
Zia mengenakan handuknya begitu selesai mandi. Rasanya jauh lebih segar. Setelah ini ia berniat untuk tidur saja melupakan masalah yang terjadi. Dibukanya pintu kamar mandi, untuk beberapa saat Zia terkejut melihat Zio yang sudah duduk di ranjangnya, menolah ke arahnya hingga pandangan mereka bertemu.
“Ke-kenapa kamu ada di sini?” tanya Zia gugup. Wanita itu mengencangkan handuknya, pikirnya sangat tiba-tiba Zio berada di kamarnya.
Pria itu bangkit dari duduknya, melangkah ke arah Zia dan menarik tubuh wanita itu hingga terduduk di tepi ranjang. “Zia,” bisik Zio.
Zia merinding, seakan bulu di tangannya refleks berdiri menyadari bahwa Zio begitu dekat dengannya. “Zio, apa yang ingin kamu lakukan?”
“Sulit mengatakan ini karena aku tidak seromantis orang-orang di luar sana. Tapi Zia, bisakah kita mulai semuanya dari awal? Aku cukup menyadari bahwa mungkin aku tidak akan bisa kehilangan kamu. Aku sudah terlanjur nyaman dengan keberadaan kamu di sini. Bisakah kita akhiri sandiwara ini dan memulainya lagi menjadi pasangan suami istri pada umumnya?” ungkap Zio. Setelah bergulat dengan batinnya, akhirnya ia bisa mengatakan hal yang selama ini dipendamnya entah sejak kapan.
“Zio—”
Zio berjongkok di depan istrinya, mengusap tangan Zia dengan lembut. “Aku tahu, aku sudah egois padamu, aku bertindak buruk padamu. Tapi aku tidak ingin lagi semua itu terjadi. Aku sama bosannya denganmu dengan sandiwara ini, saat aku ingin coba melepaskan kamu, ternyata aku malah mencintai kamu, Zi. Aku mencintai kamu, sangat.” Zio menyentuh pipi Zia, mengusapnya dengan lembut hingga Zia merasakan desiran aneh di dadanya.
“Apakah kamu bisa membukakan hatimu untukku? Aku ingin masuk ke dalamnya, aku ingin kita menjalani pernikahan ini dengan baik. Aku ingin kamu selalu berada di sisiku, Zi. Sulit untuk merelakan kamu pergi, dan mungkin tak akan pernah bisa,” lirih Zio penuh penyesalan. “Jujur saja, aku cemburu melihat kamu dengan Mada, aku tidak suka saat kamu lebih dekat dengannya daripada memilihku. Aku marah pada diriku sendiri mencoba denial, tapi aku tidak bisa. Aku benar-benar sudah jatuh pada pesonamu, Kenizia.”
Zia belum menjawab sepatah kata pun, baginya ini terlalu mendadak dan Zia seakan belum siap untuk menyambut ucapan baik itu.
“Jadi, apa kamu mau memulainya dari awal bersamaku” tanya Zio sekali lagi.
Zia mengangguk seraya memberikan senyuman termanisnya untuk Zio. Pria itu membalas senyuman Zia dan perlahan, ia mendekatkan wajahnya di wajah Zia hingga Zio dapat merasakan embusan hangat napas istrinya yang lembut. Pelan-pelan, Zio menempelkan bibir merahnya pada bibir Zia yang yang sedikit terbuka, kemudian pria itu mulai mendorong tubuh Zia hingga wanita itu terjatuh di atas kasur.
Zio mulai merangkak di atas tubuh Zia seraya mengusap rambutnya dengan lembut menggunakan tangan kanan, sementara bibirnya masih terus beradu, menikmati rasa manis yang ia dapat dari perempuan itu. Tangan kiri Zia mulai melepaskan handuk yang melilit wanitanya dengan gerakan tak sabar.
__ADS_1
“Zio,” lirih Zia mengehentikan ciumannya.
“Ehm?” Zio bergumam.
“Kamu mau melakukannya sekarang?” tanya Zia dengan tatapan polosnya.
“Kamu mengizinkanku, honey?” Zio berbalik tanya.
“Bukan begitu, tapi aku tak pernah melakukannya jadi lakukan dengan pelan-pelan,” pintanya.
“Aku akan mencobanya sebaik mungkin, Sayang. Aku tidak akan melukai kamu dan membuat kamu sakit. Sekarang tenanglah.” Zio berkata dengan lembut.
“Zio,” bisik Zia.
