
"Kak, tu lihat Salma sedang bekerja" ucap diyah ke kakaknya
"Dia bekerja di toko kelontong?"
"Iya kak, dia anaknya rajin banget dan nggak suka ngeluh"
"Iya ,terlihat dari wajahnya"
"Kaka restui Ken dengan Salma kan?" Tanya diyah memastikan
"Merestui lah yah, kakak nyarinya nggak neko-neko. Yang penting dia baik dan bisa jadi istri yang baik untuk Ken aja kakak sudah bersyukur banget" ucap Lina
"Alhamdulillah kalo gitu kak, aku ikut bahagia"
Dari kejauhan Lina melihat Salma yang lihai dalam pekerjaan nya.
'dia sangat ceria' batin Lina
'semoga kamu menerima anak saya' pinta Lina
****
Sore harinya selepas Salma terlihat pulang bekerja. Lina bergegas menelfon anak semata wayangnya untuk bersiap diri.
Ditempat lain, Ken yang menerima telfon dari mamanya pun sempat kaget karna tiba-tiba mamanya meminta diriinya untuk bersiap sekarang.
Ken pun segera mandi dan memakai celana panjang dan kemeja berlengan pendek.
Tok..tok..tok
"assalamualaikum" ucap Lina ketika sudah sampai dirumah
"Waalaikumsalam, Ken di kamar ma" teriak Keanu
"Sudah bersiap belum kamu Ken?" Tanya Lina dengan berjalan kearah kamar Keanu
"Sudah ma , seperti ini? Mau kemana sih?"
",Ya seperti itu juga nggak papa. Pokoknya kamu harus ikut mama"
"Mama mandi dulu"
Ken yang mendengar itu hanya mendesah.
Dia menunggu mama nya dan membuka handphone nya untuk mengecek beberapa pekerjaan yang dikirimkan Azka kepadanya.
Selang beberpa menit,
"Assalamualaikum" ucap Vano ,om Keanu
"Waalaikumsalam om. Sudah pulang?"
"Iya Ken, Tante mu belum pulang kah?"
"Belum om"
"Oh yasudah, om ke pasar dulu jemput Tante"
"Iya om"
"Van vanoo,jangan pergi dulu " teriak Lina dari dalam kamarnya
"Itu mama mu kenapa Ken?"
"Kurang tau om"
Tap..tap..tap
"Van , kedai nasi goreng milik keluarga Salma dimana?" Tanya Lina sesampainya di halaman tempat Vano dan Ken bencengkrama
"Ha?" Ken membeo
"Tidak jauh dari rumahnya kak, Kaka mau kesana?" Tanya Vano
"Iya, habis ini kita mau kesana"
"Oiya ya. Hati-hati kak, Kamu tau jalannya kan Ken?"
"Hemm? Iya om tau kok"
"Oh yasudah. Kak ,aku mau jemput diyah dulu"
"Oh iya, hati-hati"
__ADS_1
"Iya kak"
"Ma kita mau ke kedainya Salma?" Tanya Ken setelah om nya pergi
"Iya, ya kamu harus pinter-pinter curi hatinya dan keluarga terdekat nya lah Ken. Jangan pasif gitu, mau nikahin anak orang kok pasif ya gimana ceritanya" omel Lina
"Kan kemarin sudah sepakat Salma mau ngasih jawaban besok ma. Kalau kita kesana dikira aku terlalu mengharapkan dia lagi" jawab Ken dengan mengikuti Lina berjalan dibelakang nya
"Ya emangnya kamu nggak ngarepin dia? Kamu emangnya nggak tertarik sama dia?" Tanya Lina dengan menatap mata anaknya
"Bukan begitu ma, itu beda ceritanya. Aisshh mama terlalu memainkan peran" keluh Ken dengan mendudukan diri di soffa
"Memainkan peran apa maksud mu Ken?"
"Enggak enggak ,yaudah ayok kapan kita kesana?"
