Berawal Dari Perjodohan

Berawal Dari Perjodohan
Bab 28


__ADS_3

Zia tak pernah keluar lagi dari kamarnya sejak kejadian malam itu. Mungkin sudah dua hari ia berada di kamar dan tak keluar, bahkan wanita itu meminta izin pada restoran untuk mengambil cuti satu minggu disebabkan karena ia masih tak enak hati jika harus bertemu dengan Mada. Pria itu tak pernah memberinya pesan atau menelpon Zia lagi, mungkin Zio sudah menjelaskannya keesokan harinya setelah malam itu. 


“Apa yang dia lakukan? Apa dia sudah gila?” desis Zia. 


Ia masih shock dengan pengakuan Zio yang tiba-tiba, pikirnya itu terlalu mendadak dan Zia juga tak habis pikir bahwa Zio akan mengatakannya di depan temannya itu. Zia takut jika hubungan mereka akan renggang setelah ini. 


Sekarang tepat pukul sembilan malam, terdengar suara ribut di dapur. Akhir-akhir ini Zio juga selalu membuat sarapannya sendiri. Setelah kejadian malam itu, mereka langsung pulang dan belum bertemu lagi hingga dua hari berlalu. 


Saat dirinya baru saja hendak ke kamar mandi, gawai yang berada di atas meja menyala. Dilihatnya nama ‘Alex’ tertera di layar. Zia langsung menggeser tombol hijau dan mendekatkan benda pipih itu di telinga. 


“Halo, Alex. Bagaimana?” tanya Zia. 


“Hei, Zia. Kenapa kamu tidak berangkat bekerja hari ini? Apakah karena kejadian malam itu?” tanyanya langsung. 


Zia tak langsung menjawab. Bingung ia harus memberikan respons seperti apa. 


“Zia, kamu tidak enakan sama Mada, kah? Bahkan Mada dan Zio sudah makan siang bersama lagi tadi siang. Kamu tidak perlu tak enak hati padanya, kami paham semuanya. Zio sudah meminta maaf pada Mada dan Mada hanya tertawa-tawa saja. Jadi, kenapa kamu masih memilih cuti? Apa sekarang suamimu mulai melarang kamu untuk bekerja? Ah, sialan kalau itu benar-benar terjadi,” oceh Alex dari seberang. 


Zia menggigit bibir bawahnya pelan. “Ah, tidak. Aku tidak dilarang, aku hanya perlu waktu untuk kembali, Alex.”


“Kembalilah, Mada masih menunggu masakan kamu. Ayo, kita berteman seperti dulu lagi,” ajaknya dengan ramah. 


Zia tersenyum, mengangguk-anggukkan kepalanya dengan sangat senang meski Alex tak melihatnya. “Aku selalu bersedia untuk itu.”


Setelah mengobrol banyak hal, akhirnya sambungan terputus karena Alex harus kembali lembur sementara Zia memutuskan untuk membasuh wajah. Setelah lima menit, ia kembali keluar dan mengenakan skincare andalannya sebelum pergi tidur. Sejujurnya ia cukup lapar malam ini karena belum makan sejak pagi. Biasanya ia hanya memakan brownies, tapi brownies buatannya pun telah habis. 

__ADS_1


Pintu terketuk dari luar, “Zia!” panggil Zio. 


Zia menoleh ke arah pintu, baru kali ini pria itu menghampiri kamarnya. Setelah selesai menggunakan skincare, Zia langsung menuju pintu dan menarik gagang untuk membukanya. Di depan kamar Zio telah berdiri mengenakan kaus pendek dan celana boxer merah tua. 


“Ayo makan,” ajaknya. “Jangan menolak, kamu belum makan sejak pagi, ‘kan?” Tanpa menunggu persetujuan, Zio langsung menarik tangan Zia menuju ruang tengah. 


Di meja sudah tersedia kotak yang terbuka berisi pizza, hamburger, kentang, dan dua gelas kopi. Zio dan Zia duduk di sofa bersisian. “Aku minta maaf atas kejadian kemarin. Aku harap kamu tidak memikirkannya, karena itu bukan masalah besar,” ungkap Zio. 


“Terserahlah, aku capek bahas itu.” Zia mengambil potongan pizza, lalu mulai memakannya dengan takzim. 


