Berawal Dari Perjodohan

Berawal Dari Perjodohan
Bab 21


__ADS_3

Zio menaruh bekel makan siangnya pada spunbond cokelat muda, kemudian dibawanya ke dalam mobil begitu pukul delapan. Pagi ini ia memiliki jadwal ke kantor, lalu siang nanti setelah makan akan ke kampus untuk mengambil tugas tertulis milik mahasiswa yang tertinggal di meja fakultas. Malam nanti Zio akan mengoreksinya karena ia harus mengisi nilai tiga hari ke depan. 


“Kamu berangkat naik apa?” tanya Zio pada wanita berkaus merah muda pendek dan celana kulot yang baru saja keluar dari rumahnya. 


“Naik trans,” jawabnya seraya mengambil sepatu di rak depan, lalu memakainya kemudian. 


“Baiklah.” Zio langsung masuk ke dalam mobilnya, lalu segera mengendarainya keluar halaman menuju kantornya. 


Zia berdecih. Ia masih kesal pada pria itu entah apa sebabnya. Bahkan Zio tak pernah menawarkannya untuk berangkat bersama meskipun mereka satu arah. Zio benar-benar pintar dalam menyembunyikan rahasianya, bahkan hingga saat ini tak ada satu pun yang curiga pada mereka. 


Karena tidak ingin membuang waktu, Zia langsung berjalan kaki menuju halte yang cukup dekat dari rumahnya, tetapi ia memang harus berjalan sedikit jauh hingga perumahan tetangga untuk mencapai halte depan. Kurang lebih ia perlu berjalan sekitar tujuh menit untuk menunggu bus umum itu. 


Saat kakinya hendak menyebrang, sebuah mobil yang tak asing mendekat ke arahnya seakan menghalangi Zia untuk tak menyebrang. Wanita itu mundur dua langkah saat mobil itu berhenti tepat di depannya. Detik berikutnya kaca mobil terbuka dan menampilkan sosok Mada yang telah rapi. Pria itu mengembangkan bibirnya dengan lebar. 


“Zia, ayo naik,” ajaknya.

__ADS_1


“Eh, tidak perlu. Aku bisa naik trans atau taxi,” tolak Zia gelagapan. Ia cukup lega karena ia tak bertemu Mada saat di depan perumahan Zio. 


“Tidak usah, lagi pula kita searah kalau kamu mau ke restoran. Kamu bisa menghemat waktu dan uang kalau kamu mengikutiku. Jadi, ayolah naik. Aku akan senang jika kamu menerima ajakanku,” bujuk Mada. 


Ajakan Mada mengingatkan Zia pada larangan Zio yang memintanya untuk menjauhi Mada tanpa alasan. Zia berpikir bahwa Zio melarang itu bukan karena cemburu, tetapi ia hanya tak suka saja jika mungkin ada mata-mata orang tuanya yang tahu jika Zia berjalan dengan pria lain. 


“Tapi—”


“Ayolah, aku tidak jahat padamu,” potong Mada. 


“Sebelumnya terima kasih. Aku selalu merepotkan kamu,” lirih Zia. 


Mada menoleh sekilas, lalu memandang jalanan di depan lagi. “Ah, tidak kok. Biasa saja. Bahkan kalau kamu memintaku untuk menjemput kamu setiap hari dan mengantarkan kamu ke tempat kerja kamu kapan pun, aku pasti bisa. Kamu tidak perlu merasa sungkan,” jawab Mada dengan ramah. “Ngomong-ngomong rumah kamu di mana? Apakah aku bisa main ke rumah kamu kapan-kapan?” tanyanya. 


“Tidak bisa!” jawab Zia refleks. 

__ADS_1


Mada mengerutkan dahinya. Zia menatap Mada tak enakan, wanita itu menepuk-nepuk bibirnya yang kelewat cepat dalam menjawab. “Sial, apa yang sudah aku jawab? Padahal seharusnya aku biasa saja.” Batin Zia. 


“Kenapa?” tanya Mada penasaran. 


“Ehm, soalnya rumahku lagi direnovasi jadi aku tidak menerima tamu terlebih dahulu. Rumahku benar-benar sangat berantakan untuk saat ini, jadi aku tidak mungkin menerima tamu dalam waktu dekat. Tidak ada tempat untuk duduk, akan sangat tidak sopan jika kubawa ke dapur, ‘kan?” jawabnya penuh dusta. Zia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, merasa bodoh dengan alasan yang dimiliknya itu. 


Mada mengangguk-anggukkan kepalanya berusaha memahami. “Begitu, ya. Sayang sekali, tapi semoga kapan-kapan aku bisa main ke tempatmu, ya. Mana tahu aku bisa kenal dengan keluargamu.”


Zia mengangguk dan tersenyum kaku. “Iya,” jawabnya. 


Setelah setengah jam berselang, mobil Mada akhirnya berhenti tepat di depan restoran. Seraya membuka pintu, Zia menoleh ke arah Mada. “Terima kasih sudah mengantarkan aku kemari, Mada.”


Mada mengangguk. “Sama-sama,” jawabnya. 


Tangannya langsung membuka pintu, lantas wanita itu langsung keluar mobil dan menutup kembali pintunya dari luar. 

__ADS_1


--


__ADS_2