Belenggu Cinta Kontrak Sekretaris CEO

Belenggu Cinta Kontrak Sekretaris CEO
Keikhlasan Sang Ayah


__ADS_3

Melihat kegagalan Selena maupun Luna untuk membuat Aji jatuh cinta pada mereka dan meninggalkan Syadira, membuat ayah Aji harus berpikir ulang untuk terus menentang hubungan anaknya. Terlebih, sebagai seorang ayah yang meskipun dikenal keras, akan tetap ingin selalu melindungi dan membahagiakan anak semata wayangnya, yang dititpkan oleh mendiang istrinya. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali memeluk Aji. Rindu rasanya Pak Haryo kepada anak lelaki satu-satunya itu yang kini sudah menjelama menjadi pria dewasa.


Ayah Aji tiba-tiba teringat akan pertemuannya dengan salah satu koleganya beberapa hari lalu. Koleganya itu akan menggelar acara pernikahan anak kembarnya secara bersamaan minggu depan. Anak lelakinya akan menikahi seorang perempuan yang hanya merintis bisnis kecilnya, namun justru keluarga mereka yang akan mendukung dan mengembangkan bisnis kecil itu. Sementara anak perempuannya, akan dinikahi oleh seorang laki-laki yang hanya berprofesi sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta, ia bahkan bukan pemilik maupun pengelola, hanya karyawan yang bekerja di sana.


“Mereka sudah saling mencintai dan sama-sama serius, bahkan sudah berpacaran 4 tahun ini. kebahagiaanku hanya lah anak-anakku, kalau mereka bahagia, aku merasa telah berhasil membesarkan mereka, dan sebaliknya. Lalu apa lagi yang aku inginkan? Sudah sewajarnya ketika anak-anak beranjak dewasa, mereka memilih jalan mereka sendiri, dan kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan, mendukung, dan mengikhlaskan mereka memiliki kehidupan sendiri. Bukan kah kita dulu juga begitu? Kita juga akan memberontak bila tak direstui, karena hak seseorang untuk bisa hidup dengan orang yang ia cintai.” Sepenggal ucapan dari kolega ayah Aji saat itu.


Kakek Aji juga sudah sering mengingatkan ayah Aji untuk tak egois. Bagaimana pun, Aji adalah satu-satunya harapan keluarga, karena manusia memiliki batas usia. Mereka akan membutuhkan anak cucu keturunan Aji untuk melanjutkan bisnis mereka. Selama pilihan Aji baik, tak ada yang harus dilakukan oleh orang tua selain mendukung. Ia tak mau menyesal di kemudian hari hanya karena egonya yang tinggi, yang begitu peduli akan pendapat orang lain, padahal orang lain tak akan peduli dengan masalah hidupnya.


Ayah Aji menghela nafas panjang dan mencoba yakin akan keputusannya.


“Kita ke rumah Aji sekarang,” pinta ayah Aji pada sopir pribadinya.


###


Sementara itu, karena hari ini adalah akhir pekan, Syadira kembali menemui Aji yang masih belum begitu sehat, di rumahnya. Syadira membawakan banyak makanan dan buah agar Aji segera pulih. Mereka begitu asyik menikmati hari libur dengan mengobrol dan bercanda.


Hingga ayah Aji datang ke rumah.


Raut wajah Syadira yang tengah tersenyum pun berubah menjadi datar ketika mengetahui kehadiran ayah Aji. Syadira menganggukkan kepalanya dan sedikit tersenyum, juga menjaga jarak dari Aji. Mereka terdiam sekian detik.

__ADS_1


“Kenapa? Lanjutkan saja, Ayah tak masalah. Ayah hanya ingin memastikan keadaanmu baik-baik saja,” ucap ayah Aji sembari duduk di depan Syadira dan Aji.


“Pulang, Ji. Ayah ke sini mau sekalian menjemput kamu,” pinta ayah Aji.


Syadira semakin tak berani memandang ayah Aji dan hanya bisa menunduk.


