Berawal Dari Perjodohan

Berawal Dari Perjodohan
Bab 20


__ADS_3

Zio baru tiba di ruangannya saat pukul sembilan pagi. Pria itu hendak masuk, tetapi sebuah suara yang memanggilnya mau tak mau menghentikan langkah Zio. Saat ia menoleh mencari sumber suara, seorang wanita berkemeja putih dan ber-rok hitam di atas lutut menghampirinya dengan langkah cepat. 


“Selamat pagi, Pak, sebelumnya maaf jika mengganggu waktu Bapak. Saya ingin memberitahu bahwa perwakilan perusahaan PT. Cahaya Bintang sudah menunggu Bapak sejak tiga puluh menit lalu,” ujarnya dengan lembut. 


“Sejak tiga puluh menit yang lalu?” Zio terkejut. “Ah, saya benar-benar minta maaf. Tapi apakah pertemuan ini akan berjalan lama? Karena siang nanti saya harus ke kampus membimbing mahasiswa skripsian,” kata Zio. 


Ia benar-benar lupa bahwa hari ini dirinya harus menemui pihak perusahaan Cahaya Bintang, tetapi di sisi lain dia juga harus ke kampus karena sudah berjanji akan bimbingan hari ini. Tidak mungkin Zio tiba-tiba mengirim pesan pada mahasiswa untuk memundurkan jadwal, karena Zio tak mau menyulitkan mereka juga. Pikirnya Zio harus seimbang antara menjadi pengusaha dan menjadi Dosen di Universitas. 


“Bapak bisa menemuinya saat ini, selanjutnya Bapak sendiri yang menentukan seberapa lama waktu pertemuan,” jawabnya. 


Zio langsung melangkah masuk ke dalam ruangan, menaruh tas dan segera kembali ke luar menuju lantai dasar untuk menemui perwakilan Cahaya Bintang bersama dengan sekretarisnya. Zio berpikir jika ia harus meninggalkan pertemuan ini, maka biarkan sekretarisnya yang melanjutkan. Lagi pula Zio sudah sangat mempercayai wanita yang bekerja tujuh tahun bersamanya itu. Ia selalu bisa diandalkan dengan baik. 


Setelah sampai di ruang pertemuan, dilihatnya seorang wanita tiga puluh tahunan mengenakan setelan jas maroon yang pas di tubuh kecilnya. Melihat kehadiran Zio dan sekretarisnya, wanita itu langsung bangkit dari duduknya dan menyalami tangan Zio. “Selamat pagi, Pak, perkenalkan saya Amber perwakilan dari PT Cahaya Bintang, senang akhirnya bisa bertemu Bapak,” sapanya dengan ramah.


Zio menjabat tangan wanita itu seraya membalas senyumnya. “Saya Zio, maaf sebelumnya jika saya membuat Anda menunggu lama, Bu Amber,” ujar Zio. 


Wanita itu mengangguk dan seakan tak mempermasalahkan kedatangan Zio yang telat. Keduanya kembali duduk saat obrolan mereka akan segera dimulai untuk melakukan kerjasama antar perusahaan. Sebenarnya bukan Zio yang bertugas, karena dia pun sama hanya perwakilan saja. 


“Jadi, apakah Anda sudah membawa proposal dari perusahaan Anda terkait apa saja penawaran yang bisa kami sepakati?” tanya Zio. 


“Saya sudah membawanya, Pak, ini proposalnya.” Wanita itu mengeluarkan map kuning dari tasnya, lalu memberikannya pada Zio. 

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, Zio langsung membukanya dan membacanya sekilas mengenai apa saja yang tertera pada kertas putih ukuran A4 itu. Setelah selesai, pria itu langsung memberikannya pada sekteratisnya. “Nanti minta Pak Adi untuk menyetujui ini jika dia sepakat. Saya akan menunggu keputusannya tiga hari lagi,” ujarnya pada sang sekretaris dengan sangat pelan. 


Wanita itu mengangguk, lantas pergi meninggalkan ruangan dan di sana hanya tersisa Zio dan sang wanita yang melanjutkan obrolan mengenai kerjasama yang akan berlangsung dengan sangat fokus seakan seseorang tak boleh mengganggu mereka. 


Setelah pukul sebelas, Amber langsung berpamitan begitu diskusi mereka telah selesai. “Sebelumnya terima kasih karena sudah meluangkan waktunya. Saya akan menunggu kabar baik dari Bapak.”


