
Zio terlihat baru saja keluar dari ruangannya saat pukul 12.00. Ia menutup pintu, lalu berjalan hendak menuju ke arah lift yang akan mengantarkannya menuju lantai dua, di mana kantin kantor berada. Ia memang tak biasa dibawakan bekel makan siang, karena pikirnya makan di luar jauh lebih menyenangkan untuk menghindar sesaat dari hiruk pikuk kantor yang cukup membosankan.
“Zio!” panggil sebuah suara.
Zio yang baru saja berhenti tepat di depan pintu lift menoleh ke belakang dan melihat seorang pria berkemeja biru tua, berjalan ke arahnya dengan tegap seraya mengembangkan senyumnya yang lebar. “Kamu mau ke mana?” tanyanya. “Apa kamu mau ke restoran kemarin lagi?” tambahnya, tatapannya tampak menyelidik.
Zio menggeleng. “Tidak, aku akan ke kantin saja hari ini,” jawbanya.
Pria itu mendengkus kecewa. “Ah ayolah, Zio, bukannya makanan di restoran jauh lebih nikmat daripada kantin kantor? Jika makan di sana, aku bisa menghabiskan dua porsi dalam sekali makan, tapi bukannya kamu tahu bahwa menu di kantin sini hanya itu-itu saja? Benar-benar membosankan,” cakap Mada seraya melayangkan tatapan protesnya.
Zio berdecak pelan. “Kalau kamu mau ke restoran silakan saja, tapi aku tidak ingin ke sana,” jawab Zio.
Padahal sengaja Zio tak makan di sana agar Mada pun mengikutinya makan di kantin. Mereka bertiga—bersama Alex juga, lebih sering menghabiskan siang bersama sejak awal, jarang mereka makan siang sendiri-sendiri. Menurutnya itu lebih seru daripada menghabiskan bekel tanpa adanya teman untuk mengobrol seputar topik yang sedang seru. Entah tentang apa yang terjadi di Amerika, atau mengenai kabar resesi yang akan terjadi tak lama lagi.
“Kamu benar-benar tidak mau menemui temanmu itu?” tanya Mada lagi.
“Tidak, aku bisa menemuinya di luar jam kerja dia. Aku sudah bilang, bahwa aku tak mau mengganggu pekerjaan dia. Jadi, kalaupun aku makan di sana, tujuanku hanya untuk makan bukan untuk mengajaknya mengobrol di luar,” sindir Zio.
“Hei, kalian mau ke restoran kemarin?” Seseorang tiba-tiba berteriak.
Zio dan Mada menoleh bersamaan ke belakang dan melihat Alex yang terlihat baru saja keluar dari ruangannya. “Aku ikut. Lapar,” katanya setelah berdiri di depan mereka.
__ADS_1
“Nah, ayolah Zio. Jangan seperti om-om yang kaku.” Begitu pintu lift terbuka, Mada langsung mendorong bahu Zio masuk dan langsung disusul oleh Alex, sebelum akhirnya pintu lift kembali tertutup mengantar mereka menuju lantai dasar.
“Sial, padahal aku tidak mau ke resto “ Zio mendumal dengan wajah setengah kesal.
“Santai, Bro. Makan di sana sama saja kenyang,” hibur Mada.
Setelah keluar dan langsung menghadap arah parkir, ketiganya langsung masuk ke dalam mobil hitam milik Mada, dan mulai meninggalkan kantor menuju restoran langganan mereka. Mada terlihat paling bersemangat kali ini. Zio yang duduk di belakang mendengar Mada mengoceh mengenai koki wanita pada Alex yang ditemuinya saat kemarin. Ia membicarakan bagaimana sikap Zia, kesan pertama yang ia dapatkan saat mengobrol dengan Zia, atau pun tentang penampilan Zia yang katanya sangat sederhana.
“Aku belum pernah lihat perempuan seperti dia. Bukannya dia sangat cantik meski terlihat begitu sederhana? Auranya benar-benar berbeda dengan banyak perempuan yang pernah aku temui. Ia membawa vibes postif yang tak bisa kuceritakan secara rinci,” jelas Mada dengan suara yang terdengar menggebu-gebu.
