Berawal Dari Perjodohan

Berawal Dari Perjodohan
Bab 23


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Zia langsung masuk dan disambut dengan aroma gosong saat dirinya baru saja menginjakkan kaki di ruang tamu. Wanita itu langsung berjalan ke arah dapur dengan cemas. “Apa yang terjadi?” Belum sempat melangkah lebih jauh, terdengar bunyi benda berjatuhan di ruangan paling belakang itu. 


Sesaat, Zia melihat Zio yang sedang membakar roti di teflon dan di sampingnya panci berisi spaghetti hitam dibiarkan di atas kompor. Beberapa piring berjatuhan di bawah, begitupun dengan spatula. Pria itu benar-benar telah menghancurkan dapurnya sendiri. “Zio, apa yang kamu lakukan?” tanya Zia berusaha sabar. 


Andai ia tak mengingat bahwa dirinya hanya menumpang di sini, mungkin ia akan marah besar karena seseorang telah membuat berantakan ruangan khususnya. Ya, Zia memang sudah merasa bahwa ini adalah ruangan khusus miliknya setelah tinggal di sini. Lagi pula sebelum Zia tinggal, katanya Zio hanya makan di luar dan ia hanya menggunakan dapur untuk mencuci gelas saja. 


“Ah, kamu akhirnya datang. Aku berniat membuat spaghetti untuk makan malam, tapi baru saja kutinggal nonton YouTube langsung gosong, aneh, ‘kan?” jawabnya dengan suara tanpa dosa. 


Zia mendengus. Ingin marah pun ia tak bisa. “Begitu, ya? Ya sudah. Kalau kamu mau, aku akan menggantikan kamu memasak. Maaf, aku telat pulang,” katanya. 


“Oh tidak perlu, lagi pula rotinya sudah akan matang. Aku bisa membuatkannya untukmu,” katanya. Kemudian ia mengambil roti lain, setelah dua roti sebelumnya diangkat dari teflon. 

__ADS_1


Zia hanya mengangguk, lalu duduk di kursi meja dapur memperhatikan Zio yang sedang berusaha memasak. Setelah ini ia berniat untuk membereskan dapur yang sudah terlihat seperti kapal pecah. “Kamu sudah pulang sejak tadi?” tanya Zia. 


Zio mengangguk. “Benar. Kamu tahu, ada yang harus aku sampaikan padamu. Sepertinya Mada benar-benar mencintai kamu. Dia datang padaku pagi tadi dan memintaku untuk membantunya agar dia berhasil mendekati kamu. Bagaimana menurutmu?” tanya Zio seraya membalik rotinya. 


“Berita yang sangat bagus. Aku senang mendengarnya. Lagi pula selama ini Mada memang perhatian padaku. Bahkan pria itu begitu baik. Tadi pagi, aku tidak sengaja bertemu dengannya dan dia mengajakku untuk pergi bersama. Mada selalu punya cara untuk membuatku tak kesulitan. Aku benar-benar sangat bahagia jika dia mencintaiku,” jawab Zia dengan air muka yang terlihat senang. 


Melihat itu, Zio berdecih. “Kamu menyukai pria kelelawar itu?” 


“Memangnya kenapa? Lagi pula kita hanya sepasang teman baik, ‘kan? Suatu saat kamu akan melepaskan aku, jadi aku bebas untuk mencintai siapa pun yang aku kehendaki. Aku berhak memilih siapa yang akan ku jadikan suami nanti setelah drama ini benar-benar berakhir,” tegas Zia dengan penuh penekanan. 


Setelah selesai, Zia langsung menutupnya dan membungkus dengan kain. “Jangan lupa untuk bawa bekel makanmu. Aku akan ke kamar mandi dulu untuk berendam, gerah,” kata Zia seraya menaruh semua alat-alat masaknya yang kotor ke dalam wastafel. 

__ADS_1


“Iya, nanti aku bawa. Makasih,” jawabnya singkat. 


Zia langsung pergi ke dalam kamar sementara Zio masih mengunyah roti bakar terakhirnya. Sejujurnya ia masih ingat tentang jawaban Zia yang menyebalkan mengenai dirinya yang disukai oleh Mada. Wanita itu tampak bahagia dan tak berniat menolak, ‘kah? Bukannya Zia tak siap menikah? Lantas kenapa ia merasa terpuji saat mengetahui bahwa Mada menyukainya?


Sementara di dalam bathub, Zia menghabiskan waktunya seraya memikirkan kehidupannya yang tak beraturan. Pikirannya benar-benar berantakan. Ia bertanya-tanya akan sampai kapan sandiwara ini berakhir, ia juga rindu kebebasan. Bukan menyesal karena telah menikah, tetapi menyesal ketika mengetahui bahwa pernikahan ini hanya sandiwara saja. 


“Oh Tuhan, aku harap semua ini segera berakhir sebelum aku terbunuh oleh kebosanan. Aku benar-benar ingin kembali pada masa di mana masih sendiri daripada terjebak di lingkungan seperti ini. Aku lelah untuk melakukan kucing-kucingan dengan banyak orang,” desisnya pada diri sendiri.


Zia mengusap semua tubuhnya hingga bersih, aroma mawar memenuhi ruangan itu. Zia sangat suka menghabiskan waktunya di sini setelah memasak, tetapi ia langsung bangkit begitu mengingat bahwa dirinya harus membersihkan dapur. 


Wanita itu mengambil celana dan baju pendek batik, lantas mengenakannya. Sebelum keluar, digunakannya beberapa skincare guna menjaga kesehatan kulitnya. Setelah benar-benar selesai, ia berjalan menuju dapur dan Zio sudah tidak ada di sana. 

__ADS_1


Saat Zia hendak mengambil piring kotor di meja, dilihatnya bekel makan siang Zio yang masih utuh. “Sia tidak membawa bekelnya? Sengaja atau ketinggalan?” tanya Zia pada dirinya sendiri. “Tapi mungkin dia lupa karena tadi dia sudah mengiyakan. Apa aku ke kantornya saja? Tapi bagaimana jika bertemu Mada atau temannya yang lain?” 


Zia mengambil bekel itu. “Sudahlah, aku bisa berpikir setelah sampai sana.” 


__ADS_2