
Keadaan kerajaan Valley sudah kembali menjadi tenang setelah kepergian jutaan semut. Para prajurit sudah kembali berjaga pada pos mereka masing-masing.
"Prajurit kemarilah !!" teriak Leti melambaikan tangannya pada dua orang prajurit yang tidak jauh berdiri disana.
"Hamba tuan tuan Putri. Apa raja tidak apa-apa?" tanya salah satunya memandang anaya yang terlihat meringis memegang perut tengahnya.
"Sepertinya ayahku cedera, bisakah kalian membawanya ke balai pengobatan raja?" tanya Leti menatap lekat kedua prajurit itu.
Balai pengobatan adalah sejenis klinik yang bertujuan merawat para elf yang sedang sakit atau cedera.
"Tentu saja putri" kedua prajurit itu kemudian menggotong raja Anaya memakai tandu mengangkat dan membawanya ke tempat pengobatan.
"Lita ayo kita segera temui ibu" Leti kemudian memegang kaki Lita dan menyeretnya paksa.
Setelah sampai mereka bisa melihat Yuna sedang menangis sesenggukan. Bajunya banyak robekan dimana-mana. Sontak mereka berdua berlari menuju Yuna.
"Ibu" teriak mereka bersamaan sambil menubruk dan memeluk ibu mereka dengan erat. Ketiganya menangis bersamaan.
"Ibu maafkan Lita yang telat datang, jika aku tidak telat mungkin ibu tidak akan mengalami hal mengerikan seperti tadi".
"Aku juga minta karena tidak bisa menjaga ibu dengan baik" kata Leti masih dalam pelukan mereka bertiga.
Yuna tidak menjawab sepatah katapun. Yang dilakukan olehnya hanya terus menangis. Dia sangat trauma dan malu atas kejadian yang menimpa dirinya.
""Ibu tenanglah sekarang semuanya telah berakhir. Kaisar Margono dan yang lainnya telah pergi dari kerajaan kita" Lita menenangkan ibunya.
Yuna perlahan menjadi tenang. Dia kemudian melepaskan pelukan kedua anaknya. Menatap mereka dengan sendu dan mata yang masih berlinang air mata.
"Lita benarkah apa yang kau katakan itu nak? kenapa dia tidak membawamu ke kekaisaran?" Yuna berkata dengan suara serak serta bergetar.
"Benar yang dikatakan Lita ibu. Kita semua telah diselamatkan oleh jutaan pasukan semut yang menyerang mereka. Tidak ada seorangpun yang tahu kenapa para semut itu bisa menyerang mereka" Leti menjelaskan.
__ADS_1
Yuna terdiam mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Leti.
"Para semut itu seperti ada yang memerintah. Tidak ada satu elf pun dari pihak kita yang menjadi korban serbuan mereka" Lita menambahkan.
Yuna menatap mereka berdua dengan mata terbuka lebar. Menurutnya pikirannya dewa hutan telah mengutus para semut itu untuk menolong kerajaan mereka.
Namun beberapa detik kemudian dia kembali teringat kejadian saat dirinya diperkosa sama kaisar Margono. Hingga membuatnya menangis lagi.
"Kenapa dewa hutan menolongku juga" kata Yuna berkata lirih. Tentu suaranya terdengar jelas oleh kedua putrinya.
"Tenanglah ibu apapun yang terjadi kami tidak akan pernah meninggalkan mu sendirian" kata Leti menenangkan Yuna.
"Ibu tahu putriku. Tapi aku sangat malu pada para petinggi kerajaan yang telah melihat ibu dinodai. Rasanya ibu sudah tidak ingin hidup lagi di daratan ini" Yuna menatap kedua putrinya.
"Jangan berpikir sempit seperti itu ibu. Apakah ibu tidak mau membalas perbuatan kaisar jahat itu ?, jika ibu meninggal ibu tidak akan bisa menyaksikan dia menerima akibat dari perbuatan jahatnya."
"Apa ibu lupa bahwa kita masih memiliki pendukung yang kuat? dia adalah Toto tunangan Lita"
"Iya ibu ingat, tapi apakah tidak apa-apa jika kita berharap padanya? bukankah kita berencana menghianati perasaan cintanya dengan menjadikan Lita sebagai selir Margono?".
