Berawal Dari Perjodohan

Berawal Dari Perjodohan
Bab 17


__ADS_3

Zio bolak-balik di teras rumah dengan wajah yang tampak sangat khawatir dengan ponsel yang masih setia tergenggam di tangannya. Terdengar decak beberapa kali ketika pria itu menatap layar gawainya yang tak menerima pesan dan berkali-kali panggilannya tak dapat tersambung. “Zia, kamu di mana, sih?” tanya Zio pada diri sendiri. 


Pria itu menelpon Zia sekali lagi, tetapi seperti sebelumnya bahwa nomor Zia berada di luar jangakuan. Halilintar masih terdengar bersahutan. “Astaga, ini sudah malam sekali, tapi Zia benar-benar belum datang juga.” 


Zio masuk ke kamar, mengambil jaket dan langsung berjalan ke garasi untuk mengeluarkan mobilnya. Pikirnya ia tak memiliki alasan lain untuk tetap berdiri di rumahnya, sementara ia tidak tahu bagaimana keadaan Zia sekarang dan di mana keberadaannya. Selesai mengeluarkan mobil, Zio langsung mengendarainya meninggalkan halaman rumah menuju jalan restoran Zia bekerja. 


Hujan masih begitu deras, jalanan cukup lengang sehingga Zio dapat menaikkan kecepatannya dengan mudah dan menyalip banyak kendaraan yang semula berada di depannya. Ia melihat ke arah ponselnya sesekali yang berada di kursi sebelah, tetapi tak ada pesan atau telepon masuk dari Zia. Zio kembali berdecak, kemudian menggigit bibir bawahnya. Perasaannya memang benar-benar tak karuan jika sudah pusing seperti ini. 


“Zia, kamu di mana, sih? Semoga kamu baik-baik saja. Aku benar-benar takut,” katanya dengan refleks. 


Zio tidak tahu tentang perasaannya, tetapi kali ini yang dirasakannya hanya takut. Membayangkan jika Zia tak bisa ditemukan atau hilang, benar-benar membuatnya hampir gila. Saat sudah mendekati restoran, dilihatnya bangunan yang cukup besar itu sudah gelap. Lampu depannya sudah mati dan hanya tinggal menyala pada bagian teras kecil sebelah kirinya saja. 


“Para pegawai sudah pulang sepertinya,” duganya seraya menepikan kendara roda empat miliknya tepat di depan restoran tersebut. 


Diambilnya payung dari kursi belakang, lantas pria itu keluar menuju restoran tersebut. Tak tahu bagaimana untuk mencari Zia, pasalnya restoran sudah benar-benar tutup dan Zio tak tahu apa-apa tentang ini. 


Langkah kakinya berjalan ke belakang untuk mencari pintu, dan tak lama itu ditemukannya pintu kayu yang berada di ujung belakang restoran. Tanpa pikir lama, Zio langsung mengetuknya dengan cukup keras. “Permisi!” serunya. 


Tak ada jawaban, sekali lagi Zio mengetuk hingga suara langkah terdengar dari balik pintu. Seorang pria berpiyama putih dengan kepala pelontos menatap Zio dengan tajam. “Ada apa? Kenapa malam-malam mengganggu istirahat kami?” tanyanya dengan judes. 

__ADS_1


“Maaf, tapi saya mencari Zia. Teman saya belum pulang ke rumahnya. Saudaranya khawatir, jadi saya membantunya untuk mencari keberadaan Zia,” jawab Zio dengan penuh kebohongan. 


Tak mungkin ia mengaku di depan pria itu bahwa dia adalah suami Zia dan khawatir karena Zia tak pulang-pulang ke rumah. Bisa-bisa pria itu akan mengadu pada temannya dan kabar tentang Zia yang telah bersuami akhirnya menyebar hingga telinga Mada dan Alex juga. 


“Kenizia? Dia sudah pulang sejak pukul delapan malam. Waktu itu memang hujan sudah mulai turun, salah satu koki ada yang menawarinya untuk mengantar pulang, tetapi dia menolak karena katanya akan pulang menggunakan taxi. Lihat saja di depan, jika dia tidak ada berarti dia memang sudah pulang,” jawabnya dengan tegas. 


“Tapi dia belum pulang,” sergah Zio. 


