Berawal Dari Perjodohan

Berawal Dari Perjodohan
Bab 13


__ADS_3

Zia baru saja membuka pintu rumah, ternyata seorang pria berkaus putih sudah duduk di ruang tamu seraya memainkan laptopnya. Pandangannya yang semula fokus menatap layar, kali ini Zio menolehkan kepalanya ke arah Zia, memandang wanita itu dari kaki hingga kepala. 


“Ada apa? Ada yang salah?” tanya Zia seraya membenarkan letak tasnya. Ia menutup pintu dengan pelan, lalu beringsut mendekati meja. 


“Bagaimana kerjaan kamu hari ini?” tanyanya dengan nada yang datar. 


Ditanya tentang pekerjaan, Zia seketika merasa senang. Ia memang paling bahagia jika seseorang bertanya bagaimana rasanya menjadi koki karena itu adalah pekerjaan kesukaannya. 


“Aku suka bekerja di sana. Apa lagi para koki di sana sangat baik padaku. Ada tiga koki pria dan semua dari mereka sudah memiliki istri. Mereka sangat loyal padaku dan memberikan kesempatan besar untukku berkembang. Aku sangat betah bekerja di sana. Ah, rasanya meski lelah, aku lebih betah di sana daripada di—” Zia langsung menghentikan ucapannya menyadari bahwa ia terlalu banyak bercerita hingga hampir menjatuhkannya pada perkataan yang tidak pantas. 


“Daripada di mana? Di sini?” desaknya. 


Zia mengembuskan napas seraya mendekat ke arah tembok dan bersandar di sana. Matanya menyapu seluruh sudut ruang tamu, lalu mengangguk pelan. “Mungkin itu. Kadang aku kesepian, tapi jika di sana seakan aku menemukan hidupku. Aku bisa menjadi diriku sendiri saat berada di restoran,” katanya dengan serius. 


Zia menunduk. Ia tahu mungkin Zio tidak terima jika Zia mengatakan bahwa tempat ini bukan tempat nyaman baginya, tetapi ia harus jujur padanya agar Zio tahu yang sejujurnya. Lagi pula sejak awal mereka hanya teman, ‘kan? Jadi harusnya ia tersinggung. 


Dimatikannya laptop dan Zio menutupnya kemudian. Kedua tangannya ia lipat di depan dada serta menyandarkan bahunya di sandaran sofa. Tatapannya dilayangkan pada Zia yang masih berdiri di menyandar di tembok. “Aku minta maaf jika tempat ini tidak nyaman untukmu. Tapi di sana juga bukan tempat kamu untuk mengetahui tujuan hidupmu. Maksudku, kamu boleh bekerja tapi jangan lupa bahwa kamu memiliki rumah,” kata Zio. 

__ADS_1


Zia mengerutkan dahinya tak mengerti. Pikirnya apa maksud Zio mengatakan hal itu. “Maksud kamu apa? Aku tetap pulang ke sini, aku tetap menjalani kewajibanku sebagai istri, kok,” balas Zia. 


“Aku tahu. Baiklah, lupakan. Nah sekarang, aku punya satu permintaan jika kamu masih tetap ingin bekerja di sana,” ungkapnya seraya melepaskan tangan dan mulai berdiri dari duduknya. 


Zia mendecak lirih. Ia tak menduga bahwa ternyata ada persyaratan yang harus ia penuhi saat sudah bekerja di restoran. Awalnya ia meminta izin padanya dan dia mengizinkan dengan mudah asalkan tidak membuatnya sulit, tetapi sekarang muncul persyaratan yang harus ia dengar. 


“Apa itu?” tanya Zia akhirnya. 


“Jaga jarak dengan orang-orang di sana atau lelaki yang mendekati kamu siapa pun itu. Entah pekerja, pembeli, atau siapa pun. Jangan terlalu welcome pada mereka,” ungkap Zio. Kemudian ia menambahkan dengan cepat begitu melihat ekspresi wajah Zia yang berubah, “Bukan karena aku cemburu, tapi karena aku tidak mau jika hal-hal di luar dugaan akan terjadi padamu. Bagaimana pun kamu adalah seorang perempuan dan kamu harus menjaga dirimu dengan baik. Jika kamu sampai dekat dengan mereka dan mungkin sampai menjalin hubungan dengan salah satunya, kemudian ada hal di luar dugaan terjadi, maka musibah besar pasti akan mendatangiku juga,” jelasnya. 


