
Luna masih meringkuk di ranjang Raiden, sejak siang kemarin hingga malam, mereka menghabiskan waktu berdua di kamar, Raiden seperti tidak bosan menjelajah tubuh Luna yang kurus. Gadis itu meringkuk di bawah selimut membelakangi Raiden yang memeluknya dari samping, tangan Raiden melingkar di pinggang Luna yang ramping.
''Baby, apa kau lapar???, tanya Raiden yang sudah terbangun, ia merasa kasihan pada kekasihnya yang pasti kelelahan, Raiden mencium punggung dan leher Luna dengan lembut, membelai rambutnya. Raiden segera bangun dan berjalan ke kamar kecil untuk membersihkan diri. Raiden mencuci muka dan melihat bayangan dirinya di cermin dan teringat kata-kata ibunya seminggu lalu tentang usianya yang sudah tidak muda lagi, terbesit dalam pikirannya ingin menikahi kekasihnya Luna, tapi bayangan kegagalan pernikahannya kembali terlintas, ia juga belum bertemu dengan adik angkatnya sampai sekarang, bahkan belum menghubunginya. Beberapa menit kemudian ia keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya, ia melihat kekasih hatinya yang masih tertidur lelap di bawah selimut, ia tersenyum sendiri dengan apa yang di lakukan sejak kemarin siang hingga menjelang pagi tadi pada kekasihnya Luna.
''Kau brengsek Raiden'', ia memaki dirinya sendiri, sembari mengeringkan rambutnya yang basah.
Raiden menyiapkan sarapan dan segelas susu, lalu membawanya ke kamarnya, menaruhnya di nakas.
''Baby, bangunlah aku membuatkanmu sarapan'', ucap Raiden sembari menyesap punggung Luna yang tak bergerak, nafasnya begitu teratur, jemari Raiden menyentuh punggung Luna yang polos.
__ADS_1
''Baby, minumlah susunya dulu selagi hangat'', ucap Raiden lagi, ia kembali mencium punggung dan leher Luna, membuatnya menggeliat.
''Rai, aku lelah dan mengantuk'', lirihnya
''Bangunlah sebentar, minum susunya dan tidur kembali, aku tidak akan menganggumu'', bisiknya menggigit telinga Luna, Raiden begitu gemas dengan kekasihnya yang berusia jauh di bawah usianya, Luna baru berusia dua puluh tahun, sedang Raiden sudah berusia 29 tahun, Raiden tidak peduli dengan perbedaan usia mereka, Luna bukanlah anak-anak atau remaja lagi, dia juga tidak peduli asal-usul Luna, ia tahu Luna bukan gadis hutan, ia hanya di tinggalkan keluarganya disana yang membuatnya tidak mengerti, dia gadis yang cerdas dan cepat menyesuaikan diri dengannya.
Luna tidak menggubrisnya, ia hanya menggeliat.
Mendengar kata mommy Luna membuka matanya , berbalik memandangi wajah Raiden yang begitu tampan dan bertelanjang dada, terlihat bulu rambut di dadanya, tanganya terulur membelai wajah Raiden, ''kau punya mommy???.
__ADS_1
''Tentu saja, mommy datang seminggu lalu, dia memintaku pulang ke rumah, sampai aku tidak ingat ada kamu di apartemen'', jawabnya
''Apa kau juga punya daddy???, tanya Luna lagi
''Daddy sudah tiada'', jawabnya sedih
''Sorry'', ucapnya Luna duduk dan bersandar di ranjang, menutupi tubuhnya yang polos dengan selimut.
''It's ok'', Raiden mengambil nampan berisi roti dan susu menyodorkanya di depan Luna, makanlah sarapanmu dan aku tidak akan mengganggumu tidur, dimana kau menaruh suplemen dan vitaminya???.
__ADS_1
''Ada di nakas kamar''. jawab Luna meneguk segelas susu
''Biar aku ambilkan'', Raiden melangkah ke kamar yang di tempati Luna untuk mengambil suplemen dan vitamin yang sudah ia beli untuk Luna, saat ia membuka laci, tidak sengaja melihat foto yang sepertinya milik Luna sedang bersama keluarganya saat ia masih kecil, ia mengamati kalung yang di pakai Luna dalam foto, ia merasa seperti pernah melihatnya, tapi ia lupa dimana dan siapa pemiliknya.