
Sementara di lain tempat, Zio baru saja sampai di kantor. Ia membawa spunbond berisi bekelnya, lalu dibawanya masuk ke kantor. Zio masih harus mengisi daftar hadir sebelum naik ke ruangannya yang berada di lantai tiga, tetapi karena hari ini tak ada jadwal pertemuan dan hanya menunggu informasi persetujuan surat kerjasama, akhirnya pria itu memilih untuk duduk di lobi setelah mengisi daftar hadirnya.
Zio memainkan gawainya di sana seraya sesekali mengecek email kerjanya barangkali ada pemberitahuan mengenai konfirmasi persetujuan.
“Zio, kamu kenapa ada di sini?” tanya seorang pria yang baru saja tiba, lalu duduk di depan Zio.
“Nunggu surat. Kamu tidak ke ruangan kamu?” tanya Zio pada Mada yang bahkan terlihat lebih santai dari dirinya.
“Ah, aku akan ke ruangan setengah jam lagi. Tapi aku ingin meminta bantuan kamu.” Mada membenarkan letak jasnya, lalu duduknya mulai tegak menatap kedua mata Zio dengan dalam seakan hendak menuntut sesuatu dari Zio. “Kamu harus membantuku,” putusnya dengan yakin.
Zio mnegerutkan dahinya. “Bantuan apa?” tanyanya.
“Sepertinya aku harus jujur juga padamu kalau aku sudah mulai menyukai Zia,” jelasnya.
Zio menelan salivanya, ia telah mencurigai gerak-gerik Mada yang selalu berusaha untuk mendapat perhatian Zia, tetapi Zio tak menyangka jika Mada akan mengatakan hal ini padanya secara langsung. Zio pikir pria itu hanya akan menyimpannya sendiri.
“Terus?” jawab Zio berusaha santai. Ia tak mau membuat Mada curiga.
__ADS_1
“Aku butuh bantuan kamu untuk mendekatkanku dengan Zia. Kamu bilang bahwa kalian berteman sejak SMA, maka dari itu mungkin kamu banyak mengetahui tentang wanita itu. Jadi, aku mohon katakan padaku apa yang Zia sukai dan Zia benci? Dan bagaimana caranya mendekati wanita seperti Zia? Apakah dia pernah memiliki kekasih sebelumnya? Atau… apalah. Tolong ceritakan apa pun fakta tentang Zia padaku,” tutur Mada.
Zio terhenyak mendengar pertanyaan yang beruntun itu. Entah kenapa ia tak suka terhadap ide Mada yang ingin mendekati Zia. Bagaimana jika hal itu diketahui oleh orang tuanya? Mungkin permasalahannya akan makin besar setelah itu. “Saranku kamu tidak perlu mendekati Zia dan carilah wanita lain yang lebih terbuka, karena Zia itu tipe wanita yang tidak akan mau diajak pacaran. Dalam pikirannya hanya ada karir dan karir, jadi mungkin kalaupun kamu berusaha, kamu akan tetap ditolak olehnya,” saran Zio setengah berbohong. Karena sejujurnya ia pun memang belum tahu apa yang Zia suka dan Zia benci. Tak pernah mereka berbincang mengenai hal itu saat berada di dalam rumah.
Mada menggeser duduknya. Kedua matanya masih memandang raut wajah Zio, kali ini tatapan matanya terlihat tak percaya. “Kamu berbohong padaku? Aku lihat Zia sepertinya dia tidak seperti yang kamu bilang,” cetusnya, meragukan ucapan Zio.
Zio berdecak pelan. “Ya, dia memang sangat pintar menutupi sikap aslinya. Kamu hanya belum lama kenal dengannya, jadi kamu tak percaya padaku. Banyak lelaki yang dia tolak karena ingin dia memang tidak ingin menjalin hubungan yang serius untuk saat ini. Lagi pula jika dia menginginkan suatu hubungan, mungkin sudah dari dulu ia menikah,” balas Zio berusaha meyakinkan.
