
Pukul delapan malam saat Zia baru keluar dari restoran. Namun begitu kakinya hendak melangkah menuju halte, hujan tiba-tiba turun dengan deras. Zia tak mungkin kembali ke dalam karena salah satu petugas yang memegang kunci restoran harus istirahat. Jika Zia kembali ke dalam, maka otomatis petugas tersebut tidak akan istirahat sebelum Zia pulang.
Wanita itu akhirnya lebih memilih untuk berjalan ke arah sebelah kiri bagian depan restoran yang memiliki teras lebih luas dan ia berdiri di sana seraya menunggu hujan reda yang entah kapan. Namun pikirnya jika hujan sangat deras, biasanya durasi hujan akan sebentar. Ia mencoba berprasangka baik saja untuk saat ini.
Gawai yang berada di saku celana terasa bergetar. Zia merogoh sakunya untuk meraih ponsel dan melihat nama Zio yang memberinya pesan singkat.
Zio :
Kamu masih di resto? Apa kamu baik-baik saja?
Zia mengembuskan napas pelan. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tak membuat Zio repot atau membuatnya khawatir. Lagi pula sepertinya Zio juga tak akan berinisiatif untuk menjemputnya. Jadi mumpung baterainya masih 1%, akhirnya ia mencoba membalas dengan kalimat yang apa adanya.
Zia :
Baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir.
Setelah itu gawai milik Zia langsung mati. Wanita itu berdecak, lalu memasukkannya ke dalam tas. Waktu terus bergerak, tetapi hingga lebih dari lima belas menit hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda redanya. Air yang berjatuhan masih deras seperti sejak awal, halilintar bersahutan, sementara kilat sesekali memberi penerangan.
“Ya Tuhan, semoga segera reda. Aku benar-benar ingin pulang. Mana tidak ada taxi yang melintas,” lirih Zia. Ia yang semula berniat untuk naik bus, menjadi berubah pikiran untuk naik taxi saja. Namun kendaraan itu pun tak kunjung melintas hingga membuatnya berdecak beberapa kali. “Aku akan pulang jam berapa kalau seperti ini terus? Aku juga butuh istirahat, rasanya sangat lelah,” tambahnya. Wanita itu berjongkok seraya memandang hujan yang masih terus berjatuhan.
__ADS_1
“Jika aku memiliki kendaraan pribadi, aku tidak akan sesulit ini,” keluhnya.
Zia memang tak pernah meminta Zio untuk membelikannya mobil atau motor meski ia percaya bahwa suaminya itu pasti akan membelikan apa pun yang Zia mau jika saja dia mengatakannya. Namun Zia tak ingin membeli kendaraan dengan uang milik orang lain, suami yang ia anggap sebagai teman itu lebih baik tak pernah bersentuhan dengan kepentingan Zia sekalipun. Ia jadi berpikir bahwa dirinya akan membeli kendaraan saat uangnya telah cukup saja.
Wanita itu melirik arlojinya saat kendaraan yang melintas sudah mulai lengang. Mulai pukul sembilan. Zia merasa frustrasi. Wanita itu berdiri, lalu mulai bolak-balik bak setrikaan yang berjalan. Bagaimana jika hujan ini menahannya sampai malam? Zia takut jika dia benar-benar tak bisa pulang. Ingin meminta tolong pada salah satu pegawai pun agar mengantarnya pulang Zia takut membuat mereka repot.
“Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Tolonglah, aku ingin pulang. Aku tak ingin terjebak lebih lama lagi,” lirihnya dengan nada yang terdengar putus asa.
Dirasakannya keringat dingin mulai mengucur di badannya, tubuhnya mulai gemetar. Zia takut jika membayangkan akan sampai malam dirinya berada di sini. Apa yang harus ia lakukan? Ada banyak orang jahat dan ia takut jika salah satunya akan menjadikannya sasaran empuk.
Seketika kedua mata Zia menyipit begitu mendapati sebuah mobil yang mendekat ke arahnya. Lampunya benar-benar silau hingga Zia harus menutupinya dengan lengan. Kemudian lampu mati saat mobil telah benar-benar berhenti tepat di depan Zia. Wanita itu mengerutkan dahi, memundurkan langkahnya merasa takut.
