
Pagi-pagi sekali Zia membuat roti isi lapis untuk sarapan dan menyiapkan bekel makan siang Zio yang terlihat sudah duduk di meja makan seraya memainkan ponselnya. Pria itu memang tidak pernah berinisiatif untuk membantu Zia memasak. Pilihannya jika Zia tidak memasak, maka ia akan masak sendiri, tapi jika Zia memasak, maka biar Zia yang melakukannya karena mungkin ia mengakui bahwa dirinya payah dalam urusan dapur.
Setelah selesai, Zia langsung membawa dua piring berisi dua roti lapis ke atas meja, kemudian ia duduk di depan Zio. “Bahan-bahan sudah mulai habis, jadi aku hanya masak seadanya. Nanti sore aku akan ke supermarket untuk belanja beberapa bahan makanan,” katanya.
“Malam saja, nanti aku temani,” kata Zio seraya menarik satu piring dan mulai mengambil satu roti lapis miliknya.
“Tidak perlu, aku bisa naik taxi. Malam nanti aku akan bikin tart, jadi aku tidak akan keluar,” tolaknya.
“Kapan kamu tidak menolak ajakanku?” sindir Zio.
“Makanlah dan jangan membuat perdebatan. Aku cukup lelah menghadapi sandiwara ini. Ya Tuhan, kapan semua ini berakhir.” Zia mengeluh seraya menaruh kepalanya di atas meja. Bahkan ia membiarkan roti lapis miliknya mendingin dan tak memedulikan Zio yang masih mengunyah di depannya.
Setelah banyak kejadian pun hubungan rumah tangga mereka tak berubah. Zia mengira bahwa pengakuan Zio akan berdampak baik pada kehidupan rumah tangganya, tetapi Zia salah besar. Nyatanya apa yang Zio lakukan hanya karena ketakutan terhadap orang tuanya.
“Sepertinya Mama mau balik ke Indo.” Zio mengalihkan topik.
“Kapan?” tanya Zia setelah menegakkan kepalanya.
“Entahlah, terkadang sangat mendadak.”
“Nah, aku mohon padamu, kalau orang tuamu ke sini, lakukanlah sesuatu agar semua sandiwara ini berakhir. Aku lelah jika seperti ini terus. Tahun-tahun yang kujalani akan terbuang percuma. Hidup hanya sekali, aku ingin melakukan hal yang benar, bukan hanya sekadar sandiwara, Zio.” Kedua mata Zia menatap suaminya dengan penuh arti. Wanita itu seakan siap jika hubungan ini berakhir sekarang juga. Toh dipertahankan pun, tak ada perubahan sedikit pun.
“Kamu ingin aku melepaskan kamu dengan segera?” Sebelah alis Zio terangkat.
“Jika itu yang terbaik,” jawab Zia, lirih.
__ADS_1
Zio merasa tersinggung dengan perkataan Zia. Menurutnya ini belum pada waktu yang tepat untuk melepaskan wanita itu. Lagi pula, makin hari Zio makin merasa nyaman dengan kehidupannya. Ia tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa kehadiran Zia membuat hidupnya berwarna.
“Aku pergi dulu.” Setelah makanan miliknya habis, Zio langsung berdiri seraya mengambil bekel makan siang dan membawanya pergi.
Zia mendengkus, meratapi nasibnya yang sedang menunggu kehadiran pelangi. Sulit baginya untuk keluar dari perjanjian setan ini. Zia benar-benar muak sekali.
--
Saat hari mulai sore pukul 16.00, Zia sudah bersiap-siap mengenakan rok pendek di atas lutut dan kaus yang terlihat cukup ketat. Setelah berdandan, wanita itu langsung keluar kamar, melangkah menuju jalan raya untuk menyeberang ke arah halte. Tak menunggu waktu lama, angkutan umum tiba, Zia langsung menaikinya menuju supermarket yang tak begitu jauh dari rumah.
Hanya sekitar setengah jam saja, ia turun di dekat halte supermarket dan langsung masuk ke dalamnya untuk membeli bahan-bahan masakan. Dari mulai sayuran, buah-buahan, rempah-rempah, hingga susu dan jus kotak.
“Ah, sepertinya sudah selesai. Aku harus pulang sebelum hujan,” tegasnya.
