
Zia langsung menoleh ke arah seorang pria yang terlihat berdiri di samping mobil. Mada. Pria itu mendekat ke arah tiga preman yang sekarang menyandera Zia.
“Lepaskan dia atau saya akan lapor polisi agar tiga pengangguran dan penjahat seperti kalian musnah dari dunia ini,” ancam Mada.
“Lawan saja kalau kamu berani, anak kemarin sore tidak perlu membuat ancaman mengerikan,” sahut pria berambut pelontos.
Pria itu mulai maju, disusul satu pria lainnya menghadapi Mada dua lawan satu. Mereka mencari celah, tetapi Mada terlihat cukup cekatan hingga ia mampu menahan serangan dan menyerang balik kedua preman di itu. Salah satu dari mereka tersungkur. Mada mengawasi satu orang lainnya yang cukup kuat, pria itu telah memasang kuda-kuda untuk mendaratkannya pada Mada. Saat Mada fokus pada pria lain itu, pria tadi yang tersungkur berhasil bangkit dan mendaratkan tendangan di belakang kaki Mada hingga pria itu tersungkur.
“Jangan sok jagoan, Sialan. Kau akan mati malam ini juga!” Pria pelontos itu menginjak-injak perut Mada yang mengaduh kesakitan.
“Berhenti, berhenti! Jangan lakukan itu, aku mohon!” teriak Zia. Kali ini wanita itu berteriak dengan sekuat tenaga, ia takut sekali melihat Mada yang sudah lemas di bawah kaki para penjahat.
Namun sialnya Zia tak bisa menolongnya karena pria yang menahannya memiliki tenaga cukup besar.
Saat Mada sudah mengumpulkan tenaganya, ia kembali bangkit dan hendak melayangan bogem mentah pada pria pelontos yang menginjak perutnya, tetapi sebuah teriakan menghentikan aksinya.
“Berhenti!”
Zia menoleh, dilihatnya Zio dan Alex di sisi mobil yang entah dari kapan telah berada di belakang mereka. Tak lama dari itu di belakang dua pria itu, beberapa orang berlari tanpa suara. Menyadari bahwa orang-orang yang dibawa Zio dan Alex adalah sekumpulan polisi, para preman tadi langsung berlari tetapi polisi jauh lebih cekatan hingga mereka bertiga bisa terjaring sempurna dan langsung dimasukkan pada mobil mereka.
Zia langsung berlari ke arah Mada yang kali ini terduduk, ia melihat sudut bibirnya yang terlihat berdarah. Alex dan Zio langsung mendekati pria itu juga.
__ADS_1
“Mada, aku minta maaf aku—”
“Kau, Zio!” Mada menaruh telunjuknya di dada Zio dengan pandangan sengit. “Jaga istrimu dengan baik, sialan. Kalau kamu tak menyukainya lepaskan dia dan jangan menahannya di penjara tak beradab itu. Mau sampai kapan kamu bersandiwara seperti ini? Apakah menurutmu membangun rumah tangga hanya untuk main-main saja? Kalau kamu tak bisa mengantarnya, kau sediakan sopir dan kendaraan untuknya, bukan pergi ke kantor seperti orang bodoh dan membiarkan istrimu kesulitan!” sentak Mada.
Zio tak membalas. Zia makin merasa bersalah, karena dirinya sekarang mereka berantem seperti ini.
“Sudahlah, Mada, lebih baik kita pulang dan mengobati lukamu. Kalau kamu marah-marah, kamu akan lama sembuh.” Alex langsung mendorong tubuh Mada masuk ke dalam mobil. “Zio, bawa istrimu pulang dengan baik, sampai jumpa besok di kantor. Hati-hati jika bertemu Mada menghindar sebentar.” Alex berteriak sebelum akhirnya mobil yang mereka kendarai pergi meninggalkan Zio dan Zia.
Hening. Zia dan Zio tak berkata apa-apa selain hanya menatap barang belanjaan yang sudah berserakan di bawah. Zia langsung berjongkok mencoba mengambil sayur-sayuran di bawah. Namun tiba-tiba Zio memegang tangannya, menghentikan gerakan Zia.
“Ayo pulang,” ajaknya.
