
Sementara itu ditempat lain disebuah gua satu elf tua bertubuh kekar dan hitam berteriak setelah melihat batu giok jiwa yang terhubung dengan nyawa anaknya pecah.
"Aaaaaakh kurang ajar siapa yang membunuh anak bungsuku? siapapun orangnya yang telah mencelakai anakku, dia akan aku hancurkan sampai ke akar akarnya". Dia terlihat sangat marah, sampai-sampai singgasana yang dia duduki hancur berantakan setelah dia pukul dengan tangan kosong.
Semua elf yang berkumpul disana terdiam, tidak ada yang berani bersuara. Mereka tahu tempramen rajanya jika marah. Apalagi sekarang rajanya marah karena anak kesayangannya mati.
"Azrul kemarilah". raja elf hitam menatap seorang elf assasin terbaiknya. Dia bertarung seperti ninja konoha serta bisa bergerak cepat membelah angin. Tidak ada seorangpun yang akan selamat jika berhadapan dengannya. Semua elf hitam kecuali raja merasa gentar padanya.
"Azrul menghadap siap menerima titah paduka raja Saka" dia nunduk dan berlutut satu kaki. Saka adalah raja para elf hitam di lembah hitam yang terkenal bengis.
"Sekarang aku perintahkan cari dan bawa mayat anakku. Serta selidiki siapa yang membunuh anak kesayangan ku itu" raja Saka menatap tajam Azrul.
"Siap paduka raja hamba undur diri" kemudian tubuh elf assasin itu menghilang seperti debu tertiup angin.
"Untuk kalian semua," raja Saka memandang para petinggi yang masih berkumpul dihadapannya. "Segera bubar dan siapkan 100 elf prajurit terbaik, aku merasakan sebentar lagi akan ada peperangan besar."
"Baik paduka" jawab mereka serentak.
.....
Sementara itu masih di kedalaman hutan larangan. Toto menatap gadis elf yang sedang terduduk, meringis kesakitan tubuhnya banyak luka sayatan, serta kakinya terkilir saat tersandung akar pohon, jadi dia tidak bisa berdiri.
Melihat itu Toto merasa sedikit khawatir, "Nona siapa namamu? apa kau bisa berjalan? dimana tempat tinggal mu?". dia memberondong dengan pertanyaan.
Elf cantik itu melirik Toto, "Namaku Lita, tempat tinggal ku agak jauh dari sini. Kakiku sakit sepertinya terkilir. Aku tidak bisa berdiri apalagi berjalan. Apakah kau mau menggendongku?" wajahnya memelas.
Ada rasa aneh yang membuat wajah Toto sedikit memerah, jantungnya berdetak lebih cepat. Tapi tidak tahu apa itu, dia agak sedikit malu memandang gadis elf itu.
Toto belum pernah mengetahui apa yang namanya cinta. "Aku tidak bisa menggendong mu, apa jadinya jika ada orang yang melihat. Pasti mereka akan berpikiran yang tidak-tidak. Sebenarnya aku bisa saja menyembuhkan mu."
"Benarkah itu tuan? aku akan sangat berterimakasih jika bisa tuan sembuhkan. Kalau boleh tahu siapa nama tuan ini?" Lita memandang Toto dengan mata bulatnya. Rambut berwarna emas yang tertiup membuatnya menjadi semakin enak dipandang.
__ADS_1
Melihat itu Toto melongo kerena terkesima dengan makhluk indah dihadapannya.
"Tuan, kenapa kau melamun? apa ada yang salah dengan wajahku?" dia meraba-raba wajahnya sendiri. Pertanyaan Lita menyadarkan Toto.
"Ah iya ada apa? aku tadi tidak bisa mendengar mu?". Toto memalingkan wajah merahnya, karena malu.
"Tadi aku bertanya siapakah nama tuan?"
"Ah iya nama ku Toto".
"Nama yang aneh aku baru pertama kali mendengarnya" pikir Lita dalam hati, tapi dia tidak mengatakannya takut Toto tersinggung mendengarnya. "Bisakah tuan menyembuhkan ku? kalau tadi tidak salah dengar tuan bisa menyembuhkan ku" Lita memandangi Toto dengan penuh harap.
Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan jika dirinya tidak bisa pulang. Pasti orang tuanya menghawatirkan keselamatannya.
"Baiklah aku akan menyembuhkan mu sekarang" Toto berlutut satu kaki dihadapan Lita. Kemudian mengulurkan tangannya, seberkas sinar hijau keluar dari tangan Toto kemudian mengalir menyelimuti tubuh indah Lita.
