
“Bro, apa yang kamu lakukan? Kalau Zia tidak terima dengan perlakuan kamu, ia bisa melaporkan kamu atas tindakan pelecehan,” tegur Mada.
“Kalian lebih dulu dilaporkan karena sudah menggodanya,” balas Zio dengan puas.
Alex dan Mada saling berpandangan tak mengerti dengan sikap Zio. Ia yang awalnya menahan Alex dan Mada untuk bertemu dengan koki, sekarang ketika mengetahui bahwa kokinya cantik, langsung berdiri paling depan seakan menerobos jalan yang sudah Mada dan Alex siapkan sebelumnya. Bukankah laki-laki itu terlihat sangat curang?
“Ya, okay, kami salah. Tapi kamu siapa? Kamu kenal dengannya?” desak Alex.
Zia ingin menjawab bahwa ia adalah istrinya tetapi ia tak ingin membuat keributan dan ia hanya perlu menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir Zio terlebih dahulu. Zia sudah berjanji akan mengikuti permainannya, maka dari itu ia biarkan Zio menjawab apa pun. Namun sepertinya pria itu akan mengakui semuanya, karena bagaimana pun tak mungkin Zio berbohong di depan kedua temannya.
“Dia temanku. Kenizia adalah temanku sejak SMA, maka dari itu kalian tidak boleh mendekatinya karena dia harus fokus bekerja. Dia tidak memiliki waktu untuk memikirkan hubungan asmara karena ia hanya fokus mengumpulkan uang untuk orang tuanya, jadi jangan ganggu dia,” jawab Zio dengan penuh dusta.
Zia menelan saliva susah payah mendengarkan kebohongan itu. Entah ada berapa kebohongan yang Zio katakan tadi, tetapi sejujurnya Zia sangat kecewa dengan hal tersebut. Padahal ia bisa jujur dan mengatakan pada mereka untuk tidak mengatakannya pada khalayak, tetapi Zia harus paham bahwa Zio lebih tahu tentang apa yang akan dilakukannya, pikirnya.
Kedua mulut Alex dan Mada menganga seakan tak percaya dengan proklamasi barusan. “Woah, apa kamu mengatakannya dengan jujur? Tapi sebelumnya kamu tidak pernah menceritakan dia di depan kami. Sebelumnya kami juga pernah melihat fotomu semasa SMA, tapi kami tak melihat ada dia,” timpal Mada seraya menaruh tangannya di bahu Zio.
Ia terlihat gelagapan, tetapi betapa bagus dramanya hingga wajahnya dapat mengontrol suasana ini dengan baik. “Dia dan aku berada di kelas yang berbeda. Wajar kalau fotonya tidak di kelasku. Lagi pula kalau kamu tidak percaya, silakan saja tanya padanya secara langsung,” kata Zio seraya melepaskan tangannya dari Zia.
“Benar yang dia katakan?” tanya Alex pada Zia.
__ADS_1
Wanita itu membenarkan letak celemeknya, lalu mengangguk seraya tersenyum. “Benar, bahwa Zio adalah teman saya. Saya terkejut menemuinya di sini karena sudah lama pula kami tidak bertemu. Kebetulan saya memang koki baru di sini dan saya tidak pernah berkomunisi dengan Zio dua tahun belakangan,” tambahnya.
Zia menatap Zio dengan tatapan seakan ‘puas dengan apa yang aku lakukan?’ sekilas, sebelum akhirnya kembali menatap ke arah Mada dan Alex secara bergantian. Ingin sekali dirinya kembali ke dapur dan memasak, karena itu jauh lebih nyaman daripada melakukan wawancara di depan tiga pria yang sangat asing menurutnya.
“Ah, gitu. Aku lebih percaya kamu daripada Zio.” Mada tertawa.
“Sudahlah lebih baik kamu kembali bekerja. Tidak baik berada di luar lama-lama.” Zio mendorong tubuh Zia hingga perempuan itu langsung pergi meninggalkan mereka dan segera berjalan kembali ke arah dapur.
Zio bernapas lega, setidaknya hari ini Zia masih aman. Ia mulai takut jika Zia akan dekat dengan mereka atau salah satunya.