Zia mendongak. “Sayuran ini masih bisa digunakan. Kita tak boleh membuang makanan.”
Zia duduk di samping pria itu, sudah cukup lelah untuk mendebat Zio hari ini. Bukannya pergi setelah menyalakan mobil, Zio malah menatap jalanan di depan dengan tatapan kosong. “Apa selama ini aku jahat padamu? Apakah selama ini aku benar-benar tak berguna untukmu?” tanya Zio pada Zia.
Wanita itu menoleh, ia tak menjawab. Zia yakin Zio sudah mengetahui jawabannya.
Detik berikutnya Zio langsung mengendarai mobilnya menuju rumah mereka dengan laju yang terlampau pelan. Zia tak melakukan protes atau apa pun, sebenarnya dalam diam wanita itu ia juga merasa bersalah. Andai ia menurut pada Zio untuk ke supermarket malam saja, mungkin ia tak akan menjatuhkan Zio dan teman-temannya pada urusan bahaya itu. Tak bisa bayangkan jika Zio dan Alex datang lebih lambat, apa yang akan terjadi pada Mada? Pria itu bisa terbunuh dengan mudah di bawah kaki tiga preman gila itu.
Sesampainya di halaman rumah, mobil dihentikan. Zia langsung turun sementara Zio masih duduk di balik setir menenggelamkan kepalanya di sana. Kata-kata Mada memukulnya telak. Apa yang dikatakan pria itu memang benar. Zio hanya memiliki dua pilihan, melepaskan atau mempertahankan Zia.
__ADS_1
Zio mendengkus, mengambil kunci lalu keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah, Zia terlihat sedang memegang gelas berisi air putih dengan tatapan kosong.
Zio mendekat, lalu duduk di samping wanita itu. “Zi—”
“Bagaimana kamu bisa tahu di mana aku dan Mada berada?” tanya Zia memotong ucapan Zio.
“Aku minta tolong padanya begitu kamu tidak kunjung pulang. Aku khawatir, aku takut terjadi apa-apa, jadi aku menelpon Alex dan Mada untuk mencarimu. Mada-lah yang menemui pertama kali dan dia langsung share lokasi begitu sudah berada di tempat. Saat itu aku masih di dekat supermarket bersama Alex. Kami menghubungi polisi agar bisa menghentikan pertengkaran,” jawab Zio.
“Kamu cemas padaku?” Zia menatap mata Zio seraya menunjuk dirinya sendiri dengan tatap penasaran.
“Aku selalu cemas padamu kalau kamu tahu,” jawab Zio apa adanya.
“Bukannya urusan akan menjadi lebih mudah jika aku menghilang dari hidupmu?” tanya Zia.
“Aku tak suka kamu mengatakan itu,” debat Zio.
“Kenyataannya memang seperti itu. Perjanjian bisa terlepas jika mungkin salah satunya sudah tidak aman,” desinya. Zia kembali meneguk air minumnya hingga tandas.
Kelu sekali untuk mengakui hal sejujurnya. Zio tak paham dengan sikapnya sendiri. Ia ingin mengatakan semua yang ia pendam selama ini, tetapi sulit baginya untuk mengakui. Rasa gengsinya cukup besar hingga ia tak berhasil menemukan kosa kata yang harus ia ungkapan pada Zia.
Zia berdiri. “Aku akan mandi. Sebelumnya terima kasih telah menolongku. Dan aku minta tolong padamu untuk memastikan kondisi Mada juga. Aku merasa bersalah padanya,” ungkapnya kemudian pergi menuju kamarnya.
__ADS_1
Zio menggigit bibir bawahnya, lagi-lagi ia gagal untuk mengungkapkan semuanya. Pria itu berdcak, mengacak-acak rambutnya kesal dengan dirinya sendiri. “Apa yang sudah aku lakukan? Aku benar-benar payah untuk berkata jujur padanya. Dalam berurusan dengan percintaan, aku seakan melupakan usiaku. Ayolah, Zio kamu harus jujur dengan dirimu sendiri.” Zio meyakinkan. “Benar, aku harus jujur.” Sekali lagi ia memantrai dirinya sendiri.