Lita merasakan rasa nyaman dan hangat diseluruh tubuhnya. Saking nikmatnya dia refleks memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian seluruh rasa sakit diseluruh tubuhnya menghilang seketika.
"Tidak usah dipikirkan aku hanya tidak tahan melihat seorang gadis yang akan dianiaya oleh pria biadab seperti mereka". Kalau begitu aku akan kembali ke desa ku sekarang. Kata Toto sambil membalikan badan akan pergi.
"Tunggu tuan maukah anda menjadi pengawal ku sementara. Aku takut jika para elf hitam akan mengincar ku karena aku telah membunuh salah satu pangerannya. Percayalah aku akan membayar mu dengan harga tinggi" Lita merayu Toto agar dia mau menjaganya.
"Jadi elf hitam yang kau bunuh itu anak raja?" Toto terkejut. Dia yakin akan ada masalah besar yang mengincar mereka. Raja elf hitam tidak akan tinggal diam dengan peristiwa ini.
Setelah dipikir-pikir tidak ada salahnya jika dia menjaga Lita sampai kerumahnya. Lagian dia agak penasaran dengan bangsa elf didunia ini. Ini merupakan kesempatan yang baik untuk mengenal mereka.
"Baiklah aku menerima tawaranmu, ayo kita pergi sekarang. Kemana arah rumahmu?" Toto memandang Lita.
"Mari tuan aku akan memandu mu" Kemudian Lita berbalik dan berlari diikuti oleh Toto dibelakang.
...
__ADS_1
Sementara itu Azrul sedang bergerak cepat diantara pepohonan, diikuti 5 elf assasin lain yang tidak kalah gesit dari dia.
Tidak ada pembicaraan diantara mereka, hanya beberapa kode isyarat yang terkadang Azrul gunakan untuk memimpin mereka.
Semuanya membawa senjata khas masing-masing. Azrul dengan dua belati menempel di punggungnya. Rifa dan Rafi kedua elf hitam kembar membawa busur dan panah dipunggung mereka.
Sedangkan 3 elf lainnya membawa pedang dipunggung mereka. Penciuman para elf assasin itu sangat tajam seperti penciuman serigala.
Mereka sangat hafal dengan bau badan pangeran bungsu mereka, sehingga dengan mudah dapat mengikuti aroma dari tubuh pangeran Rona.
Pergerakan mereka sangat cepat seakan menyatu dengan bayangan. Hingga akhirnya mereka menemukan tiga elf yang tergeletak tidak berdaya diatas tanah hutan larangan.
Mereka berenam mendarat tanpa suara, tidak jauh dari jasad pangeran Rona yang sudah bersimbah darah. Azrul memeriksa denyut nadi ditangan Rona. Kemudian dia menatap kelima orang bawahannya sambil menggelengkan kepala.
Meraka berlima tahu bahwa pangeran mereka sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Kemudian Azrul mendekati elf hitam yang terbaring dengan kepalanya terbenam ketanah.
Setelah di periksa ternyata dia masih bernafas, "Sepertinya dia hanya pingsan" pikir Azrul, kemudian dia mendekatkan sesuatu ramuan yang baunya menyengat ke hidung elf itu.
Tidak lama setelah itu dia siuman, perlahan elf hitam itu membuka kedua matanya. Terlihat olehnya seseorang yang dia hormati berada dihadapannya.
"Tuan Azrul tolong kami, tadi saat aku dan pangeran Rona akan membawa putri Lita ke kerajaan kita. Seorang ras manusia tiba-tiba datang menyerang kami sampai seperti ini. Dia sangat kuat kami tidak bisa menandinginya" kata elf itu dengan wajah hancur berlumuran darah.
"Ras manusia?Kemana perginya mereka?" tanya Azrul dingin sambil mengerutkan keningnya.
"Hamba tidak tahu pasti, namun sepertinya mereka belum jauh karena putri Lita sedang terluka kakinya". elf itu menjelaskan.
"Huh tidak berguna" Kata Azrul berbalik meninggalkan elf hitam yang sedang terkapar.
"Rafi sekarang kau bawa jasad pangeran Rona ke kerajaan, kami akan mengejar putri Lita dan manusia itu. Mereka harus bertanggung jawab atas perbuatan yang telah mereka lakukan" kemudian dia melompat ke dahan pohon. Lalu memberikan isyarat kepada 4 orang lainnya.
"Mereka pergi ke selatan ikuti bau busuk mereka" mudah saja dengan penciuman mereka yang setajam hidung serigala mengetahui arah perginya putri Lita dan Toto.
__ADS_1