“Baik, sama-sama.”


Keduanya keluar dari ruang pertemuan, Zio mengantar Amber hingga parkiran dan saat melihat hari yang mulai siang, pria itu berniat untuk langsung ke universitas dan menunggu di fakultas hingga pukul satu. Sebenarnya Zio lebih merasa nyaman berada di sana. Namun hanya tiga hari jadwalnya mengajar, jadi ia tak bisa sering-sering ke sana. Sebenarnya ada keinginan untuk makan siang di restoran agar dibuatkan makanan oleh Zia, tetapi ia sudah bertekad bahwa ia tak akan ke restoran lagi demi tidak melihat Mada yang berusaha mendekati Zia. 


“Zio, kamu mau ke mana? Ke kampus?” tanya Alex seraya memukul pundaknya dari belakang. 


Zio mengangguk. “Benar, saya harus membimbing mahasiswa skripsi, jadi saya harus ke sana sekarang. Kamu mau ke mana? Restoran?” tebak Zio. 


“Sekarang memang jadwal bimbingan. Sejak kapan kalian lupa jika tiga hari dalam seminggu aku tak bisa ke kantor dan harus ke kampus?” Zio menjawab cepat. “Okay deh, aku harus pergi sekarang. Selamat makan siang, aku tidak akan kembali lagi dan langsung pulang,” pamitnya seraya melangkah pergi. 


“Hati-hati, Zio,” teriak Alex. 


“Hei Zio!” Seseoeang berteriak. 


Zio menoleh dan melihat Mada yang berjalan ke arahnya. Alex tak mengikuti, mungkin ia malas dan lebih memilih menunggu Mada di dekat lift. 

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Zio. 


“Kamu akan langsung ke kampus? Kamu tidak ingin makan siang dulu? Biasanya juga kamu makan siang dulu sebelum ke kampus untuk melakukan bimbingan,” protes Mada. “Ayolah, jangan buru-buru. Kamu bisa mengabarkan mahasiswa-mu agar jamnya dimundurkan. Lagi pula kamu harus dalam keadaan kenyang saat membimbing agar tidak marah-marah,” tukasnya. 


Zio menepuk bahu Mada. “Aku tidak akan berbuat begitu. Apa lagi beberapa dari mereka ada yang rumahnya jauh, dan berangkat sejak pagi. Mereka lebih memilih menunggu daripada ditunggu, kalau aku bertindak seperti yang kamu katakan, aku tidak bisa menghargai mereka. Jadi makanlah dengan Alex, aku akan bergabung jika ada waktu,” jawab Zio berusaha memberi pengertian. 


“Okay deh, hati-hati,” ungkap Mada. 


Zio mengacungkan ibu jarinya bertanda ‘okay’ kemudian langsung berjalan menuju mobilnya diparkir, masuk dan mulai mengendarainya menuju kampus yang tidak terlalu jauh dari tempat kerjanya saat ini. Untung saja Zio meninggalkan banyak buku dan laptopnya di mobil, sehingga ia tak perlu bolak-balik ke rumah menghadapi situasi seperti ini. Lalu lintas siang hari cukup macet, Zio paling malas menghadapi buruknya jalanan karena selain harus bersabar, ia juga tak betah berlama-lama terjebak dalam kemacetan. 


Setelah satu setengah jam berkendara, akhirnya pria itu sampai di parkir fakultas Universitas. Sudah pukul setengah satu siang. Gawai yang dipegangnya menyala, seorang mahasiswa mengiriminya pesan singkat. 


Mahasiswa Bimbingan II


Selamat siang, Pak, untuk bimbingannya di mana, ya? Kami sudah berkumpul di perpustakaan Fakultas. Jika Bapak hendak mengubah tempat, maka kami akan menyusul Bapak. 


Zio menghentikan langkahnya sebentar, lalu mengetikkan balasan dengan cepat. 


Zio


Jika sudah berkumpul di sana semua, nanti bimbingan di sana saja. Cari tempat kosong, sepuluh menit lagi saya akan ke sana. Dan saya minta tolong jangan seperti kemarin, salah satu temanmu ada yang lupa membawa file revisian. Saya mau bimbingan berjalan dengan baik. 

__ADS_1


Setelah pesan itu dikirimkan, Zio langsung melangkah ke kantor fakultas untuk mengambil bahan panduan. 


__ADS_2