Sejujurnya Zio merasa tak nyaman berbohong pada temannya itu. Setelah menikah dengan Zia, Zio melakukan banyak kebohongan pada orang-orang sekitarnya. Bahkan sejujurnya ia pun berbohong pada orang tuanya karena sejauh ini mereka meyakini bahwa hubungan antara keduanya baik-baik saja padahal sebaliknya.
“Bisa jadi dia melakukannya hanya karena belum menemukan pasangan yang tepat. Tapi jika dia menemukan seseorang yang tepat, mungkin dia mau mengorbankan dirinya untuk menikah,” tegas Mada.
“Ah, mungkin saja. Aku tidak tahu.” Zio langsung membuang tatapannya dari Mada, lalu berusaha menyibukkan dirinya dengan menggulir layar gawai.
Mada masih duduk di depan Zio, ia masih ingin mendengarkan fakta baru mengenai Zia tetapi sepertinya ia harus menggugurkan niatnya karena Zio terlihat mulai sibuk. “Kalau hanya itu yang bisa kamu katakan, tolong bantu doa agar aku bisa dekat dengan Zia dan bisa menjalin hubungan yang serius dengannya. Karena aku merasa nyaman saat bersama dia, Dan semoga saja aku bisa menaklukkan hatinya.” Mada bangkit, menepuk pundak Zio lalu pergi meninggalkan Zio yang merasa kesal dengan sikap Mada.
“Tidak, aku tidak akan membiarkan Mada mendekati Zia. Bukannya aku cemburu, aku hanya merasa bahwa Zia masih harus melanjutkan sandiwara ini dengan baik. Aku sudah berjanji akan melepaskannya jika sudah waktunya, tapi aku merasa bahwa sekarang belum berada pada masa yang tepat. Lagi pula jika berpisah sekarang, apa yang harus aku katakan pada mama dan papa?” batin Zio.
__ADS_1
Melihat Mada yang mulai menghilang dari pandangannya, pria itupun ikut bangkit dan berjalan menuju ruangannya untuk mengerjakan apa pun yang bisa dikerjakan hari ini. Pekerjaan hari ini memang sudah ia kerjakan semalam, maka dari itu Zio sedikit memiliki waktu luang tetapi ia hanya tak mau jika menghabiskan lebih lama di rumah karena saat dia bekerja maka rumah akan terasa sepi.
--
“Zia, kamu pulang sekarang?” tanya sang manager saat Zia baru melepas apron-nya di pintu perbatasan dapur.
Zia mengangguk semangat. “Benar, Pak. Bagaimana? Apakah masih ada tugas untuk saya? Lagi pula restoran sudah mau tutup, jadi saya harus kembali,” jawabnya.
“Oh tidak ada, hanya saja kalau kamu mau, tidak apa membuat makan malam di sini menggunakan bahan-bahan dari sini. Biar ketika sampai di rumah, kamu tidak perlu memasak dan bisa langsung makan,” tawar pak manager.
Zia tersenyum, “Terima kasih atas kebaikan Bapak. Tapi saya sudah menyediakan bahan makanan di bulan ini. Jika saya tidak menggunakannya, maka bahan-bahan makanan itu akan terbuang secara percuma dan itu sangat menyayangkan, ‘kan? Jadi mungkin lain kali saja,” tolak Zia dengan halus.
“Baiklah. Untuk hari ini saya sudah transfer tip yang kamu dapat. Hati-hati, ya.”
Setelah manager pergi, Zia langsung berjalan ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya serta mencuci mukanya. Iya harus segera sampai rumah karena Zio pasti sudah menunggunya untuk makan malam.
Setelah selesai, ia langsung pergi meninggalkan restoran, naik taxi menuju rumahnya. Maksudnya, menuju rumah Zio yang ia tempati saat ini.
__ADS_1
--