
Sesampainya di rumah, Zia langsung turun dari mobil Zio dan segara membawa bahan-bahan kue ke dapur. Saat sampai di ruang tengah, ia teringat sesuatu yang harus disampaikan pada pria itu. Zia berbalik, mendapati Zio yang terlihat baru saja hendak masuk kamar.
“Kata Mamamu angkat teleponnya, dia udah telepon kamu berkali-kali tapi tidak diangkat,” kata Zia. Setelah mengatakan itu ia langsung ke dapur.
“Sebaiknya apa yang harus kubuat? Apa kue kering satu-satunya opsi?” Zia menimbang-nimbang seraya menaruh semua bahan di atas meja. Ia mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagu, kebiasannya saat berpikir.
Tak lama kemudian ia menjentikkan jari. “Ah, lebih baik aku membuat fudgy brownies saja. Aku bisa membuat tiga loyang, nanti satu loyang untuk para koki di sana. Mereka harus mencoba buatanku.” Zia tersenyum lebar.
Setelah itu ia langsung mengeluarkan beberapa bahan seperti chocolate dark, mentega, gula halus, coklat bubuk, telur, tepung terigu dan minyak goreng di atas meja. Zia berbalik, mengambil celemek dan memakainya sebelum mulai memasak. Setelah semua bahan tersedia, Zia mulai memanaskan oven 170 derajat celcius selama lima belas menit. Wanita itu juga mengambil loyang, kemudian dialasi dengan margarin dan melapisinya dengan kertas roti.
Terlihat bahwa Zia sangat cekatan dalam melakukan pekerjaan ini. Ia pun mulai melelehkan cokelat terlebih dahulu dengan dicampur menggunakan margarin di sebuah mangkuk.
“Aku akan pergi lagi ke kantor, kamu buat apa?” tanya Zio seraya memperhatikan makanan yang tengah istrinya buat.
“Fudgy brownies,” jawab Zia seraya memecah sekitar dua butir telur ke dalam mangkuk.
“Ah gitu. Kalau kamu keluar bilang padaku dulu.”
Zia mendongak. “Kenapa harus bilang?”
“Bilang saja. Kamu tahu nomorku, ‘kan?”
“Baiklah, kalau ingat.”
Setelah itu Zia tak berminat memandang Zio lagi, dan ia langsung melanjutkan pembuatan brownies-nya. Cukup sering Zia membuat brownies karena ia pernah membuka pre-order saat belum bekerja di restoran, jadilah ia mahir melakukan ini tanpa perlu melihat komposisi pada sebuah laman media. Hingga tahap akhir, ketika bahannya telah teraduk rata, Zia mulai menuangkannya pada loyang hingga rata, setelah itu ia menghiasnya dengan topik yang berupa irisan almond chocho chips. Setelah rapi, loyang mulai dimasukkan ke dalam oven hingga lima belas menit. Dan masih harus dipanggang sekitar dua puluh menit dengan suhu yang rendah setelahnya.
Sekitar satu jam kemudian, Zia sudah mengeluarkan brownies dari oven. Ia membuat tiga loyang yang masing-masing sama besar. Setelah brownies telah mendingin, diambilnya kotak persegi panjang dan mulai dimasukkan ke dalamnya. Tak lupa, Zia juga menaburinya dengan keju parut.
__ADS_1
“Ah, cantik sekali. Aku akan memberikan ini pada Mada besok saja jika dia makan siang di kantor. Aku tidak ingin punya hutang budi pada seseorang,” katanya seraya menutup kotak tersebut, lalu disisihkan.
Sementara dua loyang lainnya, ia masukkan pada kotak lain. Satu untuk Zio, satu lagi untuk teman di restoran. Zia tak tahu apakah Zio menyukai atau tidak, lagi pula ia juga tak meminta. Ia hanya inisiatif saja karena telah menggunakan dapurnya.
--
Saat pukul tujuh malam, Zia tengah menonton tv di ruang tengah seraya menikmati sekotak puding mangga buatannya. Baru kali ini ia bisa beristirahat seharian dari kerjaan di restoran. Biasanya jam tujuh masih harus membuat menu untuk para pelanggan, sekarang ia tak ingin menyia-nyiakan waktu untuk bersantai.
