
Setelah berpamitan dengan ibunya, Raiden membawa Luna ke kantor catatan pernikahan, Raiden ingin mencatatkan pernikahannya terlebih dahulu, karena butuh persiapan untuk menggelar pesta pernikahan. Luna setuju saja dengan keputusan Raiden, dia juga tidak memusingkan masalah pesta pernikahan, baginya sudah sangat bersyukur dia bisa keluar dari pulau yang mengurungnya selama ini, dan Raiden adalah penyelamat nya, mereka sudah mendapat restu dari sang mommy.
Raiden dan Luna keluar dari gedung itu dengan senyum bahagia, Raiden meminta seseorang yang kebetulan berada disana untuk mengambil foto mereka berdua, sembari menunjukan buku pernikahan mereka, lalu Raiden mengirimkan foto itu pada ibunya dan adiknya Lio, serta Niko sahabatnya sekaligus assistenya. Tentu saja itu membuat mereka kaget, dan detik berikutnya ponselnya yang masih berada di genggamannya bergetar.
"Kau menikah???, tanya Niko tanpa basa basi, ia langsung melakukan vidio call pada sahabatnya, ia kaget karena sebelumnya sahabatnya tidak pernah lagi dekat dengan wanita setelah pertunanganya yang gagal, dan sekarang tiba-tiba sudah mendaftarkan pernikahanya.
"Ya, seperti yang kau lihat", jawab Raiden sumringah
"Bagaimana bisa, siapa gadis itu???, tanya Niko lagi
"Kau tidak memberikanku ucapan selamat??, Raiden sengaja tak menjawab dan justru membuat sahabatnya itu penasaran
"Ini sungguhan???
__ADS_1
"Tentu saja, aku tidak akan datang ke kantor untuk beberapa hari, jadi ku serahkan semua pekerjaanku padamu, jangan lupa kirim laporannya padaku", ucap Raiden dan mematikan teleponya.
"Ciiihhh, sahabat macam apa kau ini, benar-benar menyebalkan", kesal Niko
Sementara di kediaman nyonya Helene, Lio sangat kaget melihat foto yang di kirimkan Raiden, baru saja dia ingin merebahkan tubuhnya kembali, dia langsung keluar dari kamarnya mencari ibu angkatnya.
"Mom!!!!, panggilnya tergesa, "mommy!!!
Lio mencari ibu angkatnya ke setiap ruangan, namun tidak nampak, dia berlari ke halaman belakang tampak nyonya Helena sedang menata bunga-bunga miliknya.
"Ada apa nak??
"Mom, lihat putramu, dia menikah". ucapnya serius
__ADS_1
Nyonya Helena mengambil ponsel dari tangan Lio dan mengamatinya. "Anak nakal ini kenapa begitu tergesa", sungutnya, namun detik kemudian dia tersenyum.
"Kakakmu sudah pantas untuk menikah, lagi pula wanita itu sepertinya baik dan menyukainya, tidak mengapa jika mencatatkan pernikahanya dulu, dan mommy akan buatkan pestanya nanti".
"Mommy merestuinya, mommy tidak tahu asal usulnya kan!!!.
" Ya kau benar, mommy tidak ingin menjadi ibu yang egois nak, dulu Raiden pernah bertunangan dan gagal menikah, jika sekarang dia menemukan wanita yang ia sukai tidak ingin bertunangan dulu dan langsung menikahinya, mommy hanya berharap anak-anak mommy hidup bahagia, begitu juga denganmu". ucapnya begitu tulus, membuat Lio diam terpaku, selama hidup bersama dengan nyonya Helena dia membentengi diri, sedikit bicara dan acuh.
"Apa kau tidak suka mereka menikah???, tanya nyonya Helena.
"Bukan seperti itu, bukankah kita baru mengenalnya tadi???. Entah kenapa ada perasaan tidak rela dalam hati Lio, akan tetapi ia juga tidak mengerti kenapa.
"Jika nanti kau menyukai seorang gadis, kau harus mengenalkanya pada mommy dan kakakmu, selama dia baik dan tulus, itu tidak masalah, hahhhh mommy jadi tidak sabar ingin memiliki cucu, dan rumah ini tidak akan sepi lagi", ucapnya lembut dan penuh harap.
__ADS_1
"Ya sudah ini sudah lewat siang kenapa mommy tidak istirahat, jangan sampai mommy kecapekan dan jatuh sakit, aku akan kembali ke kamar", ucap Lio berlalu
Nyonya Helena tertegun, ini mungkin kali pertamanya bicara sedikit banyak dengan putra angkatnya itu, dalam sehari-hari biasanya hanya satu dua patah kata yang keluar dari mulutnya. Nyonya Helena kembali tersenyum memikirkannya.