
Langkahnya cepat menuju ke jalan untuk menghentikan taxi, untungnya begitu ia keluar, sebuah taxi melintas, jadilah wanita itu langsung masuk ke dalamnya. Benar-benar gerah ia melihat pemandangan yang terjadi. Entah ini dinamakan apa, tetapi Zia merasa tak nyaman lagi untuk melanjutkan hubungan ini pada tahap yang lebih lama. Jika boleh, ia ingin mengatakannya pada Zio untuk melepaskannya saja.
“Pak, berhenti di sini,” ucap Zia saat mobil melintas di depan taman.
Taxi langsung berhenti, Zia memberinya beberapa lembar rupiah, lantas ia keluar dan berjalan masuk ke taman yang cukup ramai. Di kursi kayu yang masih kosong, Zia langsung duduk di sana menyendiri menatap banyak keluarga dan beberapa pasangan yang tengah menghabiskan harinya di taman ini. Kedua matanya menyapu memandang setiap hal-hal kecil yang terjangkau oleh pandangannya.
“Mungkin memang benar, bahwa semuanya harus dihentikan secepat mungkin,” lirih Zia, kemudian memandang tanah dengan tatapan nanar.
Tak lama dari itu, ia bangkit dan berjalan ke arah kedai ice cream. “Pak, ice cream strawberry satu,” ujar Zia pada pria paruh baya pedagang taman itu.
“Baik, silakan tunggu sebentar,” jawabnya dengan ramah.
Zia mengangguk, lalu duduk di kursi plastik seraya memandang jalanan dari tempatnya berada dengan tatapan cukup kosong. Ia tak berniat untuk pulang saat ini, karena berada di dalam rumah hanya mengingatkannya pada hubungan yang tidak jelas.
“Ini ice cream-nya.” Pelayan tadi memberikan satu mangkuk kecil ice cream dan menaruhnya di atas meja.
Zia langsung mengambilnya, lalu mulai menikmatinya sedikit demi sedikit. Rasa manisnya sangat pas. Zia memang tidak tahu betul daerah ini, tetapi ia hanya berpikir bahwa taman ini sangat bagus, jadilah ia mampir ke sini dan ternyata rasa ice cream-nya juga terasa sangat enak. Sejenak ia bisa melupakan masalahnya. Ice cream benar-benar berhasil membuatnya melupakan Zio untuk sementara waktu.
Selang beberapa menit gawai milik Zia berdering, buru-buru ia merogohnya dari saku blouse, dan dilihatnya nama ‘Mama Mertua’ di layar. Kedua mata Zia membulat, “Gawat. Kenapa tiba-tiba meneleponku?” Wanita itu langsung menaruh sendoknya di atas mangkuk, sementara tangannya menggeser tombol hijau untuk mengangkatnya.
“Halo, Ma,” sapa Zia dengan berusaha tetap tenang.
“Halo, Zia. Maaf, apakah Mama mengganggu kamu?” tanyanya.
“Tidak, Ma. Aku lagi tidak ada kerjaan. Memangnya ada apa?” tanya Zia.
__ADS_1
“Kamu tahu kenapa Zio tidak mengangkat telepon Mama? Mama sudah mencobanya berkali-kali tapi tidak diangkat satu kali pun, padahal gawainya aktif. Apakah dia sedang di rumah atau di mana?”
“Ehm, untuk itu aku kurang tahu, Ma, karena Mas Zio sedang bekerja di kantornya, ‘kan? Aku sedang tidak bersamanya, jadi aku tidak tahu kenapa dia tidak mengangkat telepon Mama. Nanti coba aku hubungi nomornya atau temannya, untuk menyampaikan ini,” kata Zia mencoba solutif.
“Oh okay, makasih ya, Zia. Soalnya ada hal penting yang menyangkut pekerja harus segera diberitahu olehnya. Ngomong-ngomong kamu di mana sekarang? Lagi di rumah?”
“Tidak, aku di taman,” jawabnya refleks. Zia lantas menepuk-nepuk mulutnya sendiri menyesali jawabannya. Kenapa ia berkata dengan jujur?
“Hah? Sendirian? Sedang apa? Kamu belum isi kah sampai sekarang, Nak? Mama kira kamu sudah isi, jadi kamu harus istirahat di rumah.”
