
Wanita itu membawa kotak makan ke dalam kamar, lalu ia mengganti bajunya dengan blouse biru muda polos serta rok putih di atas lutut. Setelah berdandan sedikit, ia langsung keluar rumah untuk mengantarkan bekal makan siang Zio ke kantornya.
Sekarang pukul sembilan, Zia langsung menaiki taxi menuju alamat tempat bekerja pria itu. Sesungguhnya Zia tak yakin entah di mana Zio berada, apakah benar di kantor atau pria itu sedang di kampus? Zia hanya menuruti kata hatinya saja.
Setelah sekitar satu jam sampai di kantor, wanita itu langsung menuju penjaga keamanan yang sedang berdiri di balik pintu. Zia mendekat, pintu langsung terbuka.
“Selamat pagi, maaf ada yang bisa kami bantu?” tanyanya dengan sopan.
Zia mengangguk, “Benar, saya dari restoran Selalu Ada, ini ada pesanan Pak Zio yang diminta untuk dibawa ke sini,” jawabnya ramah.
“Jika begitu, Anda bisa masuk ke kantor Pak Zio. Kebetulan sepertinya beliau sedang ada di ruangannya,” pintanya.
“Orang asing boleh masuk?” Zia bertanya penasaran.
__ADS_1
“Akses sedang terbuka karena ada sistem yang sedang diperbaiki, jadi Anda bisa masuk sekarang.
“Baik, terima kasih. Kalau boleh tahu, di mana ruangannya?” tanyanya lagi.
“Lantai tiga, kemudian ada lorong, Anda bisa masuk melalui jalan itu, dan di ujung ada ruangan yang paling besar, itu ruangan Pak Zio. Jika beliau tidak ada, tinggalkan saja di meja depan, nanti pasti akan diambil olehnya.”
“Okay, terima kasih.” Zia langsung menuruti apa yang satpam itu katakan padanya.
Wanita itu naik ke lantai tiga menggunakan lift, lalu hanya dalam beberapa menit saja lift terbuka dan Zia langsung melangkah keluar. Ia melihat kanan kiri yang lengang, mungkin orang-orang sedang bekerja di balik ruangan. Beberapa office boy ada yang sedang membersihkan jendela, ada pula yang bolak-balik mengantar minuman.
“Hei, Zia!” Seseorang memanggil namanya.
Zia menoleh, dia mendapati Alex yang terlihat membawa tumpukan berkas di tangannya. Pria itu tersenyum lebar ke arah Zia. “Ada apa kamu ke sini? Tidak bekerja hari ini?” tanyanya.
__ADS_1
“Eh—” Zia gugup. Namun bagaimana pun ia berusaha untuk tetap tenang agar pria itu tak menaruh curiga padanya. “Aku bekerja, tapi hanya untuk mengantarkan pesanan. Nah, si Zio itu memesan makanan jadi aku harus mengantarnya ke sini. Apa kamu tahu di mana ruangan dia?” tanya Zia.
“Oh, itu ruangan Zio.” Alex menunjuk pada sebuah ruangan dengan pintu kaca yang mewah. Jabatan Zio memang sangat tinggi, jadi wajar saja pria itu memiliki ruangan kantor yang istimewa. “Tapi sepertinya dia sedang ada pertemuan hari ini, jadi tidak ada di ruangannya. Kamu bisa menunggunya kalau mau, tapi kalau buru-buru pun, kamu bisa meninggalkannya di meja. Nanti saya hubungi dia untuk ambil makanan miliknya,” sarannya. Dia sangat solutif.
“Oh gitu, ya. Mungkin aku tinggalkan saja, ya.” Zia berpikir sebentar.
“Eh tapi sejak kapan restoran ada sistem delivery. Aku baru tahu, loh. Soalnya setahuku Mada sudah pernah bilang pada pamannya untuk mengadakan sistem delivery karena dia malas bolak-balik restoran, tapi kata pamannya tidak untuk sekarang. Apakah ini khusus untuk Zio saja atau bagaimana?” tanya Alex dengan nada penasaran.
Zia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, kemudian ia menggigit bibir bawahnya bingung akan menjawab apa. “Ehm, sebenarnya siapa pun boleh pesan padaku biar aku yang mengantarkannya.” Zia tertawa garing.
“Ah gitu. Tapi kamu sudah seperti seorang istri yang mengantarkan bekel makan siang suaminya, ya,” komentar Alex.
Mendengar itu Zia terhenyak. Ketika dia baru saja hendak meletakkan kotak di meja, lift yang tak jauh dari ruangan Zio terbuka. Zia dan Alex menoleh bersamaan dan dilihatnya Zio dan seorang wanita cantik yang keluar sembari berpegangan tangan. Zio sontak terkejut melihat kehadiran Zia di sini, begitupun dengan Zia yang tak menyangka melihat pemandangan semacam itu tepat di depan matanya.
__ADS_1
“Pak Zio, ini makanan Anda yang sudah Anda pesan sebelumnya. Selamat menikmati,” ungkap Zia, lantas langsung pergi sebelum Zio menjawabnya.