Karena televisi di depannya mati, tak ada suara apa pun di sana kecuali gerakan-gerakan meraka yang mengambil makanan kedua, menaruh kopi di meja, atau hal-hal kecil lainnya. Selebihnya tak ada obrolan yang keluar dari keduanya. Sesungguhnya Zia tak tahu apa yang Zio rasakan saat ini, dan apa maksudnya mengatakan itu selain hanya karena sebab orang tuanya. 


Selang beberapa menit keadaan tiba-tiba menjadi gelap. Semua lampu di rumah mati, tak ada cahaya sedikit pun dari jendela. “Mati lampu?” Suara Zio terlihat terkejut. 


“Tidak pernah, baru kali ini selama aku tinggal di sini. Sial, mana lampu kerja juga mati karena belum aku charge, ponsel juga mati,” lirih Zio, suaranya terdengar panik. 


“Ya sudah, memangnya kenapa kalau tidur tanpa lampu? Makin gelap bukannya makin nyenyak? Sekarang kamu bisa kembali tidur,” kata Zia.


Kali ini wanita itu berdiri setelah menghabiskan dua potongan pizza. Merasa ada sesuatu yang bergerak di sampingnya, Zio langsung meraba sofa tempat semula Zia duduk dan ternyata Zia sudah tak ada di sana. Lambat laun, kedua matanya mulai terbiasa dengan kegelapan dan ia bisa melihat bayang-bayang Zia berdiri hendak pergi. 


Zio berdiri juga. “Zia, aku minta maaf atas semua kesalahanku. Tapi tolong, kamu harus mengerti bahwa aku tak bisa tidur tanpa lampu tidur yang menyala. Jadi, aku minta tolong padamu, tidurlah di kamarku,” ungkap Zio memohon. 


Zia terkejut. Wajahnya langsung memerah, untung saja lampu mati, jadi Zio tak bisa melihatnya. “Yang bener saja,” tampik Zia. 


“Malam ini saja,” kata Zio. 

__ADS_1


“Lebih baik kamu yang tidur di kamarku. Aku tidak bisa kalau harus tidur di kamarmu.”


“Okay, apa pun itu.”


Lantas keduanya masuk ke dalam kamar Zia. Semerbak mint langsung tercium begitu pintu terbuka. Tak pernah Zio masuk ke kamar ini sejak menikah dengan Zia. Kamar yang dulu kosong, sekarang terisi dengan rapi. Mereka masuk ke kamar mandi untuk menggosok gigi kembali, sebelum akhirnya Zia langsung naik ke tempat tidurnya seperti biasa.


Zia seketika bangkit mengingat bahwa ranjang miliknya tak terlalu besar. Di sana juga tak ada sofa atau dia tak memiliki bad cover lain yang bisa Zio gunakan jika ia akan tidur di bawah. 


“Kamu tidur di atas saja, soalnya tidak ada tempat lain di sini,” kata Zia. Ia membuka jendela, lalu segera merebahkan tubuhnya, menarik selimut dan membelakangi Zio menghadap ke luar yang gelap. 


Sial, sebenarnya jantung Zia berdetak tak karuan saat ia merasakan Zio mulai tidur di sampingnya. Zia tak pernah tidur dengan lelaki sejauh ini, maka dari itu ini adalah pengalaman pertamanya tidur dengan suaminya. Ah, ataukah teman baiknya. 


Zio sendiri hanya menatap langit-langit kamar yang gelap dengan tatapan kosong. Ia berusaha menetralisir debarannya yang terkira. Berusaha bersikap biasa saja, tapi kenyataannya kehadiran Zia di sisinya membuat dirinya salah tingkah. Tak tahu apakah Zio bisa tidur dengan nyaman jika seperti ini?


“Zia?” panggil Zio. 


“Ada apa?” sahut Zia. 


“Besok, buatkan aku bekel makan siang lagi. Aku tidak akan meninggalkannya lagi.”


“Kenapa? Karena kamu tidak ingin acara berduaan dengan kekasihmu terganggu olehku?” sinis Zia menjawab. 


“Dia bukan kekasihku, dia perwakilan perusahaan yang mau bekerjasama denganku. Aku tidak tahu mengapa dia bersikap seolah-olah kami pacaran,” debatnya. 


“Alasan klasik,” lirih Zia. 

__ADS_1


__ADS_2