Pria itu merasa jantungnya berdetak makin cepat saat mendengar jawaban pria pelontos itu yang mengatakan bahwa Zia sudah pulang. Ke mana ia pulang? Menggunakan apa? “Saya mohon jangan berbohong pada saya. Mungkin saja dia menginap di sini, ‘kan? Katakan saja dan panggil dia untuk keluar. Nanti saya yang akan mengantarnya pulang,” tambah Zio. 


Pria itu mengerutkan dahinya, “Maksudmu kami menyembunyikan wanita itu? Tidak, kalau kamu tidak percaya masuk saja dan periksa satu-satunya kamr yang kami tempati. Kamu memang benar-benar menyebalkan.” Ditutupnya pintu dengan kencang dari dalam hingga membuat Zio terlonjak. 


Langkah kaki Zio kembali menuju mobilnya. Ia buka pintu, duduk dan menutup payung yang semula dipakainya lalu menaruhnya di belakang. Pria itu tak langsung menyalakan mesin kendaraannya, kedua mata hitam itu masih menyapu ke seluruh arah berharap jika tiba-tiba Zia keluar dari suatu tempat. Namun hingga menunggu lima belas menit pun tak ada tanda-tanda seseorang hendak keluar. 


“Apa Zia sudah pulang?” tanyanya pada diri sendiri. 


Dinyalakannya mesin mobil bersamaan dengan pesan singkat yang masuk dari sekretarisnya yang meminta Zio untuk mengirimkan file persetujuan kerjasama. Pria itu melempar gawainya di kursi seraya mengacak-acak rambutnya. “Sial, aku lupa mengirim file, lagi. Mana file-nya ada di laptop.”


Karena ia dikejar waktu, akhirnya Zio segera putar balik menuju rumahnya dengan laju yang cukup pelan seraya mencari Zia di bahu jalan. “Di mana kamu, Zia? Aku harap kamu sudah sampai di rumah sebelum aku tiba,” lirihnya dengan penuh penekanan. 

__ADS_1


Setelah sudah kembali ke rumah, Zio langsung masuk. “Zia!” panggilnya. 


Tak ada sahutan. Pria itu melangkah menuju kamar Zia, tetapi kamarnya masih terkunci. “Zia,” panggil Zio seraya mengetuk pintu kamar wanita itu, tetapi tak ada sahutan dari dalam. 


“Zia, kamu ke mana, sih?” Suara Zio mulai terdengar frustrasi seraya melangkah menuju ruang tengah. Ia melihat jam di dinding yang hampir menunjuk pada pukul 22.00, tetapi istrinya itu belum juga tiba.


Pria itu berjalan ke ruang kerja saat mengingat harus ada file yang harus ia kirim, setelah membuka laptop dan mengirimnya pada sekretaris, ia kembali keluar menunggu Zia yang belum juga memunculkan batang hidungnya. Sekali lagi ia mencoba menelpon nomor Zia, tepi selalu di luar jangkauan. 


Perasaan Zio makin tak karuan, bahkan kali ini pria itu tak bisa berpikir jernih lagi. Ia membayangkan banyak kemungkinan buruk yang memenuhi kepalanya. Bagaimana jika Zia lupa jalan pulang? Bagaimana jika Zia menyasar? Bagaimana jika seseorang membawanya pada tempat lain? Bagaimana jika ada penjahat yang menahannya? Zio benar-benar takut. 


Saat langkahnya hendak kembali berjalan ke arah mobil, gawai di tangannya berdering. Refleks ia batalkan niatnya dan melihat nama ‘Mama’ memanggilnya. “Bagaimana ini? Mati kalau dia tahu bahwa menantunya hilang,” gumam Zio.


Namun karena ia tak mau membuat ibunya khawatir, akhirnya pria itu langsung mengangkat panggilan tersebut. “Halo, Ma, bagaimana kabarnya?” tanya Zio dengan suara yang dibuat setenang mungkin. 


“Halo, Zia. Mama dan Papa baik-baik saja. Bagaimana kabarmu dan Zia, dan kenapa suara hujan terasa begitu jelas, apa kamu sedang berada di luar?” tanya sang ibu. 


“Ah iya, Ma, aku dan Zia sedang mengobrol-ngobrol kecil di luar. Di teras,” dustanya. 


“Begitu, ya, ya sudah Mama matikan saja sambungannya. Mama tidak mau mengganggu kalian.”

__ADS_1


Zio menekan pelipisnya saat sambungan telah mati, entah sudah berapa banyak kebohongan yang ia katakan dan entah sampai kapan ia bisa menjaga rahasia ini dengan baik. 


__ADS_2