“Kamu tahu, ‘kan, bahwa sebenarnya aku belum ingin menikah sebelum dengan kamu? Itu karena aku tidak pernah menemukan pria yang cocok. Tidak ada yang aku sukai dan aku masih ingin bekerja seperti biasanya. Begitu pun saat ini, aku tidak akan mencari pasangan untuk saat ini, aku masih ingin bekerja agar aku punya kegiatan, jadi kamu tidak perlu khawatir,” balas Zia. 


“Ya aku tahu,” kata Zio. 


Sesungguhnya Zio tidak paham apa yang dikatakannya pada Zia, ia hanya tak bisa mengungkapkan apa yang benar-benar berada di dalam benaknya. Semua kosa kata seakan tertahan dan tak bisa dikeluarkan dengan mudah. “Jangan menyangka jika aku berprasangka buruk padamu. Aku hanya ingin melakukan yang terbaik sebagai seorang teman,” tambahnya. 


Zia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tidak ada yang ingin kamu katakan lagi? Aku mau ke kamar.” Zia mulai menjauhi tembok. 

__ADS_1


Zio menggeleng. 


Zia melangkahkan kakinya hendak meninggalkan ruang tamu, tetapi seketika langkahnya terhenti saat Zio memanggil namanya. “Zia!”


Wanita itu menoleh, menatap Zio yang sekarang mendekat ke arahnya. “Aku juga punya alasan lain melarangmu untuk jaga jarak. Kamu tahu, kan, kita tidak tahu kapan akan bertemu dengan seseorang. Nah, aku takut jika nanti Mama atau Papaku tiba-tiba kembali dan tak sengaja melihat kamu sedang bersama orang lain, lalu apa yang harus kita jelaskan?”


“Tidak akan, tenang saja.”


Apa yang Zia dengar dari mulut Zio seakan hanya alasan-alasan yang menurutnya tidak penting dan sedikit tak masuk akal. Orang tuanya pun sedang berada di Jerman, mustahil mereka kembali tanpa mengabarkan Zio terlebih dahulu. Namun karena tak ingin ada adu mulut, akhirnya Zia langsung kembali ke kamar dan membaringkan tubuhnya di atas sofa ruang pribadi miliknya. 


Kedua mata bulatnya menatap langit-langit kamar yang berwarna keemasan. Ia menatap jauh memikirkan tentang hubungannya dengan Zio. Pikirnya ini terlalu rumit dan seharusnya segera diselesaikan. Wanita itu meraih guling, lalu membenamkan wajahnya di balik bantal panjang itu berusaha meleburkan pikirannya dengan kegelapan. 


Sementara masih di ruang tamu, Zio merutuki ucapannya sendiri. Ia memegang pelipisnya dan berdecak pelan sesekali. “Sial, apa yang sudah aku katakan. Bahkan maksud sesungguhnya tidak tersampaikan dengan baik. Aku menilainya seakan dia adalah perempuan yang tak bisa menjaga dirinya. Astaga Zio, kamu memang benar-benar bodoh.” Pria itu menyenderkan kepalanya di sofa, sementara tangan kirinya menepuk-nepuk pahanya sendiri. 


“Sialan, lebih baik aku diam daripada mengatakan hal-hal jelek. Aku benar-benar buruk dalam berkomunikasi pada Zia, padahal saat berkomunikasi dengan klien semuanya bisa berjalan lancar. Ada apa denganku?” 


Zio masih terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri atas obrolan barusan yang terjadi dengan Zia. Padahal sejauh ini Zia selalu bersikap baik padanya dan menurut dengan apa pun yang Zio lakukan, tetapi sialnya Zio tak bisa menilai itu dengan baik karena suatu perasaan aneh yang tak bisa ia jelaskan. Ia tak tahu perasaan apa yang mengganggu dirinya sekarang. 

__ADS_1


__ADS_2