Lima menit kemudian Zia melihat Zio yang baru saja muncul dari ruang tamu. Ia menatap Zia, “Kamu makan apa? Apakah kamu membuatkanku makan malam?” tanya Zio seraya melangkah mendekat ke arah Zia.
“Tidak, tapi aku membuatkan kamu brownies kalau kamu mau. Tapi kalau kamu mau makan malam lain, aku bisa membuatkannya untukmu,” jawabnya seraya menaruh kotak puding di meja.
“Oh, aku makan brownies saja kalau gitu,” katanya. “Di mana?” lanjutnya.
“Di dapur, kotak biru. Jangan ambil kotak cokelat.” Zia mewanti-wanti, barangkali nanti Zio akan mengambil bagian Mada. Bagaimana pun bagian milik Zio lebih besar daripada milik Mada.
“Siapa pun,” jawab Zia.
Saat Zia ingin mengalihkan channel, tiba-tiba gawainya berdering singkat. Zia langsung mengambilnya dari atas meja dan melihat nama Mada di layar.
Mada
Zia, apa hari ini kamu memiliki jadwal kosong? Aku ingin mengajakmu pergi jalan-jalan sebentar. Aku tahu malam ini akan ada acara di alun-alun, jadi di sana sangat ramai pastinya. Apa kamu mau ikut? Aku sendirian, jadi kalau kamu mau menemaniku, aku sangat senang.
Zia berpikir sebentar. Jika ia menerima tawaran Mada, ia bisa memberikan brownies itu malam ini dan ia juga bisa keluar barang sebentar. Selama tinggal di sini, tak sekalipun Zia pergi sekadar jalan-jalan, hidupnya hanya seputar dapur restoran dan kamar saat berisitirahat. Setelah sedikit berpikir, Zia langsung mengetikkan balasan pada pria itu.
Zia
__ADS_1
Boleh, kamu menunggu di halte saja. Nanti aku akan ke sana. Tapi maaf kalau menungguk sedikit lama, aku akan bersiap-siap dulu.
Mada
Tidak apa. Aku akan menunggu kamu.
Zia langsung berdiri dari duduknya, lantas masuk ke kamar dengan cepat. Ia menutup pintunya, lalu mulai mengambil dress putih berpola bunga-bunga kecil. Setelahnya, Zia menggunakan bedak tipis sekali hanya karena agar tidak terkesan terlalu natural. Diambilnya lipstik merah muda, lantas memolesnya di bibir berisinya hingga membuatnya makin terlihat cantik saja. Wanita itu berdiri di depan cermin, ketika memastikan bahwa dirinya sudah rapi, langkahnya langsung keluar meninggalkan kamar menuju dapur untuk mengambil brownies.
Zio yang semula menonton siaran, menoleh ke arah Zia dan meletakkan kotak brownies-nya refleks di atas meja ketika harum permen karet yang berasal dari minyak wangi Zia tercium olehnya. “Kamu mau ke mana?” tanya Zio begitu Zia melintas di belakangnya.
“Mau pergi sebentar,” jawabnya. Ia berjalan ke arah dapur, mengambil spunbond, dan mulai memasukkan kotak brownies ke dalamnya. “Sepertinya tidak ada yang tertinggal lagi, baiklah sekarang aku langsung keluar.” Dibawanya spunbond, lalu ia kembali keluar.
“Kamu mau ke mana?” Zio berdiri seraya melipat tangannya di depan dada, menatap Zia dengan dalam.
“Aku akan keluar sebentar, mungkin aku akan pulang malam,” jawab Zia.
“Mau ke mana? Sama siapa? Pulang jam berapa?” tanya Zio beruntun, agaknya ia tak sabar dengan jawaban Zia yang setengah-setengah.
“Kamu mau tahu?” tanya Zia memastikan.
Zio mengangguk cepat.
“Mada, aku akan keluar dengannya malam ini. Jadi, mungkin akan pulang malam.”
“Mada?”
__ADS_1