Berawal Dari Perjodohan

Berawal Dari Perjodohan
Bab 11


__ADS_3

Mada, salah satu teman Zio yang berambut agak pirang tak henti-hentinya melahap cumi pedas manis yang berada di piringnya. “Gila, ini menu terenak yang pernah aku makan. Sebelumnya restoran ini tak pernah bikin menu dari cumi karena katanya beef lebih tinggi peminatnya akhir-akhir ini,” pujinya seraya mengunyah makanannya dengan lahap. 


Zio menatap temannya dengan datar, kemudian ia melanjutkan makannya dengan pelan. “Mungkin karena kokinya memang berpengalaman, jadi dia bisa mengolah masakan apa pun dengan baik,” sambung Zio. 


“Mada, kamu tidak ingin melihat siapa kokinya? Ayolah, aku penasaran. Sepertinya kita harus tahu, apakah dia lulusan Le Cordon Bleu atau Institut of Culinary Education, atau dia memiliki bakat alami sehingga tak perlu pergi ke luar negeri untuk menciptakan makanan ajaib ini?” tanya teman lainnya yang mengenakan kemeja putih dengan name-tag “Alex Junior”, seperti yang lainnya rupanya pria bermata kecil itu juga sanga menikmati menu siang ini. 


“Ah, aku tidak tahu. Sebaiknya aku memanggil manager, itu ide bagus.” Mada mengedipkan sebelah matanya. Ia sebelumnya tak memiliki ide itu saking fokusnya pada rasa yang sangat pas pada makanan yang dikunyahnya. 


Karena Mada merupakan keponakan dari pemilik restoran ini, ia memiliki sedikit wewenang yang memudahkannya untuk melakukan apa pun.


“Sebaiknya kamu jangan lakukan itu pada jam makan siang, dia pasti sibuk,” tegur Zio, merasa tak nyaman dengan keputusan kedua temannya itu. Bagaimana pun Zio sudah bisa menebaknya bahwa pastilah Zia yang akan keluar nanti, maka dari itu ia tak mau Zia melihatnya di sini atau … Zio sendiri tak paham. Ia hanya tak mau Zia bertemu dengan kedua temannya itu. 


“Memangnya kenapa? Ide Alex bisa membuat koki itu istirahat,” sergah Mada. 


“Tapi dia sedang bekerja, biarkan saja. Lebih baik kita menikmati makanan ini dan pulang jika sudah kenyang dan membayar. Kita tak perlu tahu siapa yang memasak, lagi pula kita bisa mengetahuinya lain kali jika restoran ini nanti mengumumkan koki terbaiknya,” bantah Zio. Walau pun alasannya terdengar tak masuk akal, tetapi ia berusaha untuk menahan mereka agar tak menemui Zia. 


“Iya, benar. Tapi itu bisa meringankan pekerjaannya hari ini. Pekerjaan di kitchen tidak seenak kamu. Ya, walaupun kita tidak boleh adu nasib, tapi kita harus tahu bahwa kita bekerja di bawah AC walau banyak sekali tekanan yang berdatangan, tapi koki itu bekerja di depan kompor, panas-panasan dan hampir tidak ada istirahat jika pada jam padat. Maka dari itu tak apa kita memanggilnya sebentar dan mengajak ngobrol, agar dia bisa istirahat. Apa lagi jika kokinya cukup tua, biarkan dia di sini membagikan pengalamannya,” jelas Mada sekali lagi. 


Zio menyerah, kedua temannya itu memang selalu memiliki alasan lebih kuat. Akhirnya ia melanjutkan makanannya saat Mada mulai mengangkat tangan memanggil salah satu pelayan. Seorang ber-uniform kuning tua berjalan ke arahnya, “Selamat siang, Pak Mada. Bagaimana? Ada yang bisa kami bantu?” tanyanya. 

__ADS_1


“Manager mana? Saya ingin bertemu dengan dia,” ujarnya. 


“Baik, saya akan panggilkan Pak manager kemari,” jawabnya kemudian pergi meninggalkan meja Mada dan kedua temannya. 


“Kamu berniat banget sampai segininya,” sindir Zio. 


