
Zio yang baru selesai menghabiskan makanannya, saat hendak mengambil minum langsung menggugurkan niatnya begitu melihat layar gawai yang berada di atas meja menyala. Ia mengulurkan tangan dan meraih benda pipih itu saat mendapati nama sekretarisnya yang menelpon.
“Halo, selamat siang,” sapa Zio.
“Halo, Pak Zio. Sebelumnya maaf jika mengganggu waktu Anda. Pihak dari perusahaan D yang ingin bekerjasama sudah mulai menjadwalkan pertemuan kedua. Apakah Anda memiliki waktu luang lima hari ke depan tepat hari senin pukul delapan?” tanya suara wanita dengan begitu tegas.
“Saya tidak ada jadwal meeting pada minggu depan, kan? Jika tak ada meeting perusahaan kantor, mkaa buatkan saja jadwalnya nanti saya hanya tinggal mengikuti,” jawab Zio. Kedua matanya fokus menatap meja, ia tak mengindahkan Mada dan Alex yang masih berbincang tentang rasa masakan, Zia, hingga pekerjaan kantor yang tak ada habisnya.
“Selasa depan Bapak memiliki jadwal pertemuan dengan perusahaan C, hari-hari selanutnya tidak ada jadwal lagi,” jawabnya.
“Baik, nanti saya akan bertemu dengan mereka. Terima kasih sebelumnya.”
“Sama-sama, Pak.”
“Apakah ada hal lainnya?” tanya Zio sebelum mematikan sambungan.
“Jika selesai makan siang, saya berharap Bapak bisa langsung ke kantor karena ada dua berkas yang harus Bapak tandatangani agar saya segera mengirimkannya pada pihak bersangkutan. Sebenarnya beliau mengatakan pada saya akhir penandatangan tiga hari dari hari ini, tapi menurut saya lebih cepat lebih baik,” ujarnya.
__ADS_1
“Baik, saya akan segera kembali ke kantor sehabis ini.”
Setelah tak ada topik lain yang harus dibahas, Zio langsung mematikan sambungannya dan membuka aplikasi kalender untuk membuat jadwal pertemuan yang cukup padat di minggu depan. Sebenarnya ia juga memiliki jadwal lain untuk bertemu teman lama, tetapi itu hanya sebatas rencana saja karena ia tak benar-benar ingin pergi keluar rumah akhir-akhir ini.
Zio meraih gelas berisi minuman jus alpukat, lalu ia meminumnya hingga tandas. Pria itu mengambil tissue dan mulai membersihkan sekitar mulutnya. Setelah benar-benar sudah rapi, ia berdiri. “Aku tidak bisa lama-lama di sini, aku harus kembali ke kantor. Sekretaris menelponku dan memintaku untuk segera kembali ke sana,” pamit Zio seraya memasukkan gawai ke dalam saku.
Alex dan Mada mendongak bersamaan. “Ah, ya sudah. Kamu mau naik taxi?” tanya Alex.
Zio mengangguk. “Iya, aku naik taxi atau kendaraan online. Apa sajalah, lagi pula tidak jauh. Sebelumnya terima kasih sudah memaksaku untuk ikut serta makan siang di sini. Jika saja kalian tidak memaksa, mungkin aku tidak akan bolak-balik dan terburu-buru seperti ini,” sinisnya pada Mada.
Yang disindir hanya tertawa saja. “Okay deh, maaf Pak Zio. Aku bener-bener bosan di kantor dan masakan di kantin, maka dari itu aku tidak mau kamu merasakan hal yang sama. Berterima kasihlah padaku yang sangat baik karena membebaskan kamu dari mie ayam yang selalu keasinan,” celoteh Mada membuat pembenaran atas tindakannya.
“Kamu lebih betah di sini daripada di kantor, huh?” tanya Alex seraya mengunyah makanan terakhirnya. Pria itu mulai terlihat mendorong piringnya agak jauh, meraih tissue dan mulai membersihkan tangannya dengan benda tipis itu.
