Syadira jika harus dipisahkan dengan Aji hanya karena strata.
###
Vita rasanya tak bisa merahasiakan apa pun yang telah ia dengar dan ia lihat. Sepulang kantor, Vita ingin langsung menuju kos Syadira untuk memberitahukan tentang hal ini. Apalagi, ini berkaitan dengan teman baiknya itu.
Syadira hanya menanggapi informasi dari Vita dengan santai. “Sudah pernah, Vit. Ini bukan kali pertama. Aku sudah yakin pasti ayahnya akan tetap melarang hubungan kita.”
__ADS_1
Vita menggenggam tangan Syadira untuk menguatkannya. “Kalau kamu butuh tempat cerita, jangan lupakan aku, Dir.”
Syadira tersenyum haru. Mereka pun berangkulan. “Aku juga bingung harus bagimana, Vit.”
Vita memandangi Syadira yang berusaha menahan tangisnya. “Diskusikan lagi dengan Pak Aji, Dir. Jangan menyerah begitu saja, menyerah hanya akan saling menyakiti.”
Syadira mencerna ucapan Vita. Benar saja, memang dalam hal ini, menyerah hanya akan saling menyakiti. Lebih baik ditinggalkan karena selingkuh atau salah satunya yang sudah tidak cinta. Dari pada harus saling meninggalkan saat keduanya masih sama-sama saling mencintai hanya karena restu, akan terasa begitu berat dan menyakitkan.
Entah dosa apa yang telah ia perbuat, hingga permasalahan hidupnya selalu rumit. Pak Haryo benar-benar tak menginginkannya sebagai menantu. Lalu, apa maksud yang ia lakukan dulu saat meminta Syadira ke rumahnya dan menemui Aji?
Syadira merenungi nasibnya. Seolah tidak ada kekuatan untuk senyum saat Aji menemuinya malam ini. Ia bahkan tak bisa menahan tangisnya ketika melihat Aji.
Aji pun menyeka air matanya dan mendekatkan dirinya pada Syadira. Aji yang tak banyak tanya pun seolah memahami apa yang sedang dihadapi kekasihnya itu. “Kamu sudah tahu?”
Syadira hanya mengangguk.
Aji tersenyum pada Syadira. “Kalau tidak ada tantangan, semuanya akan terasa biasa saja. Ini bisa menjadi cerita untuk anak cucu kita nanti.”
Syadira mulai tersenyum mendengar kata-kata Aji.
“Selama kamu tidak berniat meninggalkan aku, semua akan baik-baik saja,” lanjut Aji memeluk kekasihnya.
Batin Syadira berisik. Mengapa begitu berat jalan hidupnya. Apa ia tak pantas mendapatkan cinta yang tulus dari seorang lelaki yang berbeda kelas dengannya?
###
__ADS_1
Pagi tadi, Syadira diminta oleh seseorang yang tak dikenal untuk datang di sebuah restoran elit malam ini. Seseorang itu mengirim pesan pada Syadira jika kekasihnya akan makan malam bersama Luna. Orang tersebut juga memberikan nama reservasi jika ia ingin datang untuk membuktikan kebenaran dari pesan tersebut.
Entah apa maksud dari si pengirim pesan itu. Keresahannya semakin kuat ketika Aji izin tak menemuinya malam ini di kos karena sedang ada urusan bersama ayahnya. Karena tak ingin menduga-duga, Syadira kemudian meminta tolong Vita untuk mengantarkannya ke restoran tersebut.
Sementara itu, Aji yang tengah berada 1 meja makan bersama Luna seakan tak nyaman dengan pertemuan mereka.
“Aku sama sekali tidak menginginkan pertemuan ini, Lun. Entah kenapa Ayah mengajakku untuk makan malam bersama tapi ternyata hanya ada kamu di sini,” ucap Aji menahan amarahnya karena kebohongan sang ayah.
“Mas Aji, ayah kamu hanya ingin kita berkenalan, tidak ada salahnya ‘kan,” jawab Luna lembut.
“Salah karena kamu mengganggu laki-laki yang sudah punya calon istri!” tegas Aji.
Luna pun membantah pernyataan Aji karena ayah Aji sendiri yang mengatakan padanya bahwa Aji belum menikah dan belum memiliki calon istri.
Tak lama, makanan mereka datang dan Luna meminta Aji menyicipinya.
Sepanjang jalan, Vita yang juga mencemaskan kebenaran berita tersebut, terus menghibur Syadira agar ia lebih tenang menghadapi semua ini. Hingga mereka sampai di restoran tersebut dan Vita memarkir motornya di parkiran paling belakang khusus untuk kendaraan roda 2. Vita terus menggenggam tangan Syadira dan menemaninya masuk ke dalam restoran yang begitu mewah dan luas.
Mereka menuju ke meja resepsionis untuk melakukan konfirmasi kedatangan, setelah itu, mereka diperbolehkan menuju meja sesuai nomor reservasi.
Langkah Syadira terhenti. Ia benar-benar melihat Aji sedang makan berdua bersama Luna. Aji yang izin tidak menemuinya karena sedang ada urusan bersama ayahnya, ternyata membohonginya. Janji yang Aji katakan akan menjaga jarak dengan Luna pun juga ternyata hanya sebatas omong kosong.
Vita merangkul Syadira, karena dirinya sendiri juga tak kuat melihat pemandangan ini. Luna terlihat menyuapi Aji dan mengelap mulut Aji dengan tisu. Vita juga tak sanggup melihat Syadira yang akhirnya hanya bisa berdiri mematung dan menangis.
Syadira membalikkan tubuhnya dan berlari keluar restoran. Secara spontan Vita terkejut melihat Syadira yang tiba-tiba kabur, lalu mengejar dan memanggil nama temannya itu. Teriakan Vita mengejutkan Aji.
__ADS_1
Aji melihat setiap sudut resoran namun ia tidak melihat kekasihnya. Perasaan Aji semakin tidak menentu, kemudian ia pun berdiri dan berpamitan pada Luna. Aji bergegas segera menemui Syadira di kos untuk memastikan bahwa kekasihnya baik-baik saja di sana.
...****************...