Segera Zia mendorong troli ke arah kasir, dihitungnya belanjaan miliknya dan setelah membayar wanita itu langsung membawanya kresek besar yang cukup berat ke arah luar untuk memesan kendaraan online.
“Iya, Pak, saya ngikut saja,” kata Zia.
Memang sudah petang, Zia terlalu lama di supermarket. Namun perlahan Zia mengenali jalanan ini karena pernah dibawa oleh Mada saat jalan ke alun-alun. Mungkin sekitar sepuluh menit lagi akan sampai di rumahnya. Tapi sayangnya mobil tiba-tiba berhenti. Zia terkejut.
“Ada apa, Pak?” tanya Zia.
“Maaf, Mbak, sebentar. Saya periksa dulu, ya.” Sang sopir keluar dari mobil, mengecek bagian bawah lantas membuka pintu belakang mobil. “Mbak, maaf sekali ban mobil bocor. Saya tidak membawa gantinya. Saya akan pesankan kendaraan lain untuk Mbak, ya.
“Eh, tidak usah, Pak.” Zia langsung keluar dari mobilnya seraya membawa kresek besar belanjaan. “Saya bisa jalan kaki ke rumah, sepertinya tidak terlalu jauh dari sini. Tapi saya minta maaf tidak bisa menemani Bapak karena saya harus segera pulang sebelum hujan,” kata Zia seraya merogoh uang dan memberikannya pada pria itu.
__ADS_1
“Iya, Mbak, tidak apa-apa terima kasih dan hati-hati ya, Mbak. Saya minta maaf.”
Tanpa menjawab terlebih dahulu, Zia langsung pergi menelusuri jalanan kecil menuju rumahnya. Sebenarnya ia pun belum tahu pasti, tetapi ia yakin bahwa saat bersama Mada, ia melewati jalan ini. Sepi, benar-benar sepi. Langit makin gelap dan rumah penduduk yang cukup jarang membuat Zia sedikit merinding melintas di jalan ini sendirian. Bahkan kendaraan yang lewat pun tak banyak, hanya beberapa kali saja.
“Hei cantik,” sapa suara seorang pria.
Zia membulatkan matanya begitu melihat tiga orang pria berjaket hitam keluar dari gang kecil. Langkah Zia refleks mundur ketakutan.
“Mau ke mana sendirian saja? Mau Abang antar?” tanya yang lain dengan suara yang genit.
“Tidak, rumah saya sudah dekat,” jawab Zia jutek.
Wanita itu berbalik mencoba berlari untuk meminta pertolongan, tetapi seorang pria menarik tangannya, menahan pergerakannya.
“Lepaskan, lepaskan aku. Apa yang akan kalian lakukan, hah?” sentak Zia. Suaranya bergetar, tetapi ia mencoba untuk tetap tenang. “Tolong! Siapa pun tolong! Tolong!” teriaknya dengan keras.
“Diamlah!” Pria berambut pelontos menutup mulutnya hingga Zia sulit untuk sekadar berbicara.
“Sepertinya aku baru melihat kamu. Apakah kamu pendatang baru?” Pria berambut cepak menatap Zia dari atas sampai bawah. “Sexy, cantik, bagaimana jika kita menikah saja? Sebenarnya aku tidak tahu tujuanku untuk menghentikan kamu selain, aku ingin menghabiskan malam ini bersama kamu, cantik,” lirihnya tepat di depan Zia. Mulutnya sangat bau rokok yang membuat Zia benar-benar terganggu.
“Lepaskan aku, lepaskan.” Zia masih berteriak sebisa mungkin dan mencoba melepaskan diri dari dua pria yang menahan di belakangnya. Namun sayangnya tidak bisa, karena tenaga mereka sangat besar dan berbeda dengannya.
“Ayolah diam. Kita nikmati malam ini bersama.” Pria berambut cepak itu menyentuh pipi Zia, mengusapnya dengan lembut dan kedua tangannya mulai turun, sementara Zia mencoba menolak dan menendang-nendang pria itu sekuat tenaga.
“Diamlah, aku butuh kamu malam ini.” Pria itu mulai menyentuh rok Zia perlahan.
__ADS_1
“Hei brengsek!” Seorang pria dari arah berlawanan berteriak kencang.