"Kalau kamu emang nggak mau nikah ya udah , terserah juga. Mama kemarin kan juga dah nggak mau maksa kamu, kamunya sendiri kan yang minta di kenalin sama cewe. Giliran dah ada nih cewek dan kamu punya inisiatif sendiri untuk cepet-cepet nikahin tuh cewe tapi kamu nggak ada inisiatif cari perhatian ke dianya ya mana bisa gitu"
"Mama pun kalau punya anak cewek dan tiba-tiba ada cowok nggak dia kenal ngajak nikah dan cowok itu nggak pasif kayak kamu pun mama tolak" lanjut Lina ngomel nggak habis-habis
"Iya ya ma, maafin Ken ya. Yauda ayok kesana , mama disana mau sampai kedai nya tutup apa gimana?"
"Kalau gitu Ken ganti baju aja, pakai pakaian santai" ucap Ken meninggalkan mamanya yang masih terlihat asap kemarahan.
"Huhhhhh ,tuh anak emang" keluh Lina
.
.
Setelah habis Maghrib Ken dan Lina berangkat ke kedai milik keluarga salma, hanya mereka berdua. Karna Vano dan diyah masih di pasar dan belum pulang.
"Assalamualaikum pak" sapa Lina ketika masuk ke kedai dan disana hanya terlihat pak Rohman dan anak lelakinya
"Waalaikumsalam, eh ibu. Mari- mari silahkan duduk. Nak Ken silahkan duduk" jawab pak Rohman dengan akrab.
"Terimakasih pak"
"Salma nya tidak ada disini pak?" Tanya Ken tiba-tiba
"Oh, Salma kesini nanti habis isya nak. Gantian nanti sama bapak"
"Apa nak Ken ingin bertemu dengan Salma? Biar dipanggilkan putra"
"Boleh, bentar"
"Put ,tolong panggilkan kak Salma sekarang ya"
"Iya pak" Jawab putra
Entahlah, apa yang ada di fikiran Ken saat ini. Dia seperti laki-laki yang tanpa mempunyai inisiatif tetapi disaat yang bersamaan dia bisa menjadi laki-laki yang superaktif.
Lina yang melihat anaknya menanyakan Salma terlebih dulu pun ikut senang. Mungkin fikirannya terbuka, batinnya.
****
Salma berjalan dengan putra dari rumahnya ke kedai.
"Assalamualaikum,pak"
"Waalaikumsalam nak, itu ada nak Ken dan Bu Lina" jawab pak Rohman
"Oiya"
"Assalamualaikum Bu" Salma mencium tangan Bu Lina
"Waalaikumsalam sal, maaf ya ibuk menganggu. Kesini mau main trus Ken pengin ketemu kamu" ucap Bu Lina
"Oh iya Bu, tidak papa. Tidak menganggu sama sekali" ucap Salma dengan senyuman.
"Ken,ini Salma nya . Katanya tadi pengin ketemu"
"Iya ma"
"Salma, bisa kita bicara berdua?"
"Bisa mas"
Mereka berbicara berdua diluar kedai pak Rohman. Salma membawakan dua kursi dan membuatkan teh hangat untuk Ken
"Ini mas, diminum tehnya. Tidak apa-apa jika mengobrolnya hanya disini?" Tanya Salma memastikan
"Tidak papa sal"
__ADS_1
"Ekhmm. Begini sal, aku tidak ingin memaksa tentang pernikahan yang kemarin aku ucapkan. Tapi,aku hanya ingin bilang. Jika aku benar-benar ingin menikah mu"
"Emm, iya mas. Besok akan Salma jawab"
"Terimakasih, aku harap jawabanmu tidak membuat ku kecewa"
"inshaAllah" Salma tersenyum.
tidak ada percakapan lainnya, hanya sampai disitu dan mereka hanya diam sambil menatap benda-benda dari kejauhan.
Ken yang memang dasarnya kaku dan tidak tersentuh dengan wanita harus dihadapkan dengan situasi seperti ini, dia tidak tau percakapan apa yang harus ia bangun.
Begitupun dengan Salma, wanita itu jarang mempunyai teman laki-laki apalagi laki-laki yang serius dengannya.
