Berawal Dari Perjodohan

Berawal Dari Perjodohan
Bab 19


__ADS_3

Zio sudah rapi mengenakan setelan jas hitam dan dasi cokelat muda bergaris putih. Setelah memakaikan pomade di rambutnya, pria itu keluar kamar seraya membawa tas kantor di tangannya. Aroma manis tercium dari arah dapur dengan sangat kuat. Zio meletakkan tasnya di sofa ruang tengah, tetapi ketika hendak memastikan apa yang Zia masak, pria itu maju mundur mengingat kejadian semalam. Sesungguhnya ia masih sangat malu untuk bertemu Zia. 


“Kalau saja aku bisa mengontrol diriku lebih baik, aku tidak akan menjadi seperti ini,” keluh Zio merutuki perbuatan dirinya sendiri. “Apa aku langsung ke kantor saja?” Pria itu mulai menimbang-nimbang. Namun, Zio merasa jahat jika langsung pergi ke kantor tanpa makan sarapan yang dibuat oleh istrinya itu. 


Lagi pula masakan di kantin kantor tidak seenak makanan Zia. Apa yang dikeluhkan Mada memang benar adanya, jika makanan yang dijual di sana hanya tinggi pada harganya tapi dan mendapat kualitas dengan baik. Zio berpikir sebentar, lalu ia mulai memberanikan diri berjalan ke arah dapur dan melihat wanita berpiyama kuning tengah menghadap pemanggang. 


“Zia, apa yang kamu buat?” tanya Zio, pelan. 


Zia langsung menoleh sekilas, lalu kembali menghadap pemanggang dengan cepat. “Aku sedang memanggang roti,” jawabnya dengan cepat. Zia menggigit bibir bawahnya pelan saat kejadian semalam tiba-tiba menari di kepalanya dengan sangat jelas. 


Pipinya terasa memanas bukan karena suhu yang dikleuarkan oleh pemanggang, tetapi ada sesuatu lain yang membuatnya salah tingkah. Zia benar-benar tak suka terjebak dalam situasi saat ini. Padahal ia berniat akan masak pagi-pagi sekali agar tidak bertemu dengan Zio, tapi sialnya ia tak mendengar alarm yang menyala sehingga sia-sia saja apa yang dilakukannya. 


“Kedengerannya enak,” komentar Zio seraya mendudukkan dirinya di kursi depan meja dapur. 


“Kamu berangkat ke kantor jam berapa? Kalau buru-buru, nanti aku minta seseorang untuk mengantarkan sarapannya ke kantormu. Aku tidak mau kamu telat karena menunggu roti ini.” Zia berasalan. Ia ingin memperlama prosesnya agar tidak makan semeja dengan Zio, tapi tidak enak juga jika ia sengaja melakukan kejahatan kecil itu. 

__ADS_1


“Aku tidak buru-buru, santai saja,” sahutnya. 


Zia menelan salivanya, lalu setelah roti matang, segera ia mengambil dua piring dan diisi dengan dua rotri lapis berisi keju. Setelah itu ia langsung menaruh dua piring itu di atas meja depan Zio, sementara dirinya membuat jus alpukat dengan sangat cekatakan. Zio yang masih duduk, menatap tubuh Zia yang membelakanginya. Entah sejak kapan ia merasa mulai terbiasa dengan kehadiran wanita yang lebih banyak menghabiskan waktunya di dapur itu. 


Pada awal-awal pernikahannya dengan Zia, Zio merasa jika ada sekat di antara keduanya tetapi sekarang Zio mulai menyadari jika sekat itu seakan telah menipis. Apakah kisah persahabatan memang seperti itu? Selang sepuluh menit kemudian, Zia menyelesaikan membuat jusnya dan menaruh dua gelas berisi jus alpukat di depan Zio. 


“Selamat makan,” ujar Zia seraya mengambil satu rotinya dan mulai menggigit sedikit demi sedikit. 


Zio juga mengambil satu rotinya dan mulai menikmatinya seraya memandang Zia yang selalu menghindari tatapannya. Wanita itu tak memandang Zio sedikit pun dan hanya memandang piringnya saja seraya mengunyah roti panggang buatannya. 


