Berawal Dari Perjodohan

Berawal Dari Perjodohan
Bab 10


__ADS_3

Zio yang baru saja keluar dari kamarnya dengan rambut yang masih tampak acak-acakan tapi tetap terlihat tampan berjalan ke arah meja makan saat merasakan bahwa perutnya butuh diisi. Sedari dini hari ia merasakan lapar tetapi Zio malas bangun dan lebih memilih melanjutkan tidur hingga sekarang baru bangun saat pukul tujuh. 


Di dapur tak ada siapa pun. Biasanya Zia masih masak atau paling tidak, ia masih mencuci bekas barang-barang yang semula dipakainya untuk memasak. Namun kali ini tak ada suara apa pun di dapur. Di sana benar-benar sunyi. Melihat ke arah meja makan yang sudah rapi, Zio membuka lemari kecil di atasnya yang biasa digunakan untuk menyimpan makanan. 


“Zia udah memasak ternyata,” lirihnya seraya mengambil piring berisi cumi pedas manis dan nasi satu porsi yang sangat sedikit. Di sampingnya juga terdapat roti lapis, mungkin Zia sengaja membuat dua menu sarapan agar Zio bisa memilihnya. 


Pria itu duduk setelah mendapatkan makannya dan tak sengaja tatapannya terjatuh pada catatan yang berada di samping piring. Tulisan tangan Zia yang meminta Zio untuk sarapan serta menuliskan makanan kesukaan dia lainnya. 


Zio tersenyum, pikirnya Zia sangat lucu. Ia menduga bahwa Zia sengaja memasak lebih pagi dan pergi bekerja lebih pagi karena ia tak mau bertemu dengan Zio karena kejadian semalam. “Ah, aku mengerti, Zia. Sebenarnya aku pun masih malu, untunglah salah satu dari kita ada yang berinisiatif untuk pergi duluan. Aku tidak bisa membayangkan jika kita bertemu di meja makan, keadaan akan sangat kaku lebih dari hari-hari biasanya,” komentarnya pada diri sendiri. 


Karena lapar, Zio mengambil sendok dan mulai memakan cumi pedas manis buatan Zia. Sembari mengunyah, ia mengangguk-anggukkan kepalanya, seakan mengonfirmasi bahwa masakan Zia memang sangat enak. “Dia memang pintar sekali memasak. Aku benar-benar kagum dengan bakatnya yang luar biasa,” pujinya.


Benar, bahwa Zio memang tak pernah memuji makanan Zia tepat di depan wanita itu. Lagi pula baru kali ini ia bisa makan dengan tenang karena sebelumnya selalu ada pembahasan tentang topik yang tak ia sukai jika sudah duduk di meja makan bersama Zia. 


Lagi, Zio menyuapkan kembali makanannya ke dalam mulut dengan nikmat. Hingga lima menit kemudian, Zio menghabiskan semua makanan yang disediakan untuknya dan memasukkan roti lapis ke dalam kotak untuk dibawanya ke kantor nanti. Pikirnya sangat disayangkan jika ia tak memakannya karena Zia sudah memasak untuknya. 

__ADS_1


Sementara di lain tempat, Zia yang baru saja tiba di restoran tampak disambut dengan baik oleh para pegawai lain. Ia yang sudah mengganti bajunya dengan apron putih, kini telah lengkap menggunakan hat cook dengan warna senada. Zia tampak cantik dengan pakaian yang dikenakannya saat ini. 


“Ah, Zia, kamu begitu keren. Kamu tampak menjadi koki yang sangat andal jika seperti ini,” puji salah satu pegawai yang bertugas mencuci piring. 


Zia hanya tersenyum. “Ah, biasa saja. Aku di sini pemula dan belum bisa melakukan banyak hal,” katanya dengan ramah. 


Zia tampak banyak disukai oleh para pegawai yang bekerja di sana karena kepribadiannya yang ramah dan sopan, ia juga mudah bersosialisasi dan bercanda dengan yang lainnya. Zia juga menjadi satu-satunya koki wanita di restoran tersebut karena tiga koki lainnya berjenis kelamin lelaki dan sudah berkepala empat. 


“Ayo Zia, tidak apa-apa kalau kamu memili menu andalan untuk dimasak. Kami sangat menantikan itu jika kamu mau mencobanya hari ini,” kata salah satu chef di sana. 


Saat jam makan siang, restoran di sana mulai penuh oleh pengunjung. Para koki mulai sibuk memasak banyak menu yang terus berdatangan dan mereka harus melakukannya dengan cekatakan. Tak boleh ada kekeliruan atau pelanggan akan mengamuk jika itu terjadi. 


“Zia, lebih baik kamu masak menu andalan kamu. Beberapa pelanggan mesti ada yang minta menu lain hari ini,” pinta Chef Iwan, yang merupakan senior dari para chef. 


“Baik, Chef. Saya akan mencobanya,” kata Zia dengan penuh percaya diri. 

__ADS_1


Seperti biasanya Zia memasak cumi asam pedas yang biasa ia masak sebagai menu andalan dirinya. Sebenarnya ia ingin memasak menu lain yang sama-sama terbuat dari cumi, tetapi untuk hari ini Zia memilih cumi asam pedas terlebih dahulu agar mereka semua tahu masakan Zia yang selalu menjadi kebanggan restoran-restoran sebelumnya yang pernah ia bekerja di dalamnya. 


Zia melakukannya dengan sangat cekatan, dan baru beberapa menit saja sudah banyak yang memesan menu tersebut hingga para koki lainnya membantu apa yang Zia kerjakan sekarang. 


Di luar, Zio bersama kedua temannya tampak baru saja mendapatkan pesanannya, yaitu cumi pedas manis yang konon menjadi menu andalan hari ini. Bersama kedua temannya, pria itu langsung melahapnya dan seketika ia menghentikan kunyahannya mengingat bahwa rasa dari cumi ini begitu sama dengan yang ia makan tadi pagi. 


Zio mengarahkan pandangannya pada pintu keluar masuk pelayan, mencaritahu keberadaan Zia. Ia menduga bahwa Zia-lah yang memasak ini. Wanita itu bekerja di sini. Namun karena ia yakin bahwa Zia sedang sibuk di dapur, Zio memutuskan untuk melanjutkan makannya dan ia mulai senyum-senyum sendiri mengingat tingkahnya. 


“Hei, kenapa kamu tiba-tiba senyum?” tanya salah satu temannya. 


Zio menoleh, “Tidak apa-apa kok.”


“Sejak menikah kamu memang sering begitu, Zio, rupanya kamu sangat bahagia,” komentar teman yang lain. 


Zio refleks menatap tajam keduanya. “Hei kalian tak boleh menyinggung pernikahanku. Aku tak mau pernikahan ini tersebar luas,” tegurnya. 

__ADS_1


__ADS_2