“Biar Syadira yang tinggal di sini,” lanjut ayah Aji.


Ucapan itu membuat Syadira dan Aji menatap ayah Aji dengan tatapan penuh tanya.


Ayah Aji tersenyum. “Laki-laki itu memiliki kewajiban membahagiakan wanitanya, bahkan saat sebelum menikah, mulai dari sandang, pangan, dan papannya. Masak seorang calon CEO seperti kamu tidak memberikan tempat tinggal yang baik untuk calon istrimu? Ayah malu punya anak seperti kamu.”


Ayah Aji hanya menghela nafas. “Kalau memang belum mau menikah, biar Syadira yang menempati rumah ini, kamu yang pulang ke rumah kakek, Ji. Tidak mungkin ‘kan kamu tinggal di sini juga, yang ada kamu digrebek Pak RT. Kalau sudah menikah, baru boleh.”


Aji menuduh ayahnya memiliki niat buruk akan rencananya ini.


Ayah Aji hanya tersenyum. “Apa seburuk itu Ayah di matamu? Bagaiaman pun, Ayah yang membesarkanmu, menyayangimu sejak kecil, Ayah yang membawamu ke rumah sakit ketika ibumu panik karena kamu tiba-tiba demam dan kejang.”


Aji menatap ayahnya penuh haru.

__ADS_1


“Kalau memang mau menikahi Syadira, silakan, Ayah tidak akan melarang. Lakukan apa pun yang membuatmu bahagia, Ayah akan ikut bahagia dengan pilihanmu. Asal Syadira juga sudah bersedia menikah dengan Aji. Kalau bisa jangan ditunda, tak perlu menunggu kamu wisuda untuk menikah,” lanjut ayah Aji.


Syadira terus menatap mata calon ayah mertuanya itu dengan berkaca-kaca, ayah Aji pun membalas tatapan Syadira dengan senyuman.


“Jadi siapnya kapan? Kalau menunggu kamu wisuda, apa tidak takut Aji diambil orang? Toh juga kalau kalian menikah, kamu masih bisa melanjutkan kuliahmu, dan belajar bekerja di unit bisnis kakek, karena kamu juga yang akan mengelolanya sendiri nanti. Aji juga tidak akan memberikanmu tugas untuk membersihkan rumah, memasak, dan lain sebagainya. Jadi kamu tidak perlu takut akan kerepotan membagi tugas untuk kuliah, kerja, dan menjadi istri. Nanti biar Aji yang mencarikan ART untuk membantu di rumah kalian. Jadi, kamu tetap bisa fokus menyeleseikan pendidikanmu,” jelas ayah Aji.


Aji kembali memastikan bahwa tak ada yang direncanakan ayahnya dari semua ini. Ayah Aji pun meminta Aji memeluknya agar ia bisa merasakan ketulusan ayahnya. “Ayah sudah lelah berdebat dengan kamu, Ayah sudah tidak mau bermusuhan dengan anak Ayah sendiri, takut dimarahi ibumu.”


Aji pun berdiri dari tempat duduknya, begitu pun dengan ayahnya. Aji memeluk sang ayah setelah sekian lama tidak melakukannya. Ayah Aji pun membalas pelukan anak semata wayangnya itu. Syadira hanya mampu menahan tangis haru melihat pemandangan yang menyejukkan ini.


“Sekali-kali ayahnya yang dipeluk, masak Syadira terus,” goda ayah Aji.


Aji mengucapkan terima kasih dan berharap ayahnya benar-benar telah menerima hubungan ini. Ayah Aji kembali bertanya pada calon menantunya itu tentang kesediaannya menikah dengan anaknya. Aji juga meminta agar Syadira segera mau menikah dengannya tanpa menunggu wisuda.


Syadira memandang 2 pria di hadapannya itu. Ia tersenyum dan mengangguk. “Aku mau.”


Aji kemudian langsung memeluk calon istrinya itu, di depan ayahnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2