“Kamu masih marah padaku karena kejadian malam itu?” tanya Zio. 


Zia tak bisa menghentikan debarannya yang berlebihan itu. Sejak tadi ia selalu berusaha untuk menetralkan detak jantunya tetapi selalu gagal. Zio selalu membuatnya salah tingkah. “Zia, usiamu sudah dua enam tahun, kamu sudah dewasa. Jadi, jangan bertindak seperti anak remaja yang sedang kasmaran. Kamu harus bisa mengontrol dirimu,” batin Zia, memantrai dirinya sendiri. 


“Aku hanya memastikan, akhir-akhir ini kamu sering marah-marah,” kritik Zio, matanya mengerling, lalu mengangkat gelas dan mulai menyedot jus miliknya. 

__ADS_1


“Maaf jika itu menyinggung perasaan kamu,” balas Zia. Jelas ia lakukan permintaan maaf itu hanya sebagai formalitas saja karena sebenarnya ia tak ingin melakukan itu. Ia hanya kesal pada sikap Zio akhir-akhir ini. 


Zio mendengkus. “Aku berniat untuk membelikan kamu mobil siang ini, kamu bisa izin dari restoran sebentar? Mungkin kita butuh waktu tiga sampai empat jam,” kata Zio. 


Kali ini Zia mendongakkan kepalanya dan menatap Zio yang berbicara serius. “Maaf, bukannya aku tidak mau tapi untuk saat ini aku masih belum butuh kendaraan pribadi. Aku masih bisa naik bus dan taxi, jadi kamu tidak perlu membelikanku mobil. Lagi pula aku tidak bisa menyetir mobil, jadi kamu tidak perlu melakukan itu,” tolak Zia dengan lembut. 


Zio mengambil roti kedua, “Kamu bisa belajar setelah punya. Memiliki kendaraan akan memudahkan kamu. Daripada kamu menunggu seseorang untuk menjemput kamu, bukannya lebih baik pulang sendiri?” Zio menggigit rotinya dan mulai mengunyahnya perlahan. 


Zia mengembuskan napas keras seraya menaruh sisa roti ke atas piring miliknya. Akhir-akhir ini entah kenapa ia selalu emosi saat berbicara dengan Zio, apa lagi jika Zio tak bisa langsung mengerti alasannya. Selalu ada alasan yang Zio punya, tetapi Zia juga selalu menyiapkan jawaban untuk menolaknya. 


“Aku tidak membutuhkannya, nanti aku akan bilang padamu jika aku membutuhkan kendaraan. Untuk saat ini aku lebih suka naik kendaraan umum. Lagi pula aku juga tidak pernah berharap ada seseorang menjemputku kala aku membutuhkan bantuan. Aku akan berhati-hati lagi agar tidak terjebak hujan. Jadi, kamu tidak perlu berpikir seperti itu lagi. Dan Zio, bukannya selama ini aku tidak pernah merepotkan kamu? Jadi, santai sajalah. Aku tidak ingin kamu memberiku banyak hal,” cakap Zia. Wanita itu mengambil sisa rotinya, dan mulai memakannya lagi. 


Mendnegar ucapan itu, ada sebagian kecil dari perasaan Zio yang teringgung. Wanita itu memang seringkali menolak apa pun yang Zio usahakan untuknya. “Baiklah, aku tidak akan memaksa kalau kamu tidak mau. Tapi aku punya satu permintaan padamu,” kata Zio seraya berdiri dari duduknya. 


“Apa?” tanya Zia setelah mendongak.

__ADS_1


“Aku suka masakanmu, apa pun yang kamu masak selalu enak. Jadi karen akhir-akhir ini mungkin aku akan lebih banyak melakukan kegiatan di kantor, aku minta tolong untuk membuatkanku bekel makan siang setiap hari. Aku tidak akan makan di luar lagi setelah ini,” pintanya. 


“Aku akan membuatkannya untuk kamu, tenang saja. Kamu bisa mengatakan apa yang kamu mau.” Zia tersenyum, berdiri, lalu mengambil semua piring dan gelas untuk dipindahkannya pada wastafel cuci piring. 


__ADS_2