Zia tahu betul bahwa mobil merah itu masih tampak asing. Itu bukanlah mobil milik Zio sehingga ia tak mengenal seseorang yang mengendarainya. Detik berikutnya jendela terbuka dan menampilkan wajah seorang pria yang cukup Zia kenal.
“Kamu belum pulang? Lagi nunggu siapa?” tanyanya dengan suara yang sengaja dikeraskan agar dapat mengalahkan berisik hujan di antara mereka.
Zia makin akrab dengan suaranya. Pria itu adalah Mada yang selalu meminta manager untuk memanggilkan Zia ke depan. Mada adalah teman Zio. Ya, sekarang Zia sudah paham. Pria itu adalah orang yang sangat baik. Zia mendekat. “Aku memang masih menunggu reda agar bisa ke halte. Tapi sampai sekarang belum reda juga, jadi masih menunggu taxi,” jawabnya dengan jujur.
“Naik saja, nanti aku antarkan kamu pulang,” jawabnya.
__ADS_1
Zia tak langsung menyetujui. Jika pria itu mengantarnya pulang, Zia takut rahasia antara Zia dan Zio akan terbongkar. Mereka berdua sudah menutupi pernikahan dari semua orang termasuk teman-teman dekat Zio, maka dari itu Mada tak boleh mengetahui tempat tinggal Zia. “Eh, tapi rumahku jauh,” kata Zia. Sejujurnya ia bingung, di satu sisi ingin menerima tawaran Mada, tetapi di sisi lain ia harus menolaknya agar rahasia sialan itu tidak terbongkar.
“Tidak apa, naik saja, lagi pula aku sedang tidak buru-buru. Memangnya kamu mau sampai kapan menunggu di sini? Bagaimana jika hujannya tidak akan reda? Lebih baik masuk saja, aku akan mengantarkan kamu sampai rumah. Jangan curiga padaku, aku tidak akan menyakiti seorang wanita seperti kamu.” Kali ini suara Mada agak memaksa.
Mendengar halilintar yang menggelegar kencang sekali lagi, Zia refleks membuka pintu mobil Mada dan langsung masuk ke dalamnya. Selesai pintu ditutup, wanita itu memandang Mada sekilas. “Maaf jadinya merepotkan kamu. Aku benar-benar tidak tahu harus pulang bagaimana,” kata Zia dengan gugup.
“Tidak apa-apa. Nah, sekarang di mana rumah kamu?” tanya Mada sekali lagi.
“Kamu bisa mengambil jalan lurus dari sini, kemudian belok kanan di perempatan pertama. Lalu ambil kiri dan rumahku tak jauh dari perumahan,” jawab Zia.
“Berarti rumah kamu tidak jauh dari rumah Zio, ya? Soalnya rumah Zio ada di perumahan itu,” kata Mada seraya menggerakkan mobilnya menuju tempat tinggal Zia dengan laju yang cukup cepat.
Zia mengangguk kecil. “Iya, tidak jauh,” jawabnya.
Ia merasa bersalah pada Mada karena Zia masih saja mengatakan banyak kebohongan meski Mada telah membantunya dengan tulus. Namun ia juga tak memiliki pilihan lain. Zio akan marah besar padanya jika Zia membongkar rahasia ini.
“Ngomong-ngomong kamu pulang kantor setiap malam?” tanya Zia mengalihkan topik.
“Tidak juga, sih. Tadi memang ada kerjaan mendesak yang harus aku kerjakan. Aku makan malam dulu di kantin dan istirahat di sana. Begitu jam setengah sembilan, aku memutuskan pulang. Kebetulan aku memang selalu lewat sini karena lebih cepat dan tadi tidak sengaja melihat kamu. Awalnya aku tidak sadar, aku kira hanya perempuan random yang terjebak hujan, aku berniat untuk membantunya pulang. Tapi makin didekati, aku makin kenal siapa wanita itu dan ternyata itu kamu,” jawab Mada dengan runtut.
__ADS_1
Zia tersenyum, ia merasa cukup tenang berada di sini.