Yuna mencerna penjelasan kedua anaknya, menurutnya perkataan mereka benar juga. Namun yang terpenting sekarang adalah membuat kerajaan mereka menjadi kuat secepatnya.
Kaisar Margono tidak akan diam begitu saja setelah apa yang mereka alami tadi. Tentunya dia akan kembali dengan bala tentara yang sangat kuat.
....
Kembali pada Toto sekarang dia sudah kembali kedalam pasukan pengangkut barang. Setelah beberapa waktu berlalu mereka sampai didesa kabut.
Terlihat oleh mereka puing-puing bangunan yang hangus terbakar api. Tulang belulang para manusia, goblin dan serigala masih tergeletak dimana-mana.
"Mereka benar-benar kejam" kata Toto sambil turun dari rusa tunggangannya. Begitupun yang lainnya mengikuti langkah Toto memasuki wilayah desa kabut.
__ADS_1
Dengan kemampuan pengendalian tanah Toto dapat dengan mudah menggali tanah untuk mengubur jasad para bawahannya dahulu.
Dan dengan pengendalian angin Toto mengumpulkan para jasad itu dan menguburkannya pada lubang yang sama. Agar didalam baka sana mereka tidak kesepian.
Toto tidak ada niatan sedikitpun untuk membangkitkan para jasad itu untuk menjadi budaknya. Dia hanya akan memsumon musuhnya yang jahat saja.
Setelah itu mereka kembali melakukan perjalanannya. Baru beberapa meter mereka bergerak terdengar suara Mar yang menjerit kesakitan.
Sontak semuanya melihat kearah Mar yang sedang memegang lehernya yang tertembus anak panah dari samping. Darahnya mengalir deras membasahi badan. Dia sudah tidak bisa diselamatkan lagi karena detik berikutnya sudah menghembuskan nafas terakhir.
Sontak semuanya mengeluarkan senjata masing-masing. Toto menyesal karena dia tidak waspada hingga salah satu rekannya meregang nyawa.
Dalam hitungan detik puluhan elf ninja turun dari atas pohon menghadang perjalanan Toto dan yang lainnya.
"Serahkan barang bawaan kalian, jika masih sayang sama nyawa kalian" salah satu elf yang berbadan tinggi besar memakai topeng setengah wajah sambil mengacungkan senjata gada pada Toto.
Dia tahu dan bisa merasakan bahwa yang terkuat diantara para elf yang mereka hadang adalah manusia tampan berbadan kekar. Maya terlihat tubuhnya bergetar ketakutan melihat para ninja itu.
Toto tetap tenang, dia justru merasa senang karena ada kesempatan buatnya untuk membuat pasukan budak skeleton.
"Justru kalianlah yang harusnya menyingkir jika tidak nyawa kalian aku ambil" Toto menyeringai menatap mereka semua.
"Kurang ajar, sepertinya kalian sudah tidak bisa dibawa bicara baik-baik. Pasukan serang mereka" teriak elf berbadan kekar tadi memerintahkan yang lainnya.
"Memangnya ada perampok yang bicara baik-baik dulu sebelum merampok" Toto tertawa lebar.
"Lindungi barang bawaan dan nyawa kalian sendiri" Teriak Toto kemudian dia melompat kearah para elf ninja yang menyerang mereka dengan berbagai senjata tajam.
Toto bertransformasi menjadi harimau berbulu api setinggi 3 meter. Cakar tajam bagai sabit siap menghancurkan tengkorak musuh. Pertarungan sengit pun dimulai.
Toto berhasil menggigit leher salah satu ninja elf yang menyerangnya. Suara tulang remuk terdengar renyah saat dia mengunyah leher itu seperti cemilan kering.
__ADS_1
Berbagai senjata ninja pun berhasil mengenai tubuh harimaunya. Namun tidak ada satupun senjata yang mempan terhadap tubuh keras Toto.
Harimau toto mengaum keras menggetarkan semua mata yang melihatnya. Riak energi tercipta saat suara auman Toto keluar menyebar keberbagai sudut hutan.