Bidadari Pengikat Hati

Bidadari Pengikat Hati
14.Cemas


__ADS_3

Sudah lima hari Raiden tidak kembali ke apartemenya, setiap kali ibunya datang, ia selalu di minta pulang ke rumah keluarga, menemaninya kemanapun ibunya minta, Raiden sangat menghormati ibunya yang seorang single parent, ia juga sangat sibuk dengan pekerjaannya di kantor, Raiden memang selalu fokus saat bekerja hingga ia lupa jika di apartemenya sekarang ada seorang gadis yang terus menunggunya dengan gelisah.


''Apa nyonya Helena belum pulang Rai???, tanya Niko.


''Ya, kau tahu mommy selalu banyak acara bersama teman-temanya saat disini''.


''Sebaiknya kau segera menikah, ibumu berfikir kau pencinta sesama jenis, dia bahkan mencurigaiku''. ucap Niko


''Haaaahhh, setiap dia datang selalu mengomel tentang pernikahan, aku bosan membahas hal itu, kau tahu beberapa hari ini aku tidak diijinkan pulang ke apartement, dia memintaku menemaninya bertemu dengan teman-temanya dan mengenalkanku pada anak perempuan teman-temanya''.


''Dia sangat mengkhuatirkanmu Rai, karena sejak pertunanganmu yang gagal kau tidak pernah dekat dengan wanita bahkan adikku saja terus kau hindari''.

__ADS_1


''Ayolah Nik, aku tidak ada perasaan apa-apa pada adikmu, aku tidak ingin persahabatku denganmu hancur karena hal kecil ini, jangan bahas itu lagi''. Raiden terdiam sesaat mengetuk jarinya di meja, tiba-tiba ia teringat Luna yang sudah lima hari ini dia tinggalkan begitu saja diapartement. Raiden langsung berdiri dan tergesa keluar dari ruang kerjanya.


''Kau mau kemana Rai????, tanya Nik


''Aku harus pergi dulu, ada yang harus aku urus'', ucap Raiden tergesa


''Rai, sebentar lagi meeting''. tegur Niko tak mengerti dengan sahabatnya.


Luna merasa sangat bosan berdiam diri di apartemen, ia tidak tahu harus melakukan apa, sudah lima hari Raiden tidak pulang, ia menunggu dengan gelisah, hari-hari Luna dihabiskan menonton tv dan membaca buku-buku milik Raiden, ia juga merapikan dan membersihkan apartemen Raiden, namun Raiden tak menunjukan tanda-tanda kepulanganya, ia tidak tahu harus mencari kemana. Ia takut Raiden akan meninggalkanya seperti kedua orang tuanya, ia merasa rindu dengan perlakuan Raiden membuatnya hangat merasa sangat dicintai, tapi itu hanya sesaat. Luna berdiri di balkon melihat ke luar, kota begitu ramai dan padat dengan kendaraan, tiba-tiba Luna mendengar seseorang membuka pintu.


''Luna....'', panggil Raiden dengan keras

__ADS_1


Mendengar suara yang begitu di rindukanya, Luna segera masuk ke dalam apartement dan terlihat Raiden berjalan ke arahnya.


''Raiden...'', ucap Luna lirih menatap sosok yang di nantikanya dan berkaca-kaca.


Raiden segera menghampiri Luna yang tertegun, dan langsung memeluknya erat, ''maaf aku melupakanmu''. ucapnya menyesal


''Rai, jangan tinggalkan aku, aku tidak tau harus mencarimu kemana''. Luna memeluk Raiden erat dan tak ingin melepasnya, ia terisak.


''Maaf'', Raiden merasa sangat bersalah membuat Luna cemas selama lima hari. Raiden membelai punggung Luna dengan lembut dan mengecup pundaknya yang terbuka, memeluknya erat.


Luna mendongak, setelah merasa lega, ia membingkai wajah Raiden lalu mencium bibirnya. Raiden tak bisa menolak dan membalas ciuman Luna. Raiden juga sangat merindukannya, menyukai ciuman kekasihnya, Raiden membawa Luna ke kamarnya tanpa melepas ciuman mereka yang semakin bergairah.

__ADS_1


__ADS_2