“Ah, kamu memang tidak asik,” sindir Mada seraya kembali duduk di kursinya.
“Tapi ngomong-ngomong, apakah kalian memang sangat dekat ketika SMA? Bagaimana sikap Zia padamu? Apakah dia tipe perempuan yang cuek pada lelaki atau ramah?” tanya Mada, ia menatap Zio dengan fokus, haus akan informasi.
“Mada, kamu serius sekali ingin tahu tentang dia,” komentar Alex yang masih mengunyah makanannya.
“Ya, karena aku hanya ingin tahu sikap aslinya. Walaupun tadi aku lihat dia sangat ramah, tapi itu tuntunan agar pelanggan tidak kabur. Pegawai-pegawai seperti mereka, ‘kan, memang menjual emosinya, jadi aku ingin tahu sikap aslinya seperti apa,” jelasnya, kemudian ia membenarkan letak duduknya.
“Ya seperti perempuan pada umumnya,” jawab Zio asal.
__ADS_1
Mada melemparkan tisu bekas ke arah Zio. “Ah, kamu ini memang tidak asik sama sekali.”
Sementara di dapur, Zia kembali melanjutkan pekerjaannya dengan sangat cekatakan. Meskipun hatinya berantakan dan cukup kecewa karena kebohongan yang suaminya lakukan, Zia masih tetap bekerja dengan profesional. Ia memasak menu biasa sesuai pesanan di dapur dan sesekali membantu koki lainnya saat dirinya mulai memiliki waktu luang.
“Ayolah Zia, lebih baik lupakan yang terjadi sebelumnya, kamu tidak perlu patah hati atau pun kecewa oleh tingkah laku Zio. Itulah perjanjian di awal, jadi kamu harus bisa bertingkah seperti yang Zio lakukan, tidak mudah kebawa perasaan dan melakukan drama ini dengan enjoy. Kamu pasti bisa.” Zia membatin, menguatkan dirinya sendiri.
Setelah pukul lima sore, Zia langsung membersihkan tubuhnya di kamar mandi khusus pegawai. Di restoran ini memang tersedia dua kamar untuk koki yang berasal dari daerah yang jauh dan tiga kamar mandi untuk pegawai. Biasanya orang-orang akan langsung pulang, tapi karena Zia tak betah pulang dengan keadaan badan yang lengket, akhirnya ia memutuskan mandi terlebih dahulu.
Setelah keluar dan sudah mengganti bajunya dengan blous yang sewaktu pagi dikenakan, ia yang baru saja hendak menuju loker untuk memasukkan seragam tanpa sengaja bertemu manager di perbelokan.
“Zia, apa kamu punya menu lain untuk besok? Misalnya olahan dari ikan tuna,” tanyanya dengan ramah.
Zia tak langsung menjawab, ia berpikir sebentar menu lain yang biasanya digunakan pada restoran sebelumnya. “Saya bisa membuat ikan tuna rica-rica, tuna patties, dan onigiri isi tuna mayo. Apakah salah satunya bisa saya coba?” tanya Zia.
“Tiga-tiganya bisa kamu coba. Kedengaran sangat menarik, kebetulan kami hanya pernah memasak tuna rica-rica, kamu bisa memasaknya besok. Saya percaya kamu bisa melakukan yang terbaik,” pujinya seraya memasukkan tangannya pada saku tuksedo miliknya.
“Dan ini, kamu mendapatkan banyak tip dari pelanggan yang sangat menyukai makanan kamu. Saya sangat senang bisa bertemu koki yang luar biasa seperti kamu, Kenizia,” ujar sang manager seraya mengulurkan amplop putih di depan Zia.
Zia langsung mengambilnya. “Terima kasih, Pak. Saya akan berusaha untuk lebih baik lagi.”
__ADS_1
Manager itu menganggukkan kepalanya, lalu pergi meninggalkan Zia yang kemudian memasukkan baju ke dalam loker, sementara dia langsung pulang setelah mencangklong tasnya. Hari pertama berjalan begitu lancar. Ia sangat seneng banyak pelanggan yang menyukai masakannya. Walaupun ada kejadian yang merusak mood-nya, tetapi untungnya kedewasaan Zia bisa mengontrol segalanya dengan aman.