"Ehm. Jika kamu menerima lamaranku dan beredia menikah secepatnya. Mahar apa yang kamu inginkan?" Tanya Ken memecahkan kesunyian diantara keduanya
"Saya menjawab ini nanti ,bukan berarti saya menerima dan bersedia menerima pernikahan dadakan ini ya mas. Jawaban tetap akan saya berikan besok"
"Saya tidak ingin memberatkan mahar. Mau siapapun yang menikah dengan saya, saya tidak memberikan standar mahar. Saya serahkan semua ke calon suami saya nanti, saya hanya meminta. Berikan mahar saya sesuai kemampuan calon suami saya nanti dan berikah ke ikhlasan juga didalamnya. Sayang sekali bukan jika mahar yang diberikan banyak tetapi calon suami saya tidak ikhlas atau mengungkitnya di waktu yang akan datang" lanjut Salma
"Tidak ada nomimal?" Tanya Ken kembali
"Tidak, saya hanya ingin meminta mahar semampunya dan seikhlasnya"
"Jika calon suami saya mampu memberikan saya mahar 100ribu, tapi dia hanya ikhlas memberikan saya mahar 10ribu. Itupun tidak masalah" lanjut Salma dengan mengulas senyum
"Emm.. oke-oke"
"Kalau untuk pernikahan, apa kamu punya pernikahan impian?" Tanya Ken
"Pernikahan impian? Pastinya ada mas. Setiap wanita pasti mempunyai pernikahan impian. Tetapi, biasanya sebagian dari mereka terkendala dengan biaya"
"Kalau boleh tau, pernikahan impian kamu apa?"
"Emmm. Pernikahan impianku, aku menginginkan pesta yang tersedia banyak hidangan makanan dan mengundang banyak orang tanpa harus membawa sumbangan. Jadinya kayak mereka datang, memberi doa ke pengantin trus makan-makan pulang. Mereka tidak harus membawa sumbangan yang mungkin memberatkan mereka"
"Apalagi di daerah saya sini, kebanyakan minim penghasilan tetap mas. Jadinya saya tidak ingin memberatkan mereka, takutnya pernikahan saya malah tidak berkah" lanjut Salma
"Bagus, pemikiran kamu sangat bagus" puja Ken
"Tidak ada pernikahan mengundang siapa gitu?"
"Tidak, saya pun berani mempunyai pernikahan impian juga tidak berani yang bagus-bagus mas. Takut nggak kesampaian malah kecewa sendiri,hehe" kekeh Salma
"Tidak salah juga sebenarnya jika mempunyai mimpi yang tinggi. Tapi, harus diimbangi dengan kerja keras,supaya mimpi itu bisa kamu gapai" nasehat Ken
"He'em betul"
Tanpa mereka sadari, ternyata obrolan mereka bisa sedikit membuat mereka lebih dekat dan obrolan ringan itu mungkin akan menjadi obrolan yang serius kedepannya.
"Oh ya, jika kamu menikah dengan saya. Apa kamu ingin ikut saya di kota? Karna kamu tau sendiri, Jika saya bukan berasal dari daerah sini"
"Emm, saya akan ikut suami saya dimanapun itu berada mas. Karna memang sejatinya istri akan selalu ada disamping suami kan?"
Ken hanya mengangguk.
"Baiklah, aku menantikan jawabanmu besok" ucap Ken dengan tulus
"Baik mas"
"Yauda ayo bergabung dengan yang lainnya didalam" ucap Ken
Mereka berjalan beriringan menuju dalam kedai pak Rohman, Ken yang membawa 2 kursi plastik dan Salma membawa gelas teh milik Ken.
"Sudah selesai Ken?" Tanya Lina
"Sudah ma"
Keadaan kedai cukup ramai, jadi Salma tidak bisa menemani Ken dan mamanya ngobrol.
Ken dan Lina yang melihat bagaimana cekatan nya salma pun dibuat kagum. Dia bisa kesana kemari dengan sangat gesit.
"Jika dia menerima mu, kamu tidak salam memilih istri Ken" ucap bisik Mama Lina
"Semoga ma"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semangat pagi, semangat beraktivitas 🔥🔥
mohon berikan dukungan untuk karangan author yaa 🤗
Bisa follow, like ,comment & vote !! terimakasih ❤️
__ADS_1