Zia mengangkat kedua tangannya dan mulai melepaskan kain yang melekatkan di tubuh suaminya itu. Zio tersenyum, lalu ia pun melepaskan semua yang menempel di tubuh masing-masing hingga keduanya terbebas dari selebar benang pun. Masing-masing mulai merasakan kehangatan satu sama lain yang tak pernah mereka dapatkan sebelumnya dari siapa pun.
Zia menggigit bibir bawahnya pelan saat tangan Zio mulai menelusuri kepemilikannya dengan lembut, wanita itu mendesah ketika jari jemari Zio bermain di pekarangan miliknya yang berada di bawah. Zio mengusap rerumputan lembut hingga perlahan memasukkan tangannya menelusuri milik Zia.
“Zio....” Zia mendesah sekali lagi.
Zio langsung membungkam bibir Zia dengan bibirnya dan keduanya kembali terjatuh pada ciuman panas seraya tangan Zio masih tetap berusaha menjelajahi gunungan sempurna pada dada Zia di depan wajahnya. Sesekali Zio juga memainkannya dengan tangan dan bibirnya, merasakan setiap kenikmatan yang Zia berikan untuknya.
“Sayang, aku akan memulai sekarang.” Zio berbisik.
__ADS_1
Zia mengangguk pelan berusaha untuk menahan rasa sakitnya ketika dinding pertahanan miliknya berusaha diterobos oleh Zio dengan cukup kuat. Zia mendesah lagi, Zio masih berusaha melakukannya sebaik mungkin dengan pelan agar Zia tak merasakan kesakitan meskipun itu mustahil. Hanya saja keduanya sekarang merasakan persatuan untuk pertama kali sejak pertama menikah, dan Zia merasakan kenikmatan dalam kesakitan itu.
“Ah, Zio!” Zia menggigit bibir bawahnya lagi, Zio mengusap kepalanya, menenangkan wanita itu.
“Sebentar lagi, Sayang,” kata Zio. Tak begitu lama, hingga pada puncak penyelesaiannya Zio langsung melepaskan miliknya dan terbaring di samping tubuh Zia, kemudian pria itu tersenyum. “Apa kamu sakit?” tanyanya pelan.
Zia mengangguk samar. “Jangan memikirkan itu,” jawabnya lirih.
Zio menghadapkan kepalanya pada wajah Zia yang masih terbaring di sampingnya. Ia mendekatkan tubuhnya dan memeluk wanita itu di bawah satu selimut yang mereka kenakan. Sialnya, Zio malah menyesal, kenapa ia baru bisa mengakui semuanya saat ini. Padahal Zia tak memiliki kekurangan apa pun di depan matanya. Tangan Zio mengusap pipi wanita itu, lalu turun mengusap bibirnya, berkali-kali Zio menciumnya seakan tak pernah puas oleh kenikmatan yang didapatnya.
“Kamu sangat cantik, aku menyesal baru menyadarinya sekarang, Honey,” lirih Zio. Kedua matanya tulus memandang Zia.
Wanita itu tersenyum. “Aku senang jika kamu menyadarinya meski terlambat,” sahutnya, kemudian tertawa kecil.
Kali ini Zia mendorong tubuh Zio hingga suaminya itu terlentang, kemudian wanita itu mendekat ke tubuh Zio dan meletakkan kepalanya di atas dada Zio. Suaminya itu hanya tertawa kecil, mengusap rambut Zia dsn membiarkan wanita itu memeluk pinggangnya dengan hangat.
“Bagaimana kalau kita merencanakan honeymoon? Kamu ingin pergi ke suatu tempat?” tanya Zio.
“Ke mana? Aku tidak merencanakan tempat mana pun untuk dituju selain restoran. Nah, jadi kalau kamu punya satu tempat yang mau kamu tuju, aku hanya tinggal ikut saja. Lagi pula asal bersama kamu, aku akan senang ke mana pun itu,” ungkap Zia dengan jujur.
Zio terkikik geli. “Aku mempunyai satu tempat yang memang ingin aku tuju. Aku ingin ke Lombok. Bagaimana jika minggu depan kita ke sana? Aku benar-benar ingin menghabiskan waktu bersamamu di sana.” Zio mengungkapkan idenya.
Zia mengangguk cepat, “Boleh. Aku akan ikut.” Kali ini wanita itu mendongakkan kepalanya, menatap wajah Zio dalam, lalu mengecup bibir pria itu sedikit lama. “Terima kasih untuk segalanya, Zio. Aku mencintaimu,” ungkapnya tulus.
__ADS_1