Zio yang duduk di kursi penumpang hanya memainkan ponselnya berusaha mengalihkan fokus dari Mada ke sosial meda. Ia tak ingin mendengar pujian itu keluar dari mulut pria di depannya, tetapi suara Mada yang memenuhi mobil benar-benar menggagalkan harapan Zio. Pujian Mada terhadap Zia benar-benar terdengar secara jelas.
“Tumben kamu semangat membicarakan perempuan,” celetuk Alex.
“Berlebihan,” komentar Zio dengan lirih.
“Wah, tidak tentu saja. Kamu tidak bisa menilai, atau kamu memang tak bisa menghargai masakan temanmu sendiri?” duga Mada.
“Tidak dua-duanya,” sahut Zio. Mood-nya berubah. Ia sangat malas untuk membahas Zia di depan teman-temannya, ia benci Zia dijadikan topik utama dalam obrolan mereka. Namun sialnya Zio tak bisa mengatakan itu secara langsung atau meraka akan curiga jika Zia adalah istrinya.
Meraka memang tahu bahwa Zio sudah menikah, tetapi karena keduanya tidak diundang oleh Zio, maka dari itu mereka tidak tahu wanita yang Zio nikahi. Maka dari itu Zio memiliki kesempatan berbohong pada keduanya menutupi tentang siapa istri Zio sesungguhnya. Zio juga tak tahu kenapa ia sampai harus bertindak sedemikian jauh, ia hanya merasa bahwa belum waktunya saja mereka tahu tentang hubungannya dengan Zia.
__ADS_1
Sesampainya di restoran, mereka bertiga langsung mengambil tempat duduk di tengah yang masih kosong. Mada langsung mengangkat tangannya memanggil pelayan, sebelum akhirnya mereka memesan makanan andalan hari ini yang merupakan tuna rica-rica.
“Saya ingin yang mengantarkan kokinya sendiri,” pinta Mada pada pelayan yang baru saja selesai mencatat pesanannya.
“Baik, Pak. Kami akan meminta koki kami untuk mengantarkannya kemari,” jawabnya dengan lembut.
“Tapi kalau koki kalian sedang sibuk tak perlu memintanya untuk kemari, biarkan ia bekerja dengan fokus. Apa lagi jam makan siang begitu padat, jadi—”
“Jadi tetap minta sang koki untuk membawa makanannya kemari,” sela Mada menghentikan ucapan Zio.
Pelayan di depannya mengangguk ramah, kemudian langsung pergi meninggalkan meja mereka. Zio berdecak. Di usianya yang ketiga puluh enam tahun ini ia harus menghadapi Mada yang lebih muda baik secara emosional maupun mental. Sudah berusaha Zio menahan Mada agar tidak melakukan perbuatan seperti ini, tetapi tetap saja Mada sulit dikalahkan karena restoran ini milik pamannya. Pria itu memiliki kuasa untuk melakukan apa pun asalkan tidak merugikan restoran dan menurut Zio itu menyebalkan. Atas dasar kuasa itu Mada menjadi seenaknya.
“Hei Mada, tapi yang dikatakan Zio memang benar bahwa kamu tak boleh melakukan ini terus-menerus,” ujar Alex seraya menunggu makanan mereka.
“Sudahlah Alex, aku sudah bilang bahwa aku ingin dia istirahat,” kilahnya. Selalu ada alasan yang ia buat untuk membenarkan kesalahannya.
Hingga lima belas menit kemudian, dilihatnya Zia yang baru saja keluar dapur seraya membawa nampan berisi tiga piring tuna rica-rica dan mendekat ke meja mereka dengan dibumbui senyum yang terlihat begitu ramah. “Silakan dinikmati,” ucapnya seraya memindahkan piring dari nampan ke atas meja.
“Hei Zia, kamu bisa duduk di sini dulu jika lelah dengan pekerjaan kamu,” ujar Mada.
“Maaf, Tuan, tidak bisa. Saya diminta manager untuk kembali ke dapur karena hari ini pesanan kebih banyak yang masuk. Saya minta maaf,” tolaknya dengan lembut.
__ADS_1
Zio mengembuskan napas lega. Syukurlah, akhirnya hari ini Zia terbebas dari rayuan Mada.