“Kamu kenapa, sih? Sejak tadi seakan melarang kami untuk tahu?” Alex penasaran. Ia menaruh sendoknya di atas piring yang masih berisi setengah cumi, sementara Zio sudah hampir habis begitu pun dengan Mada yang sudah menghabiskannya sejak lima menit lalu. 


“Ya tidak apa-apa, aku hanya tidak suka dengan orang yang mengganggu pekerjaan orang lain,” sahutnya. 


Bukannya tersinggung, Alex dan Mada tertawa. “Bro, lebih kalem menikmati hidup. Aku tidak akan membiarkan si koki kerepotan,” canda Mada. 


Tak lama dari itu seorang pria berkemeja hitam dengan rambut sedikit panjang dan seorang perempuan berpakaian mirip dengannya melangkah ke meja Mada. Ia tersenyum, “Bagaimana, Mas Mada? Apakah ada kritikan yang masuk hari ini?” tanyanya. 


“Boleh, saya akan memanggilnya kemari,” kata sang manager dengan lembut. Ia menghadap pada bawahannya. “Tolong panggilkan dia ke sini,” pintanya. 


“Baik, Pak.” Wanita tadi menjawab, kemudian pergi ke arah dapur. 


Zio mulai gugup mengingat ia akan bertemu dengan Zia sebentar lagi. Apakah ia harus melakukan drama dengan segera pergi ke toilet atau ia meminta seseorang untuk menelponnya dan memintanya agar ia segera ke kantor? Namun di sisi lain Zio juga tidak ingin melakukan hal itu karena ia ingin memastikan bahwa kedatangan Zia tidak membuat ribut kedua temannya. 

__ADS_1


Sekitar lima menit kemudian seorang wanita dua puluh enam tahunan datang dengan uniform khas koki berwarna putih. Ia juga masih mengenakan cook hat dan celemeknya karena sebelumnya ia memang sedang memasak. Tatapan Zia sontak mengarah pada Zio, begitu pun dengan lelaki itu. Namun setelah tersadar, baik Zia dan Zio langsung memalingkan pandangannya satu sama lain. 


“Wah gila, ini dia yang masak?” Mada seketika berdiri menatap Zia yang tersenyum ke arahnya. 


“Gila, Bro. Udah cantik, masih muda, pintar masak pula. Dia benar-benar sempurna,” puji Alex yang ikut serta mengagumi Zia. 


“Hei koki cantik, kenalkan namaku Mada. Senang menikmati masakan kamu.” Mada mengulurkan tangannya. Zia tak langsung membalas, ia melihat ke arah Zio yang memainkan ponsel seakan bodo amat. Setelah itu tanpa pikir panjang Zia langsung menjabat tangan pria itu. 


“Namaku Kenizia, biasa dipanggil Zia,” jawabnya. 


“Wah, nama panggilannya mirip sama Zio,” seru Alex. 


“Rumahmu di mana? Kapan-kapan mungkin kita bisa main biar bisa mencoba menu lainnya,” sambar Alex. 


Zio mulai tak tahan dengan pertanyaan teman-temannya yang terkesan menggoda Zia. Bahkan ia melihat bahwa kali ini Alex ikut berdiri bersama Mada dan seakan mendesak Zia. “Tapi tak apa kalau kamu tidak mau memberitahukan rumahmu juga. Yang penting kita bisa ketemu di sini,” tambah Mada. 


Zia tersenyum kecil. “Ya, bisa bertemu di sini,” jawabnya. 


“Eh tapi kamu lulusan mana? Apakah sebelum bekerja di sini kamu juga bekerja di restoran? Aku benar-benar suka dengan kamu dan masakanmu. Kamu benar-benar anak muda yang berbakat,” puji Alex lagi. Tatapannya tak bisa terlepas dari wajah ayu Zia. 

__ADS_1


Zio langsung berdiri dan menarik tangan Zia dengan tiba-tiba menjauhkannya dari Mada dan Alex yang terkesan sangat buaya. Melihat tingkah Zio, baik Alex dan Mada terkejut. 


“Hei, kenapa kamu main tarik tangannya? Apakah kamu kenal dia?” tanya Alex. 


__ADS_2