“Eh, memang belum, Ma.”
“Apa kamu tidak ingin punya anak?”
“Kalau mau segeralah, Mama juga ingin segera menggendong seorang cucu. Kalau ada masalah, kalian berdua harus periksa ke dokter. Jangan terlalu lama, Nak. Mama ingin sekali menggendong cucu, Papa juga demikian. Jadi, usahalah yang terbaik. Jangan menyia-nyiakan kesempatan.” Ibu Zio berkata dengan tegas.
Zia memijat pelipisnya seketika, “Baik, Ma. Terima kasih atas sarannya.”
“Ya sudah, Mama matikan dulu. Jaga kesehatan kalian.”
Setelah sambungan mati, Zia kembali memakan ice cream-nya dengan cepat. Apa yang ibu mertuanya itu harapkan? Memiliki anak? Padahal Zia dan Zio saja tak pernah satu kali pun tidur di atas ranjang yang sama. Ia benar-benar tak habis pikir dengan drama yang tidak pernah usai ini. Rasanya ingin pergi saja hingga waktu di mana mereka harus berpisah tiba, dengan begitu Zia bisa bebas tanpa tekanan.
--
Hingga pukul satu siang, Zia baru memutuskan hendak pulang setelah menghabiskan beberapa jam di taman. Sebelum naik taxi, wanita itu berjalan ke toko kue yang tak jauh dari taman membeli banyak bahan-bahan yang akan ia eksekusi nanti malam. Zia berniat untuk membuat kue kering. Saat pikirannya berantakan, hanya dengan memasak keadaannya bisa kembali baik.
__ADS_1
Selain memberikannya pada Zio jika ia mau, Zia juga hendak memberikannya pada Mada sebagai ucapan terima kasih karena telah menolong Zia beberapa kali.
Ia mengambil tepung terigu, tepung maizena, mentega, cokelat batang, gula, baking powder, dan banyak hal lainnya yang ia masukkan ke dalam keranjang. Belum tahu akan membuat apa, tetapi ia hanya perlu bahan-bahan dasarnya dulu.
“Mungkin aku bisa membuat kue kacang dan brownies. Semoga saja Mada menyukainya,” katanya.
Ia membawanya ke depan, lantas membayarnya di kasir. Setelah selesai, kresek besar itu ia bawa keluar menunggu taxi yang melintas. Namun belum lima menit, sebuah mobil hitam yang sangat ia kenal menepi dan berhenti tepat di depannya. Dahi Zia berkerut melihat kaca mobil yang mulai terbuka dan memperlihatkan Zio yang menatapnya dengan wajah kebingungan.
“Kamu belum pulang sejak tadi?” tanya Zio.
“Kalau aku masih di sini berarti aku emang belum pulang,” jawabnya setengah jutek.
“Ayo naik, aku mau pulang,” ajaknya.
“Kamu tidak takut jika nanti ada yang melihatmu denganku? Kamu tidak takut jika nanti ada yang mengikuti mobil ini dan rahasiamu terbongkar?” tanya Zia dengan asal.
“Mereka tahu kalau kamu teman SMA-ku, jadi itu tak masalah. Ayolah, cepat masuk. Aku tidak akan berlama-lama di rumah karena aku harus keluar lagi. Aku masih ada janji,” desak Zio.
“Pulang saja kalau kamu buru-buru,” balas Zia.
“Ya, ayo sekalian,” paksanya.
Karena malas berdebat, akhirnya Zia langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang. Baik Zia maupun Zio tak keberatan dengan hal itu. Zia memang tak ingin duduk di depan karena ia masih sangat kesal dengan hari ini. Beberapa hari belakangan, Zio memang membuatnya kesal. Ingin sekali Zia bicara padanya sekarang juga untuk melepaskan dirinya lalu membiarkan Zio sibuk dengan siapa pun, tetapi Zia belum memiliki keberanian.
Selama di jalan, tak ada obrolan keluar dari keduanya. Zio tak bertanya, akan membuat apa Zia hari ini, pun dengan Zia yang tak berminat bertanya akan ke mana Zio hari ini. Pikirnya, itu bukan urusan mereka sedikit pun.
__ADS_1