Mada yang sedang memainkan gawainya menoleh, kemudian ia menggeleng. “Tidak juga, sih. Tapi lagi pula siapa yang betah di kantor. Walaupun kita budak korporat, itu hanya tempat untuk mencari uang saja, selebihnya kita harus kembali pada tempat yang menurut kita nyaman,” jawabnya. Ia menegakkan duduk dan menaruh gawai di atas meja.
“Kamu suka Zia?” tanya Alex. Tatapannya dalam memandang Mada seakan tengah menyelidik dan mencari jawaban dari mata Mada.
__ADS_1
Pria di depannya tampak gelagapan mendapat pertanyaan itu yang keluar dari mulut Alex. Tak menyangka jika temannya tersebut menyadari dengan cepat gelagatnya. “Ngarang, kamu. Tidak mungkin aku menyukai Zia. Lagi pula kami baru bertemu kemarin dan tidak ada kesan baik selama kami mengobrol. Jangan berlebihan menilai orang hanya berdasarkan gelagatnya saja,” jawab Mada berusaha mengelak.
Bukannya percaya, sebaliknya Alex tertawa seraya melemparkan tissue bekas di depan Mada. “Kamu kelihatan sekali kalau sedang berbohong. Lagi pul kamu tidak salah jika suka sama koki baru itu. Walaupun pertemuan kalian baru sebentar, tapi kamu tahu bahwa terkadang cinta memang hadir dengan cara-cara yang unik. Itu artinya kamu jatuh cinta pada pandangan pertama,” jelas Alex.
Pria itu tampak tak berhenti tertawa melihat wajah Mada yang berusaha memprotes. Namun Mada sendiri pun tahu bahwa Alex adalah pria paling peka yang pernah ia kenal. “Terserahlah, tapi tidak seperti yang kamu bayangkan.” Mada langsung mengambil gawai miliknya, lalu mulai memainkannya menghindari desakan Alex.
“Kamu tidak mau jujur seakan lagi mengobrol dengan stranger, Bro. Padahal kita sudah berteman tujuh tahun lebih. Aku tahu apa yang kau sembunyikan sekarang, Mada. Lebih baik kamu mulai dekati Zia, sepertinya wanita itu belum menikah,” saran Alex.
Mada kembali mendongak. Ketika ia hendak protes, dilihatnya Zia yang terlihat baru saja keluar dari dapur seraya melepas cook hat-nya. Dari kejauhan, wanita itu tampak cantik meski baru keluar dari dapur dan telah berjam-jam menghadapi kompor. Make-up-nya mungkin sudah luntur, tetapi aura yang dikeluarkan benar-benar sangat kuat hingga Mada tak menyadari bahwa sejak tadi pria itu telah memfokuskan pandangannya pada wanita yang sedang berjalan menuju etalase pintu keluar.
“Astaga, Mada! Lama-lama kamu gila kalau begini terus,” komentar Alex seraya memperhatikan temannya dengan raut wajah prihatin. “Kamu jujur saja padaku. Nanti aku akan membantumu sesekali jika kamu mau,” tambahnya.
Mada yang baru sadar langsung menoleh. Ia mengembuskan napas seraya memegang kepalanya. “Sial. Aku juga tidak tahu, tapi jika aku menyukai wanit itu, aku hanya merasa sungkan pada Zio yang sudah mengenalnya sejak awal. Walaupun mereka bukan siapa-siapa, tapi aku merasa lancang saja jika mendekati Zia,” sergah Mada. Raut wajahnya berubah kusut.
Alex berdecak seraya melemparkan tissue kedua pada wajah Mada. “Mereka tidak punya hubungan, kamu tidak perlu merasa bersalah.” Alex mulai geregetan.
“Tapi tetap saja aku harus meminta izininnya terlebih dahulu jika mau mendekati Zia. Bagaimana pun Zio lebih tua daripada kita, kemudian jika aku dibantu olehnya presentase keberhasilannya jauh lebih tinggai daripada dibantu olehmu,” sarkasnya.
__ADS_1
Alex tertawa. “Sialan. Silakan saja kalau Zio mau membantumu,” tantangnya.