Bidadari Pengikat Hati

Bidadari Pengikat Hati
17. Perjalanan


__ADS_3

Lionel dan Pablo telah jauh sampai di tengah hutan, matahari telah tinggi menerobos ke dalam hutan, ''Pablo kita istirahat dulu aku sangat lelah'', ucap Lio yang nafasnya terengah karena harus menaiki pulau tak berpenghuni itu. ''Kau bilang paman pernah mengajakmu kesini, kenapa belum ketemu air terjunnya???.


''Itu sudah sangat lama sekali, aku sudah lupa jalan kesana'', jelasnya. ''Kenapa kau ingin melihat air terjun di pulau ini???'', tanya pablo


''Aku hanya ingin memastikan sesuatu???, jawabnya lirih


''Sesuatu apa???, kau jauh-jauh datang kesini, aku yakin jika tuan Raiden tahu dia pasti akan marah padaku''.


''Kau tidak perlu kuatir, nanti aku yang akan bicara padanya, sebaiknya kita lanjutkan lagi'', ucap Lio setelah sedikit kuat meneguk air dan memakan bekalnya.


Pablo dan Lio melanjutkan perjalanannya hingga hampir sore kedua pemuda itu baru menemukan air terjun yang ada di dalam pulau, matahari sudah mulai tenggelam. suasana juga semakin gelap, Lio menyalakan senternya, meneliti disekitar air terjun, ia masih mengingat dengan jelas air terjun itu tidak pernah berubah, kemudian ia segera bergegas mencari vila kecil milik keluarganya yang di tempatinya semasa ia kecil.


''Lio hati-hati, sudah mulai gelap jangan sampai terpeleset'', ucap Pablo


''Aku tahu, ikuti aku'', ucapnya tak sabar.

__ADS_1


Pablo mengikuti Lio yang seperti terburu, dia begitu bersemangat, hingga akhirnya Lio menemukan villa kecilnya.


Pablo tertegun, dia tidak percaya jika di dalam pulau ini ada vila tersembunyi.


''Kau lihat aku menemukannya'', ucap Lio berkaca-kaca.


''Vila siapa ini, sama sekali tidak terlihat dari luar'', tanya Pablo


''Ini vila keluargaku'', Lio segera memindahkan batu yang menutupi pintu dan segera mendorong pintunya.


''Luna.... dimana kamu... aku datang untuk menjemputmu'', Lio terduduk di tanah dan menangis terisak.


''Lio siapa Luna yang kau maksud??, kenapa kau menangis''.


''Aku dan kedua orang tuaku meninggalkan saudara perempuanku sendiri disini, aku harusnya menjaganya, dia sedang sakit'', ucap Lio sesenggukan mendekap baju-baju Luna yang sudah tidak layak lagi.

__ADS_1


''Bagamiana kau bisa datang kesini???, hampir tidak ada yang datang ke pulau ini, paman memang pernah mengajakku ke pulau ini, dan kami tidak melihat ada orang sama sekali, tapi paman bilang ia pernah melihat sosok gadis kecil di pulau ini, aku pikir itu penunggu pulau ini'', jelas Pablo


''Kau bilang paman pernah melihatnya???, tanya Lio setelah bisa menguasai perasaannya.


''Ya, harusnya kau tanya terlebih dahulu padanya, paman sudah bertahun-tahun tinggal di peternakan bahkan sebelum bertemu dengan bibi, tentu saja dia banyak tahu tentang pulau ini'', jelas Pablo.


Lio terdiam, apa yang di ucapkan Pablo ada benarnya, selama ini ia tidak pernah menceritakan kisah hidupnya, ia jarang sekali berbicara.


''Aku tidak mengerti kenapa orang tuamu meninggalkan saudaramu disini, sekarang kita istirahat dulu besok kita lanjutkan pencarian''. ucap Pablo


''Ya aku ingin mencarinya sampai ketemu, jika tidak ada orang yang membawanya keluar dari pulau ini, dia pasti masih ada disini, tapi kenapa dia tidak kembali ke vila dan menghalangi pintu dengan batu''.


''Mungkin dia keluar mencari makan, kau lihat tempat ini sangat bersih, dia pasti masih hidup''.


Lio menceritakan kisah hidupnya pada Pablo, mereka berdua berbaring melepas lelah hingga akhirnya tertidur.

__ADS_1


__ADS_2